Hendro Siswanggono bukanlah orang baru dalam perpuisian Indonesia. Ia sudah menulis puisi sejak akhir tahun 60-an dan aktif mempublikasikannya di berbagai media sastra di masa itu dan tak pernah putus hingga sekarang. Sebagai seorang dokter barangkali Hendro melupakan publikasi karya sebagai ruang galeri dan eksistensi kepenyairannya. Sebagai seseorang yang bekerja di bidang yang berbeda jauh dari kesasteraan puisi-puisinya tetaplah puisi yang indah, dengan diksi-diksi yang indah, dan tetaplah orang yang berhasil menghadirkan suasana dan visual yang indah. Puisi-puisinya tidak terjebak pada pesan, dan hal-hal verbal. Dalam puisinya kita menemukan kesepian, kegamangan, kecemasan, berpadu dengan getir, manis sekaligus filosofis. Buku puisi ini juga disertai dengan sejumlah drawing karya @syskalaveggie --- "Pencapaian puitika Hendro (yang juga seorang dokter spesialis Radiologi di Sidoarjo), di antaranya dapat dilihat pada puisi "Kuburan Kakek": Memperlihatkan kompleksitas alur: dua generasi (kakek dan cucu) dalam menghadapi kematian dengan kuburan sebagai batas dengan kehidupan. (@malna.a) Hendro Siswanggono, Pelarian Burung-burung Sriti, Puisi, Yogyakarta, Penerbit JBS, Juli 2022, 142 hlm, 60.000 #HendroSiswanggono #PelarianBurungBurungSriti #KumpulanPuisi #Bukupuisi #PenerbitJBS https://www.instagram.com/p/Ci_V6hRhTqd/?igshid=NGJjMDIxMWI=














