Tentang Berseru
*Resume dari kajian : https://www.youtube.com/watch?v=YsCAODsbZ2o&app=desktop
Mari kita buka dengan ayat Al-quran yang mengajak kita untuk berseru.
See Q. S An-nahl: 125
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Kata “Serulah” disini berarti mengajak atau mengundang. Mengundang seseorang adalah bentuk persahabatan, kebaikan dan kecintaan. Bener ga sih? Bener kan, kamu ga mungkin undang orang-orang tertentu yang kamu rasa ga dekat, ga baik sama kamu dan kamu sendiri ga pengen berbagi yang seru dengan dia. Terus kamu juga pasti undang dia dengan cara yang baik.
Berikutnya, coba liat bentuk ayatnya ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ ajaklah kepada jalan Tuhanmu. Berarti fokus dari apa yang kita serukan itu bukan sampai dimana tapi harus lewat mana. Yaitu kita serukan dia untuk melewati jalan yang Allah mau. Lewati aja dulu jalannya. Dalam perjalan, ada yang berjalan sangat cepat, sangat lambat, telat mulai perjalanannya atau bahkan mungkin baru jalan dikit dia stuck. It’s okay… See surat Al-Fatihah -> ihdinas shirotol mustaqim ( “Tunjukan jalan yang lurus”), intinya kita memang selalu minta petunjuk ada di jalan yang benar.
Fokusnya, jalan di mana. Jalannya Allah means Jalan yang benar, jalan yang benar artinya jalannya Allah.
Tapi, tanpa kita sadari, saat kita mengajak orang lain, kita melakukan hal ini:
Kita terlalu fokus pada tujuan orang yang kita ajak, bukan ke jalan mana yang harus dia lewati.
Memaksakan mereka sebelum beramal harus paham A,B,C,D yang akhirnya bikin mereka merasa terbebani dulu sebelum mulai beramal.
Remember kisah Pemuda al-Kahfi, mereka adalah pemuda-pemuda yang hidup bukan di zaman Nabi, mereka hidup setelah nabi Isa dan 120 tahun sebelum Rasulullah. Mereka bukan scholars, they know nothing about Ilm but only believing Allah as their god.
Kita nih yang kadang-kadang mempersulit orang lain buat mendekat ke Jalan nya Allah. Padahal yang penting mereka kenal dulu, siapa tuhannya. Lalu biarkan dia memulai perjalanannya, tugas kita apa? Kenalin Allah dengan benar agar mereka dapat masuk ke jalan yang benar. Jalannya siapa? Jalannya Allah.
3. Kita kerap menyampaikan “Only the best people who deserve to go Jannah. You? Take a look at the mirror”. Padahal Allah sebutkan di Q.S. Al-hadiid : 21
سَابِقُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.
Dari ayat tersebut, Allah memberikan optimisme yang kuat bagi orang beriman, surga yang luas.
Lalu Allah pun menjelaskan tentang orang yang masuk neraka, who are they?
لَا يَصْلَىٰهَآ إِلَّا ٱلْأَشْقَى
Arti: Tidak ada yang masuk ke dalamnya (neraka) kecuali orang yang paling celaka
Jadi, Allah menggambarkan kesempatan masuk syurga begitu besar sedangkan probabiltas neraka dinilai begitu kecil.
Dua hal yang harus kita fokuskan.
1. Jangan mudah judging halal dan haram atas sesuatu
وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.
2. Pure and sincere no matter it towards to other. Contohnya mengucap salam, salam adalah bentuk cinta yang bila diucapkan, baik lisan dan hatinya mengharapkan kebaikan buat orang yang menerima salam. Jadi, kalau kita mau mengharapkan kebaikan pada orang lain, kita harus menyelaraskan apa yang kita ucap dengan intention di dalam hati kita.
We have to restore the sincerity to the book of Allah, sincerity to the words of Prophet Rasulullah SAW. In the way we think about Allah and in the way we help people think about Allah.
Di akhir kajian, ustadz Nouman menutup dengan doa yang begitu indah.
“May Allah help all of us shoulder this responsibility and make the next generation a model for hope and returning back to the deen of Allah in the spirit that it should be.“
Semoga Allah tuntun kita untuk bisa terus ada di Jalan yang benar dan menjadi media yang menunjukan kepada orang lain untuk kembali dan terus kembali di Jalannya Allah. aamiin. <3
















