HIDUP BEBAS DI BUMI
Basically, lo ... iya lo ... hey manusia, mana ada yang mau diatur?
Mungkin, kalo dibolehin mah lebih baik hidup aja sebebas-bebasnya, toh banyak hal kan yang enak-enak dan asik-asik di bumi ini yang belum pernah dicicipin,
iya enggak nih? hmmm.
Cuma ... aturan hidup dibumi kan enggak gitu ceritanya. Harus bisa ikutin aturan Yang Buat buminya, lah lo siapa? buminya kan bukan punya lo.
Kalo lo numpang tidur, bahkan tinggal di rumah orang utk beberapa waktu, orang yang punya rumah punya aturan dimana lo harus tidur, jam berapa lo musti bangun, jam berapa sarapan, make sendok mana, harus kaya gimana, everything might be ruled by the owner. Kadang jengkel juga kalo yang punya rumah banyak aturan, rasanya mending tidur atau tinggal ditempat lain. Tapi, lo tau itu adalah satu-satunya tempat dimana lo diizinkan untuk tinggal dan tidur dalam waktu beberapa hari.
Alesan yang punya rumah bikin aturan sebenernya simple sih, biar tetap kondusif aja itu rumah dan isinya. Orang dia kok yang punya rumah itu, dia yang sejak awal bikin itu rumah dan paham sama sikonnya, jadi dia tau dan paham bgt harus diperlakukan kaya gimana itu rumah. Biar tetap kondusif, rapi, adem dan nyaman buat semua penghuninya.
Alhasil yaudah, sepait apapun yg akan lo lalui selama lo tinggal disitu, you know that it all has to be obeyed. Karena, gimanapun lo akan berusaha tau diri dan berterimakasih udah dikasih tempat tinggal meskipun sementara, sampe lo nemu tempat tinggal lain yang bisa lo singgahi dalam jangka waktu yang lama dan membuat lo (mungkin) lebih nyaman, tergantung lo saat ini mau milih tempat tinggal yang model gimana.
Pun saat lo tinggal di bumi. Punya bumi aja enggak, masa mau hidup suka-suka lo? Yang Buat Bumi itu adalah yang paling paham harus diperlakukan kaya gimana itu bumi, biar tetap kondusif, nyaman dan bermanfaat buat semua penghuninya. Makanya Dia pun buat aturan tata cara hidup dan tinggal di bumi yang baik dan benar.
Lo tinggal di rumah orang meskipun banyak aturan yang harus lo patuhi, bisa dengan gampangnya lo ikuti cuma dengan inget bahwa lo harus tau diri dan harus berterimakasih karena orang itu udah izinin lo tinggal dan menetap di rumahnya untuk sementara waktu. Tapi, kalo sama Yang Buat bumi, kenapa susah amat lo inget terimakasih?
Padahal lo udah dikasih kesempatan napas dan hidup sampai hari ini, yang ternyata kesempatan itu pun sementara sampe akhirnya lo ketemu sama ajal dan lo akan menemukan tempat sesungguhnya dimana lo akan dikasih napas (lagi) untuk hidup (lagi), yang entah bisa jadi nyaman atau pun enggak, yang semuanya juga tergantung lo saat ini, mau hidup model kaya gimana setelah mati.
Ini catatan, bukan buat lo doang, buat gue juga,
alias,
buat kita.












