JALAN SENDIRI: KARIMUN JAWA SERIES (episode 1)
15 tahun lalu, tempat terjauh melangkah sendiri dari rumah adalah gedung sekolah dasarku, yang memang jaraknya hanya 750 meter dari tempat tinggalku itu. Beranjak SMA, Jakarta Selatan menjadi tempat terjauh yang pernah ku jamah sendirian. Aku memang tidak terlalu suka berpergian, kalaupun suka, yang aku suka hanyalah perjalanannya bukan tempat tujuannya. Sebagai seorang pecinta kehangatan kamar dan rumah sendiri, aku benci sekali dengan kegiatan menginap dalam bentuk apapun, apalagi berkemah. Semua itu berubah semenjak aku memasuki dunia perkuliahan. Aku mulai berani untuk melakukan segala sesuatu sendiri, tinggal sendiri di kamar kosan (well, gak sendirian sih, masih ada kakakku) termasuk berteman dengan orang-orang baru dari berbagai daerah dan karakter.
Kegiatan organisasi dan tugas kuliah secara tidak langsung mengharuskanku untuk sering menginap di tempat kos temanku. Aku pun mulai menyukai kegiatan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Serunya packing dan mulai punya tips dan trick untuk packing barang bawaan pribadiku. Beberapa kali melakukan perjalanan ke luar kota untuk plesiran bersama teman-teman memicu keinginannku untuk merasakan tempat baru lainnya.
Tapi disuatu keheningan, hati ku berbisik, βApa kamu berani pergi jauh sendirian?β Pertanyaan ini yang mendobrak segala rasa takutku tentang berjalan sendiri. Aku pun mulai merencanakan untuk pergi sendiri ke suatu tempat asing. Semesta memilihkan Pulau Karimun Jawa sebagai jawaban pertanyaan tentang rasa takut itu.
Aku membutuhkan waktu sekitar 2 minggu untuk melakukan perencanaan perjalanan sendiri ke Pulau Karimun Jawa. Hal pertama yang kulakukan adalah menentukan mau mengikuti paket wisata atau tidak. Setelah menimbang baik-buruknya, aku pun memutuskan untuk memesan paket wisata di www.holidaykarimunjawa.com dengan contact person Mas Midu. Namanya muncul setelah aku mencari berbagai referensi terkait Karimun Jawa di internet.
Hal lain yang aku siapkan adalah melihat perkiraan cuaca. Transportasi dari dan menuju Pulau Karimun Jawa menggunakan kapal laut sehingga penting untuk mengetahui cuaca di sana. Tidak akan ada kapal yang berlayar jika terjadi badai, yang berarti juga tidak ada kapal yang mengantarku untuk pergi ataupun pulang nantinya. Selain itu, wisata di Karimun Jawa adalah wisata outdoor (pantai, snorkeling, dan diving) yang kenikmatannya sangat bergantung dengan alam dan cuacanya. Ditambah dengan kesenduan pantai saat senja tidak akan muncul sempurna jika cuaca mendung apalagi hujan.
Pada jumat pagi yang sangat cerah di awal Oktober 2017, kakiku menapaki Pelabuhan Kartini, Jepara, Jawa Tengah. Mas Wawan adalah sosok pertama yang aku cari. Dia merupakan bagian dari tim Mas Midu yang didapuk sebagai pemegang tiket kapal Bahari Express-ku. Kami berdua janjian berjumpa di Warung Bu Diyah Pelabuhan Kartini. Pertemuan kami tidak banyak drama. Saat aku sedang celingak-celinguk mencari sosoknya, seorang pria bertubuh tambun memanggil namaku. Aku tercengang karena dia bisa dengan tepat mengenaliku. Pertanyaan iseng muncul mengalir begitu saja dari mulutku, βKok Mas Wawan bisa kenal aku?β Dia pun berseloroh sambil memberikan tiketku, βIyalah, kan mbak yang sendirian. Ini tiketnya ya Mbak. Baru bisa antri masuk jam 08.30. Mbak Febby duduk di sini dulu aja.β
Aku pun bergabung dengannya yang sedang mengobrol dengan beberapa orang lainnya. Dalam hati masih mempertanyakan emang cuma aku sendiri yang pergi sendirian kayak gini ya? Ternyata salah satu orang dalam lingkaran teman mengobrol Mas Wawan adalah seorang pengusaha travel. Aku pun meminta nomor kontaknya untuk memesan tiket travel pulang dari Pelabuhan Kartini ke stasiun semarang.
Boarding pass kapal Bahari Express dimulai tepat pukul 08.30, beramai-ramai penumpang mengantri masuk menuju kapal besar tersebut. Ini pertama kalinya aku naik kapal laut seorang diri. Ternyata di dalam kapal hanya berisi kursi-kursi tempat duduk penumpang yang berjajar rapih. Tidak sulit mencari nomor tempat duduk, selain karena setiap kursi telah terpasang nomornya, juga karena ada petugas yang membantu mengarahkan.
Ternyata tempat duduk di dalam kapal mirip dengan tempat duduk di pesawat besar, terdapat 3 sisi, yaitu tempat duduk di sisi pinggir kiri, tengah, dan pinggir kanan. Sisi kiri dan kanan terdapat 3 baris tempat duduk, sedangkan sisi tengah terdapat 6 baris tempat duduk yang masing-masing berjejer ke belakang. Aku duduk di sisi tengah. Diantara dua orang bule yang tidak saling kenal. Aku pun mulai melempar senyum dan berkenalan dengan bule pria di sebelah kananku. Pria paruh baya berkebangsaan Belanda itu sedang berlibur bersama seorang temannya. Temannya ini juga berasal dari Belanda, tetapi sudah menetap 4 tahun di Depok, Jawa Barat. Bahasa Indonesia untuk percakapan sehari-hari sudah lumayan oke kok. Meskipun demikian, dia tetap berbicara dengan bahasa Inggris supaya temannya mengerti apa yang sedang kami obrolkan. Obrolan dengan English seadanya membuatku minim mendapatkan informasi tentang mereka. Satu hal yang aku tahu, si Bule yang sedang berkunjung ini bekerja sebagai administrator di Utrecht University dan dia juga merupakan alumni Arts Performance dari universitas tersebut. Bule satunya lagi yang sudah menetap di Indonesia tadinya bekerja sebagai perawat di Belanda. Kecintaannya untuk menetap di Indonesia dimulai ketika dia menjadi volunteer Tsunami Aceh 2004. Sejak saat itulah, setelah kembali ke Belanda, dia merencanakan untuk pensiun dini dan tinggal di Indonesia. Sayangnya aku tidak menanyakan nama mereka. Obrolan kami mengalir begitu saja. Mereka juga bersemangat mengetahui ranah kerjaku di bidang sosial.
Aku pun berkenalan dengan seorang bule wanita cantik di sebelah kiriku. Namanya Ellie. Dia berkebangsaan Jerman dan tinggal di Stutgart. Mataku langsung berbinar mendengar hal itu. Ingin rasanya mengajaknya mengobrol pakai bahasa Jerman, tapi aku maluuuu! Lagian udah lamaa banget gak belajar bicara Bahasa Jerman. Ellie sedang liburan bersama pria (yang sepertinya kekasihnya). Mereka mengambil libur 3 minggu untuk menjelajah Indonesia. Jakarta dan Yogyakarta adalah 2 kota yang telah disinggahi, sebelum akhirnya menjejakkan kaki di Karimun Jawa, dan setelahnya mereka berencana menghabiskan akhir liburan mereka di Bali.
Tiga puluh menit pertama, saat kapal mulai berlayar, aku masih asik mengobrol dengan kedua Bule Belanda itu. Ellie tertidur di samping kiriku. Beberapa saat kemudian, aku mulai merasakan pusing dan mual. Aku pun mencoba memejamkan mata. Tapi rasa itu masih mengganggu. Ellie yang terbangun dari tidurnya menyadari bahwa aku mabuk laut. Mungkin dia melihat wajah anehku karena menahan rasa mual dan pusing. Ia menawariku permen karet. Menurutnya, mengunyah permen karet saat berada di kapal laut ampuh untuk menghindari mabuk laut. Benar saja, mual dan pusingku berangsur membaik. Aku pun bisa memejamkan mata untuk meminimalisir pengaruh goncangan ombak laut. Karena katanya, mabuk saat di perjalanan, dalam hal ini adalah mabuk laut, karena ketidaksesuaian antara mata yang tidak merasakan adanya pergerakan dengan tubuh yang merasakan pergerakan dari goncangan ombak. Menutup mata, membuat hanya tubuhlah yang merasakan sensasi goncangan ombak tersebut.
Penderitaan selama 2,5 jam di kapal laut itu pun berakhir dengan belabuhnya kapalku di Pulau Karimun Jawa. Aku pun berpisah dengan keempat bule itu. Terbesit harapan untuk bertemu lagi dengan mereka saat trip di sana, terutama Ellie. Aku ingin sekali banyak berbincang dengannya. Dan mungkin nanti, aku sudah siap untuk cas-cis-cus dengan Bahasa Jerman. Mungkin.















