“Junot… stop… please, stop.” Kendati merengekkan hal itu, Noa sendiri tidak bisa berhenti. Pinggulnya terus bergerak di luar kehendaknya—mencari-cari limpahan kepuasan dari mulut lelaki yang namanya tak henti-henti dia sebut.
“Jun…” Noa mendesah untuk yang kesekian kalinya. “M-mau sampai kapan gue—shit…” Kalimat itu berakhir menggantung. Tak terselesaikan karena fokus Noa telah terenggut sepenuhnya akibat ekstasi yang kembali Junot berikan. Lidah laki-laki tak waras itu bukan hanya pandai untuk berucap, tapi juga lihai digunakan untuk hal-hal lainnya.
Tubuh Noa rasanya sudah lemas tak karuan, tapi anehnya dia tidak bisa berhenti. Dia mau lagi, lagi, dan lagi. Sama halnya dengan Junot yang nampak masih jauh dari kata puas. Berani taruhan, laki-laki itu bahkan tidak mendengar semua racauan Noa karena terlalu asik dengan kegiatannya sendiri. He’s too pussy drunk to listen.
Jikalau esok adalah hari kiamat, Noa tidak tahu harus merasa berdosa atau berbahagia karena telah mendatangi surganya sendiri berkali-kali. Isi kepalanya terlalu kacau untuk memikirkan itu. Sama kacaunya dengan keadaan tubuhnya di bawah sana. Kewanitaannya basah sejadi-jadinya—oleh cairan cinta yang dilepaskannya berkali-kali, serta liur milik Junot.
“J-jun,” Noa merengek lagi. Kali ini, dia berhasil mengumpulkan tenaga untuk merenggut rambut Junot dan menarik kepalanya menjauh. Junot berusaha melawan dan mengejar kembali adiksinya. Namun Noa kembali mengerahkan tenaga untuk sejenak menghentikan laki-laki itu.
Junot mengerang pelan, sementara Noa merasa klitorisnya yang telah bengkak itu berkedut pelan akibat terlalu lama dikerjai—merasa hampa pula karena ternyata merindukan mulut Junot.
Remasan kuat Junot pada paha dalamnya membuat Noa melenguh. “Do you really want me to stop?” tanyanya rendah.
Tentu saja Noa ingin menggeleng. Siapa yang mau berhenti saat sedang berada di puncak libido? Tapi dia tidak mungkin menjadi satu-satunya pihak yang terus-menerus dipuaskan.
“I can… make you feel good, too,” ucapnya, setengah ragu dan berdebar-debar. “Let me touch you.”
Junot yang semula terlihat jengkel karena keasikannya diusik lantas menyeringai. “You want to touch me?” ulangnya memastikan dan segera Noa jawab dengan anggukan. “Gimana?”
“Huh?”
“Gimana caranya lo bikin gue enak?”
Meski wajahnya terasa panas luar biasa, rasa malu itu telah Noa tinggalkan sejak lama. Tepatnya saat dia kembali pasrah menjadikan dirinya sebagai korban Junot.
Remasan pada pahanya berubah menjadi pijatan-pijatan lembut. Noa melepaskan desahan lain, serta mengentakkan pinggulnya saat ibu jari Junot memutari liang kenikmatannya. Oh, Noa sangat berharap Junot memasukkannya, bukan hanya terus-terusan mengerjainya dari luar dan membuatnya menggila.
“Kalau gak punya jawaban, bisa jangan ganggu gue lagi?” ucap Junot lagi, seolah-olah hal yang dilakukannya tidak akan melibatkan Noa. “Pussy tastes good you’re gonna make me addicted.”
“Seems like you already are.”
“Yeah,” balas Junot sembari terkekeh dan menyapukan lidah kurang ajarnya itu lagi pada kewanitaan Noa.
“Mouth!” seru Noa refleks kala tubuhnya kembali disengat oleh ekstasi. “Wanna taste you too.”
Junot mendenguskan tawanya lagi. “Wanna suck my cock?” ulangnya, memperjelas maksud Noa.
God, she really hates this guy. Namun Noa tetap mengangguk-angguk dengan cepat.
Untuk sesaat, Junot nampak mempertimbangkan hal itu. Tapi tak butuh waktu lama, dia pun akhirnya bangkit dan menarik Noa agar duduk di hadapannya.
“Go ahead, then,” ucap Junot sembari menuding ke arah kejantanannya yang telah mengeras di balik brief-nya. Sikap pongahnya itu sungguh merendahkan Noa, tetapi tubuh Noa jelas bereaksi lain karena diam-diam merasa bersemangat.
Junot kini menumpu bebannya pada kedua telapak tangan di atas permukaan tempat tidur. Masih dengan senyuman miring menyebalkan itu, dia berucap tak sabar, “Nunggu apa lagi? Come on, let’s see how good you are as my cocksleeve.”
Noa benar-benar membenci laki-laki sialan ini.







