Let me start this post with a scream; "I DON'T WANT TO BE A ZOMBIE!!!" Yaps, dengan tensi rendah 70/60, muntaber yang nggak brenti, dan efeknya yaitu badan lemas, mau nggak mau saya harus diam di tempat tidur. Heck, putra saya sudah dirawat karena penyakit yang sama (kecuali tensi), dan bapaknya bertekad untuk tidak menyusul jejak. Hospital is, for me, like a nightmare (kecuali suster-susternya, ya! *wink*).
 Enough rumbling. Sesuai judulnya, saya mau mengulas buku yang berhasil menjadikan badan ini not-so-zombie-like selama sakit. Siapapun kalian yang suka Twitter, wajib baca yang satu ini!!!
Judul buku: Hatching Twitter: A True Story of Money, Power, Friendship, and Betrayal
Pengarang: Nick Bilton
Apa yang akan teman-teman lakukan ketika seseorang menyodori buku biografi orang terkenal seperti Alexander Graham Bell atau Thomas Edison? Bagaimana pula reaksi teman-teman jika disuguhkan buku sejarah perusahaan tersohor sekaliber Microsoft atau Apple? "Non-fiksi, formal, kaku, membosankan." Itu barangkali pendapat sebagian besar dari kita. Tapi, saat membaca buku Hatching Twitter, saya jamin banyak juga yang bakal bilang, "Wah nih buku beda banget!"
"Wow, buku ini seperti novel!" Itulah komentar saya saat membaca buku yang kalau judulnya diterjemahkan ke bahasa Indonesia kira-kira artinya "Menetaskan Twitter: Kisah nyata tentang uang, kekuatan, persahabatan, dan pengkhianatan." Nah, mungkin sudah bisa ditebak seperti apa kandungan buku ini.
Hatching Twitter mengungkap perjalanan Twitter sebagai salah satu jejaring sosial terpopuler di dunia. Evan Williams, Jack Dorsey, Noah Glass dan Christopher Stone adalah pendiri Twitter yang bakal jadi tokoh utama dalam buku ini. Empat orang inilah yang telah menetaskan Twitter dan membesarkannya hingga seperti sekarang.
OK, saya yakin teman-teman sudah tak asing lagi dengan buku-buku semacam ini. Maksudnya, bagaimana rangka naskah dan konten buku disajikan. Nah, saatnya saya menyampaikan apa yang beda dari buku ini.
Kalau sebelumnya saya bilang bahwa Hatching Twitter itu seperti novel, memang demikian adanya. Buku ini tidak memuat runut perjalanan Twitter dalam bentuk karya ilmiyah. Nick bilton lebih memilih gaya penulisan ala novel dengan memainkan tokoh-tokoh di dalamnya layaknya sebuah cerita.
Coba nih, apakah teman-teman pernah menemukan kalimat semacam ini pada buku serupa?
"Jack tak kuasa lagi menahan gejolak emosinya. Ia terduduk lemas di trotoar, kepalanya tertunduk lesu, dan ia pun menangis tersedu-sedu."
Saya tidak sertakan contoh lain agar resensi ini lebih singkat dan padat. Intinya, dari 4 tokoh utama di atas, penulis lebih menekankan sisi humanisme dan pribadi mereka masing-masing. Bagaimana persahabatan mengikat mereka dalam sebuah visi misi, lalu datanglah tawaran menggiurkan dari uang dan kekuasaan, hingga akhirnya pengkhianatan melerai jaring-jaring kekompakan yang telah mereka bina.
Selain nuansa novel yang jadi ciri khas Hatching Twitter, saya juga menemukan beberapa fakta menarik seputar Twitter.
- Ternyata keempat tokoh di atas datang dari keluarga susah dan ekonominya pas-pasan.
- Yang membuat Twitter laku keras pertama kalinya adalah karena gempa bumi.
- Kantor Twitter sering mati lampu dan server mereka sering overload (bikin panik seisi kantor)
- Keuntungan Twitter dari tahun 2007 hingga 2009, meskipun perusahaannya dihargai lebih dari 500 juta dolar, adalah 0 BESAR!
Di samping itu, masih banyak hal mengejutkan yang bikin saya larut seharian membaca Hatching Twitter. Sekali lagi, untuk alasan efisiensi, saya sengaja menyingkat resensi ini.
Saya tidak tahu apakah buku ini sudah ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia atau belum. Tapi saya sangat menyarankan pada penerbit untuk melisensi dan menterjemahkan buku ini.
Skor dari saya? 8,5 / 10!