Puncak ilmu ialah ketakutan kepada Allah
Menapaki jalan ilmu, apapun itu, hendaknya ia membawa pada kesadaran penuh posisi dirinya terhadap Sang Pencipta.
Bila belajar, justru membuat diri semakin besar, bangga, jumawa, ia tak membawa dirinya kemana-mana.
Seperti kata Imam Syafi'i, bila bertambah ilmunya, justru semakin menyadari betapa bodohnya diri.
Seperti Ustadz Ja'far ketika membahas tafsir tentang huruf muqotho'ah, huruf-huruf hijaiyah yang mengawali surat, seperti qoof, nuun, lainnya. "Hanya Allah yang mengetahui tafsirannya." Siapa manusia? Bahkan hanya satu huruf pun, tak diketahui maknanya ia. Lantas apa yang hendak dibangga?
Ilmu membawa kesadaran bahwa memang manusia fakir dan Allah yang Maha Kaya, akan ilmu salah satunya. Ilmu tentang apapun.
Sebagai salah satu contohnya, ilmu filsafat. Filsafat sering dianggap selalu berbenturan dengan agama. Tapi, filsafatlah yang membawa Ar Razi pada pemahaman mendalam mengenai Al-Qur'an, penafsiran dengan akal (tafsir bir ra'yi), dan dituangkannya dalam sebuah kitab Mafaatihul Ghaib yang mendunia hingga kini. Tafsir yang sangat cocok, menurut ustadz Budi Ashari, untuk masyarakat zaman sekarang yang "mendewakan" akal. Tafsir yang takkan membuat diri jauh dari Allah dan apa yang diturunkannya, justru sebaliknya. Membuat pemahaman dan kesadaran lebih jauh tentang hakikat Pencipta dan penciptaan.
Sekali lagi. Ilmu tentang apapun.
Lalu, setelah deskripsi tentang ilmu tadi, apa hubungannya kini dengan rasa takut?
Diungkap dalam ayat Al-qur'an:
( إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ )
“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para 'Ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Surat Faathir: 28)
Hanya orang-orang yang mempunyai rasa takut itulah yang dikatakan 'ulama, orang-orang yang mempunyai ilmu. Tidak dikatakan 'ulama kecuali rasa ketakutannya kepada Allah. Ilmulah yang membawa pada rasa takut kepada Allah. Bukan yang lain.
Lantas, mari evaluasi kembali ilmu-ilmu kita, kemanakah ia membawa? Merambatkah rasa takut pada-Nya dalam jiwa? Berpuluh tahun ditekuni dari TK hingga S3, sudahkah ia menggapai puncaknya?













