Fifty Years of Silence, Jan Ruff O-Hernè
Bunga tak selamanya indah. Bagi Jan bunga adalah luka dan trauma. Bagi kita, bunga ungkapan rasa cinta dan sayang. Namun tidak bagi Jan. Baginya, bunga hal yang dibenci.
3 tahun Jepang menduduki Hindia Timur Belanda. Jan, gadis Eropa, terjebak di dalamnya, berasama Ibu dan Saudaranya menjadi tawanan Jepang. Sementara sang Ayah menjadi tawanan yang dibuang, dipisahkan, ke Pakan Baru, menjadi romusha.
3 bulan Jane mengalami kekelaman dan perkosaan. Dipaksa melayani nafsu birahi para perwira setiap hari di rumah bordil bernama rumah tujuh samudera. Sebuah rumah bordil yang elit, hanya untuk.para perwira dan atasan. Jan dan teman lainnya dibungkam untuk tidak bercerita kepada siapa pun soal rumah tujuh samudera.
Bunga menjadi penanda yang dilekatkan pada Jan dan teman lainnya oleh tentara sebagai "perempuan penghibur" yang dipakasa melayani nafsu para tentara.
"Perempuan Penghibur", perbudakan seksual, kekerasan fisik dan psikis kerap dialaminya. Pengguguran secara paksa dan terencana adalalah rentetan kesadisan lainnya yang dialami Jan.
Bahkan, seorang dokter Jepang, yang tadinya dianggap Jan akan menyelamatkannya dengan melulihkan kesehatannya, malah memperkosanya, di rumah bordil itu.
Butuh 15 tahun bagi Jan untuk menyuarakan bahwa perkosaan dan perbudakan seks di masa perang apapun adalah kejahatan perang.
Sebuah true story, pengalaman nyata dari seorang Jan Ruff -O'Hernè, diungkapkan lewat kisah dengan penuh emosional, haru, dan tentunya sangat berani.









