30 hari sudah, sejak pertama kali aku memutuskan untuk menulis. Perjalanan menyembuhkan diri, katanya. Hanya bermodalkan keinginan untuk sembuh, kuberanikan diri untuk mulai menulis .. pokoknya menulis aja .. tulis apapun yang hati sedang rasakan. Sebenarnya keputusan untuk mulai menulis ini lumayan panjang perjalanannya, dimulai dari melihat seorang kawan yang juga menulis, lalu membaca buku dan menemukan quotes “ Menulis adalah salah satu cara menyembuhkan hati yang sedang luka “. Ternyata quotes itu benar, sedikit banyaknya patah hati ini mulai tak berasa lagi tapi kurasa menulis bukanlah faktor tunggal yang menyembuhkan hati ini, ada sahabat-sahabat, hobby yang aku lakukan juga tak lupa game yang selalu saya mainkan. Haha.
Aku tak pernah lupa bagaimana tingkah laku ku saat hari-hari pertama aku mulai menulis, saat hati rasanya sedang sakit-sakitnya. Aku seperti orang gila, kata salah seorang kawanku. Ku habiskan banyak waktu sendirian, hanya diam merenung tanpa tujuan yang jelas.
Aku pergi ke tempat-tempat sepi dimana hanya ada sedikit orang. Hari pertama, aku pergi ke kolam di depan Villa Isola. Entahlah .. pokoknya tiba-tiba ingin kesana aja. Setelah solat dzuhur di Masjid Al-Furqon aku duduk di bangku-bangku pinggiran kolam. Kulihat hanya ada beberapa orang disana, ada yang sedang membaca buku, ada yang sedang galau seperti diriku dan ada yang sedang bucin di bangku sebelah. Sial, mana mesra banget lagi pake acara tertawa karena si cowo melempar lelucon pada si cewe. Aku? Aku hanya duduk dan melihat soang-soang di sebrang kolam saling bersahutan kesana kemari dan tertawa~ Ngoahahaha. Sepertinya aku akan merekomendasikan balong depan Villa Isola sebagai tempat untuk merenungi hidup-hidup anda yang seperti sampah itu. Ngoahahaha canda. Di sana begitu tenang, banyak pohon-pohon besar juga suara air mengalir. Menenangkan banget .. udara bersih, pemandangan menyejukkan mata dan sesekali diselingi suara kendaraan-kendaraan yang lewat di Jalan Setiabudhi. Fix tempat itu adalah salah satu tempat meng-galau terbaik di Kota Bandung. Tempat itu menjadi saksi bahwa pernah ada seorang lelaki berbadan bongsor yang hati dan jiwanya terkoyak hanya karena putus cinta~ Whwhwhwhwh. Huft .. tanpa sadar aku sudah duduk dan merenung di sana cukup lama, sekitar 3 jam hingga adzan ashar membangunkan lamunanku. Aku pun pergi dari tempat itu lalu merenung dan berpikir .. ternyata memang tak aneh banyak orang yang depresi karena putus cinta karena aku pun merasakannya dan pedih banget cuy, cukup ngamau lagi~ Hahahaha.
Hari kedua, masih dalam keadaan hati yang berkabung. Lagi-lagi entah kesambet apa pokoknya tingkah laku ku jadi random aja, di hari itu aku harus pergi ke fakultas untuk meminta surat keterangan aktif kuliah. Setelah urusan di fakultas selesai, aku hendak pulang ke kontrakan melewati gedung FPMIPA B. Tiba-tiba terdengar suara anak-anak tertawa dan berteriak memanggil temannya. Aku mencari sumber suaranya, eh ternyata mereka ada di lantai 9 Gedung FIP baru. “ Wah, kayanya seru juga ke puncak sana “ ucapku dalam hati. Tanpa berpikir panjang aku langsung masuk ke Gedung tersebut melewati pintu belakang. Aku kesulitan untuk mencari Lift di sana, jadi aku memutuskan untuk naik dengan tangga. Iya dengan tangga. Rasanya duh kaya ngerjain skripsi alias ga beres-beres itu aku naik whwhwh. Setelah sampai disana, aku menjadi kurus aku menghela nafas panjang karena kelelahan. Aku susuri setiap jengkal lantai teratas di gedung tersebut. Lalu aku pergi ke tembok pembatas yang menghadap ke depan Gedung FPMIPA B. Kuhelakan nafas panjang sambil melihat pemandangan dari atas sana. Momen di hari itu begitu menenangkan hati, sepertinya sudah terlalu lama aku tak berbicara dengan diriku sendiri. Aku seperti iklan C1000 .. Healty Outside Broken Inside~ fufufufufu. Lagi-lagi aku melamun disana cukup lama, suasananya memang begitu membuatku terlena dalam lamunanku. Hembusan angin yang cukup kencang, pemandangan Kota Bandung, melihat orang-orang yang sedang berjalan juga diselingi oleh anak SD yang sedang berlari mengejar temannya. Tiba-tiba seseorang membangunkan lamunanku
“ HEEEEHHH ICAAAD JANGAN BUNUH DIRI “
“ ASTAGFIRULLAH NAON SIIIIH ULFA MENI SOAK IH UNTUNG TEU REFLEK NGAJLENG “
Aku bertemu Ulfa disana, kawan KKN-ku. Tanpa ragu dia langsung menanyakan sesuatu kepadaku.
Hate to See My Heart Break
Patah hati kali ini banyak memberikanku pelajaran. Rasanya ucapan syukur tak ada cukupnya untuk pelajaran yang Dia berikan kepadaku. Lewat patah hati ini, aku belajar tentang banyak hal .. termasuk hal-hal yang kalau sekarang-sekarang aku ingat akan membuat sensasi bulu bergidik tanda kegelian di tubuhku. Ah, aku begitu mengingatnya dengan jelas. Emosi yang meledak-ledak, galau macam orang depresi juga dendam kesumat yang membuat tubuh ingin meledak. Haha lucu, dulu aku menganggap semua adalah hal yang penting .. aku seperti orang yang paling tersakiti di dunia ini. Aku menjadi benci tentang segala hal yang berhubungan dengannya, aku menyesal .. benar-benar menyesal dengan takdir-ku. Hingga terucap kata “ Saya benar-benar menyesal pernah mengenal anda “. Deg. Sial, akhirnya kalimat itu keluar dari kepala panasku saat itu. Kalimat yang pada akhirnya aku sesali juga karena keluar dari mulut ini. Haha. Life is a bad jokes.
Meski aku mendapatkan banyak pelajaran berharga setelah kejadian itu tapi jujur .. aku tak pernah mau merasakan lagi hal itu. I hate to see my heart break. Aku tak suka melihat aku yang marah-marah dan menyimpan dendam. Tidak .. tidak .. kalau harus memilih, aku tak akan pernah mau merasakan hal itu lagi. Cukup. Sekali aja.
Berbicara tentang rasa sakit sepertinya kita tak bisa membanding-bandingkan rasa sakit kita dengan yang orang lain rasakan, karena seperti bait yang dinyanyikan oleh Paramore.
There is not a single word in the whole world that could describe the hurt~
Yups, semua rasa sakit tak bisa dijelaskan oleh kata apapun. Seseorang tak akan bisa menceritakan bagaimana rasa sakit yang ia derita~
Manusia berencana, Allah yang menentukan. Pernah dengar kalimat itu? Nampaknya kalimat itu memang mutlak kebenarannya. Manusia bisa sekehendak hati berencana akan begini akan begitu tapi pada akhirnya kekuasaan tertinggi hanya terletak padaNya. Dulu, rasanya kita sudah cukup jauh merencanakan segala hal nya .. begini begitu .. kupertemukan dirimu dengan bibi ku di suatu kesempatan, ku ceritakan dirimu pada orang tuaku. Wohooooo ku kira rencana yang kita buat akan berjalan lancar. Aku begitu bahagia, pada akhirnya ada seseorang yang mencintai balik diri ini. Terbayang nanti wisuda ada orang yang akan mendampingi diri ini, berfoto di tengah JICA dengan sama-sama menggunakan toga tapi .. tong bororaah mikir kadinya ari skripsi wae tacan dimulai-mulai badruuuuun~ Ngoahahaha.
Yaaa pada akhirnya rencana memang hanyalah rencana. Reality broke my heart. Di suatu kesempatan, dirimu jujur kepadaku. “ Cad, sebenarnya dari awal aku tak pernah menyukaimu “. Deg. Aku tak bisa mencerna kalimat yang aku dengar. Logikaku benar-benar tak bisa menerimanya. Pertanyaan-pertanyaan terlontar dalam pikiranku.
“ Loh bukannya waktu itu kamu bilang suka juga? “
“ Loh bukannya kamu bilang menyukaiku apa adanya? “
“ Loh bukannya kamu bilang akan melalui semua hal bersamaku? “
“ Loh bukannya kamu bilang aku tampan dan berani? “
Aku mencoba untuk tetap tenang, takut-takut itu hanyalah prank yang kamu buat. Ternyata tidak .. selama ini memang kamu hanya memaksakan perasaanmu saja sambil berharap suatu hari tiba-tiba kamu bisa berubah menjadi menyukaiku. Ya, aku gagal. Gagal dalam memenuhi ekspektasimu. Ekspektasimu terlalu tinggi. Betul kok betul, aku hanyalah calon pendidik. Aduuuh jangan ngomongin gaji, gajiku saat ini gak akan cukup untuk membeli perlengkapan make up mu itu. Hidup di Indonesia memang keras ya .. umur 25 tahun seakan dituntut harus udah S3, gaji 30 juta/bulan, udah punya rumah tipe 212 halaaaahhh ndasmu mbak nikah aja sama atta halilintar sana. Ehe.
Girl, you really know how to get someone down~
Yang begitu ku benci dari berhubungan dengan anda adalah kejadian-kejadian setelah hal-hal ini terjadi. Mau kamu apasih ? Ini kamu tuh kaya film Marvel tau ga? Ada After Scene nya. Aku selalu berpikir pertemuan terakhir kita di KFC itu akan mengakhiri segalanya. I mean it will ends our drama but .. you always start the drama again. Bukannya aku udah minta maaf ya waktu itu? Bukannya aku udah bilang sama kamu, “ Aku minta maaf kalau sikap aku selama ini menyakiti kamu, aku harap kamu maafin aku dan kita jadi teman seperti awal-awal KKN “ dan kamu meng-iya-kan itu. Yes, I thought it would be the end but .. you start the drama again.
Aku sedang melakukan self-healing dengan melakukan challenge #30HariMenulis, tiba-tiba ada pesan masuk dari seorang sahabat.
“ Syad aku mau cerita sesuatu “
“ Hah? Tumben-tumbenan cerita sama aku, ada apa? “
“ Kenapa ? Dia nge-chat kamu? “
Kemarahanku memuncak kembali, kamu terlalu jauh dalam melangkah. You crossed the line. Kesabaranku sudah habis, aku memarahimu. Untung saja aku tak sampai memaki dirimu. Aku bertanya padamu dengan terheran-heran.
“ Gak cukup buat sakit hati? “
“ Sekarang kamu ganggu teman-temanku? “
“ Sumpah aku ga ngerti dengan kelakuan kamu “
Kamu menjawab dengan alasanmu tapi aku benar-benar tak bisa terima alasan itu. Mau carikan aku jodoh? Haduuuuu kau cari saja jodohmu sendiri lah. Aku selalu menanyakan alasan kamu melakukan hal-hal yang kurasa itu mengusik hidup aku. Kamu selalu menjawab “ Aku tau aku salah tapi kan … “. Girl, if you knew that you were wrong then stop it. Stop. Please. Just Stop.
Haaa sudahlah, aku benar-benar lelah dengan hal ini. Cukup. Aku minta maaf .. tapi mohon aku ingin ini adalah permintaan maaf terakhirku. I’m done with this sh*t. Dan jika kamu ingin maaf dariku .. kali ini akan kuberikan dengan cuma-cuma. Sudahlah, aku ingin segera menyelesaikan studiku. Aku tak mau hal ini membuatku harus membayar UKT untuk semester depan. UKT UPI mahal tau!
Perjalananku dalam challenge #30HariMenulis pun telah menemukan ujungnya. Aku berhasil menyelesaikannya yaaa walaupun tak benar-benar 30 hari sih. Ehe. Kuucapkan banyak terimakasih kepada semua sahabat dan kawan-kawanku yang telah berkenan membaca dan mengapresiasi tulisanku. That means a lot guys, really. Wabil khusus kusampaikan terimakasih pada seorang sahabatku yang telah menginspirasiku dalam menulis, Mia Rahmi. Thanks miw!
Mulai dari sekarang .. aku akan berhenti menulis. Iya berhenti menulis .. karena dia. Mulai sejak sekarang aku akan menulis karena keinginanku sendiri, aku akan menulis dengan perasaan bahagia. Ah iya, terimakasih juga untuk seseorang yang telah menjadi sebabku untuk menulis. Terimakasih!
Huft, rasanya sudah cukup aku bergalau ria. Sekarang, hatiku telah sembuh dengan sempurna. Saatnya Move On. Good bye!
And the salt in my wounds
isn't burning anymore than it used to
It's not that I don't feel the pain
it's just I'm not afraid of hurting anymore