Selepas kepergiannya
Cinta, cinta, dan cinta.
Setiap orang pasti memiliki rasa cinta, berhak mencintai dan berhak pula dicintai.
Cinta banyak jenisnya. Cinta terhadap keluarga, cinta terhadap negara, teman, dan cinta kepada pasangan.
Cinta juga bermacam-macam rasanya. Ada kalanya cinta membahagiakan orang yang merasakannya, tetapi ada saatnya juga cinta yang menyakitkan.
Patah hati karena cinta? Tentu ada, bahkan banyak.
Bahagia karena cinta? Banyak pula orang yang bisa menemukan cinta sejatinya.
Tak selamanya cinta itu bersifat menyenangkan.
Sama seperti kehidupan, cinta pun berputar seperti roda.
Saat cinta berada di atas, dia begitu menyejukkan hati. Tetapi saat cinta berada di bawah, dia dapat menusuk perasaan setiap orang yang sedang merasakannya.
Sebagai manusia biasa, saya juga pernah merasakan hal-hal itu.
Kepergian orang yang dicintai adalah resiko yang tak bisa dihindari dari cinta.
Entah itu oleh maut yang memisahkan, atau oleh orang lain yang merebutnya. Keduanya merupakan hal yang sama, ya sama-sama skenario dari Allah.
Saya pernah merasakan rasanya kepergian itu.
Saya bagaikan hilang arah selepas kepergiannya.
Macam-macam perasaan saya saat itu.
Sedih dan rindu itu pasti, karena itu artinya saya tak bisa melihatnya lagi.
Saya selalu berucap ridha, tetapi kadang saya rasa tak ridha sebenarnya, saya hanya pasrah.
Hingga kemudian saya membaca tausiah-tausiah Islam tentang jodoh.
Dari situlah, saya merasa bahwa ada aura semangat yang muncul dalam diri saya.
Dari tausiah-tausiah itu, saya mulai memahami arti kepergian seseorang dalam Islam.
Saya mulai menyemangati diri saya untuk menjadi lebih baik.
Terpuruk dalam kesedihan ditinggalkan dia bukanlah akhir dari segalanya. Saya masih harus tetap melangkah melanjutkan hidup.
Setelah kepergiannya, saya mencoba berfikir positif, mungkin Allah mempertemukan saya dengan dia hanya untuk membuat saya berubah menjadi lebih baik.
Selepas dari kepergiannya, saya mencoba terus memperbaiki diri, dan menjaga yang semestinya saya jaga.
Kepergiannya mengajarkan saya tentang makna perpisahan, dan makna cinta yang ikhlas melepaskan.
Awalnya memang menyakitkan, tapi tak apa, ada hikmah yang saya rasakan setelah itu semua.
Dari kejadian ini, saya belajar arti ridha dengan ketentuan Allah.
Meski terkadang rasa rindu menggoyahkan hati, tapi saya hanya bisa membiarkan pena menulis rasa hati di setiap lembar kertas.
Saya tidak pernah tau apa yang akan terjadi setelah ini.
Dua tahun berlalu selepas kepergiannya, membuat saya menjadi lebih baik. Melindungi diri ini dari perbuatan yang mendekati zina.
Berpisah dengan dirinya membuat saya lebih banyak meluangkan waktu untuk keluarga dan hobi saya.
Kepergiannya juga membuat saya lebih fokus beribadah kepada-Nya.
Dari kejadian ini, saya berprinsip, Insya Allah tidak ingin berpacaran lagi.
Ada memang perasaan rindu ingin diperhatikan lawan jenis.
Melihat kawan-kawan yang berpacaran, terkadang muncul rasa ingin juga seperti itu.
Tapi saya sadar, sesungguhnya dalam Islam pun tiada mengenal istilah pacaran.
Saat ini, saya hanya fokus untuk lebih memperbaiki diri menjadi orang baik.
Saya memahami bahwa jodoh adalah cerminan diri sendiri.
Jodoh adalah bagaimana memantaskan diri sendiri menjadi yang orang baik, agar kelak disandingkan dengan yang terbaik, dan di waktu yang terbaik pula menurut-Nya.
Saya hanya wanita biasa, masih bergelimpang dosa yang banyak, dan jauh dari kata wanita sholehah.
Saya masih dalam proses belajar. Ya, belajar untuk menjadi pribadi lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
Kalian (lelaki) boleh mencintai dan menyayangi saya, tapi saya pun berhak menghindarinya jika tujuan kalian hanya untuk berpacaran.
Saya punya hak untuk menjaga yang semestinya saya jaga menurut ketentuan-Nya, Insya Allah, aamiin.
Akhir kata, sekian tulisan saya kali ini.
Saya mengucapkan terima kasih banyak bagi yang berkenan membacanya hingga selesai.
Mohon maaf apabila tulisan ini terkesan menggurui. Tulisan ini dibuat bukan untuk menyindir pihak manapun, bukan juga untuk terlihat sok sempurna. Saya menulis untuk berbagi pengalaman saja, dan sekaligus menyalurkan hobi.
Terima kasih.
Sebagai penutup, saya selalu suka dengan salah satu kutipan berikut ini:
“Jadi sebenarnya, kehilanganmu tidak apa. Aku akan sakit sementara. Tetapi selama aku tidak pernah kehilangan hati dan pikiranku sendiri, aku rasa aku akan baik-baik saja. Karena sebelum ada kamu pun, aku bahagia. Jadi sudah dipastikan kebahagiaanku bukan tergantung hanya padamu.
Tapi aku berpikir, alangkah lucunya realita hidup ini. Dahulu saat kita bertemu, kita saling tersenyum, menyapa, lalu berbicara berjam-jam, bercanda dan kemudian tertawa bersama. Dahulu kita sangat dekat, aku tahu semua tentang kamu, dan kamu tau semua tentangku. Namun sekarang, kita bertemu bertingkah seperti orang asing, bertingkah selayaknya kita tidak pernah mengenal satu sama lain, bertingkah seperti aku tidak mengetahui tentang kamu, dan bertingkah seolah kita tidak pernah berbicara.”












