“Kaki ki kuku ku kaki alas las kaki du pak du pak, kaki!”, senandung seorang bocah. Bocah yang selalu senang, ketika hendak berjalan keluar bersama Neneknya dan lagu yang sama selalu terucap tanpa pernah ragu akan hujan ataupun terik matahari. Katanya pada neneknya,”Eyang uti, eyang, siap – siap ya, kita ditunggu sama pasar! Kaki ki kuku ku kaki alas las kaki du pak du pak, kaki!”
Aku mendengarnya persis setiap pagi, ketika hendak berangkat kerja.
Saya tak tahu apa maknanya, namun kicauan ini memberikan kebahagiaan pagi. Rasanya seperti mendengar suara Ibu yang membangunkan pagi, atau harum segelas kopi Gayo sembari menghisap sebatang udut (rokok).
Bukan seorang religius atau pun penganut sekte, tapi saya mulai percaya Pagi adalah kebahagiaan. Ia mengusir keraguan malam dengan kokok ayam sembari menghantar Surya masuk ke bhineka. Pula ditengah – tengah keraguan untuk memilih makan apa hari ini, baju yang saya gunakan, dan gaya rambut, bocah tersebut menghilangkan semua itu dengan suara kecilnya.
Sederhana. Inilah kata pertama saya dalam menyambut pagi dan sebagai pemanis hari, saya sematkan sebuah kata, ”Luar Biasa.”
Tak pernah memilih dan silih asih. Selalu datang dan tak pernah berganti. Mungkin tak serta merta membawa pembaruan, atau kebahagiaan, namun Ia sungguh sederhana. Rasanya ungkapan,”Bahagia itu sederhana”, ini nyata dan mungkin juga bisa menjadi, “Sederhana itu bahagia.”
Entah sejak kapan saya menyadari senandung kecil tersebut. Mungkin juga saya tidak menyadari bahwa Pagi membawa kebahagiaan dan kebahagiaan menjadi nyata dalam kesederhanaan.