An Episode: One Fine Morning
So I decided to write again. Hehe.
Sorry if it is too cheesy:p
Hmmm, pria itu membaui aroma telur dadar yang dibuat oleh seorang wanita berkuncir kuda di dapur. Sambil membuka korannya, ia menebak-nebak apa isian bento yang akan dibekalkan oleh istrinya hari ini. Ia tersenyum, apa juga enak, pikirnya. Lantas ia kembali menelusuri huruf demi huruf yang tercetak tebal dalam lembaran abu-abu panjang itu.
“Foto headline hari ini bagus,” tiba-tiba sang wanita bersuara. Pria itu kemudian membuka bagian depan korannya, maklum ia tadi hanya meneruskan baca halaman yang terbuka di meja makan. “Nggak sia-sia kamu pulang larut semalam,” lanjut sang istri.
Dalam halaman depan koran nasional itu, terpampang seorang pemain baseball yang tengah berlutut sambil bersorak, merayakan keberhasilan melakukan homerun sekaligus mengunci kemenangan. Di sampingnya tercetak besar-besar “Tokyo Giants: Raksasa Turnamen Kanto.”
“Kau harus melihatnya sendiri saat Hattori menyelesaikan homerun itu! Benar-benar hebat!”
“Kalau aku jadi kau, aku akan terlalu fokus bersorak sampai lupa menekan shutter kameraku. Kamu kan, tidak. Jadi, selamat atas foto headline hari ini, sayang,” ujar wanita itu sambil menoleh sedikit ke arah suaminya. Tersenyum.
Pria itu terkekeh kecil sambil melirik namanya yang ada di bawah foto itu, “kau melebih-lebihkan.”
Tiba-tiba, seorang bocah kecil memasuki ruang makan. “Mama, sarapan apa pagi ini?” katanya, cempreng. Yang dijawab oleh ibunya sekaligus dengan menyajikan masakan yang masih mengepul, “telur dadar, jagoan.” Ucapan itu disambut sorak kecil dari sang buah hati.
Acara sarapan pagi itu lalu dimulai. Dan diselingi oleh tawa dan celoteh-celoteh riang dari si jagoan kecil. “Papa, hari ini aku akan bermain baseball di TK! Aku akan tunjukkan pukulan yang sudah Papa ajarkan, pada Kuro dan teman-teman!” katanya sambil memeragakan gerakan memukul bat.
“Bagus, kecil! Kau akan menang dengan jurus yang Papa ajarkan! Jangan lupa, Papamu ini dulu pemain baseball handal!” kata pria itu tertawa sambil mengelus kepala puteranya.
“Papamu bermain bagus hanya bila Mama menonton, Yamato,” kata sang wanita meleletkan lidah pada pria di sebelahnya. Lalu tertawa.
“Hei! Siapa yang selalu minta ikut ketika aku bertanding?! Mamamu begitu ingin menempel pada Papa dulu. Betul-betul, deh! Bikin malu,” sahut sang pria.
Belum sempat dibalas oleh si wanita, sang anak sudah memprotes, “sudah Ma, Pa. Aku sudah tau kemana ujung pembicaraan kalian.” Ucapan ini sontak membuat kedua orang tua muda itu saling berpandangan, lalu tertawa bersama.
Bocah itu sudah turun dari kursi dan bersiap meninggalkan meja saat tiba-tiba wanita tadi mengerinyit. “Eguchi, sudah sisiran? Berantakan sekali,” ujarnya berdecak, lalu pergi ke kamar mengambil sisir. Kedua laki-laki Eguchi tadi, merasa terpanggil, sontak memegang rambut mereka. Lupa, sahut mereka dalam hati masing-masing. Nyengir.
Setelah disisiri oleh Mamanya, si kecil berambut jabrik itu langsung lari ke mobil yang sedang dipanaskan. “Papa aku tunggu di mobiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiil!” ia berteriak sambil berlari. Si Mama hanya menggeleng, lalu berbalik. Hanya untuk menemukan Eguchi senior tersenyum jahil.
“Sisir. Aku juga belum,” katanya.
“No doubt that he is your son,” kata istrinya. Mendekat, lalu mulai menggapai rambut suaminya.
Laki-laki itu tersenyum untuk kesekian kalinya pagi ini. Pagi bersama wanita di depannya ini memang penuh senyum, dan bunga, dan kue, dan matahari, dan lelucon, dan tentu saja, dia. Tangannya lalu menggapai pinggang istrinya. Merengkuhnya dalam jangkauan tangannya. Masih tersenyum.
“Ada apa?” tanya istrinya, bingung.
“Sayang.” kata lelaki di depannya. Tepat pada manik cokelat wanita itu. Manik yang, ia bersyukur, dari semua fitur anaknya, mata Ibunya yang turun pada bocahnya itu. Karena memang manik itu yang jadi favoritnya.
“Halo? Tuan Eguchi Tappei? Apa aku tidak salah dengar?” istrinya tertawa. Kentara menahan merah yang meruak di pipinya.
Tangan pria itu membelai rambut istrinya. Lalu menyibakkan rambut istrinya ke belakang telinga. “Sayang. Ya. Sayang! Aku suka ketika kamu memanggilku begitu,” katanya. Istrinya terkekeh, bingung kenapa suaminya jadi sentimentil begini.
“Apasih, Tappei? Kan memang kupanggil begitu kau sejak dulu dulu. Kamu yang jarang memanggilku sayang!” protes wanitanya ini.
Alis Tappei mengerinyit geli, “bagaimana bisa? Kan, aku sering sekali memanggilmu sayang, Miiko?” kata lelaki itu. “Seperti ini misalnya,” lalu ia mencium pucuk kepala istrinya.
“Sebelum tidur kan, aku selalu begitu. Lalu,” menggantung, ia mencium kedua pipi istrinya. Yang dicium hanya tertawa geli, “apasih Tappei! Cheesy sekali!”
“Yang terakhir, mau tidak?” tanya Tappei.
Miiko tertawa. Menggeleng, “biar aku saja yang bilang begitu kali ini,” katanya, lalu berjinjit dan mengecup cepat bibir suaminya. Tappei tersenyum. Lantas teringat bagaimana ia pertama kali mencium Miiko saat kencan ketujuh mereka: di depan rumah gadisnya itu, saat Miiko baru saja turun dari motornya. Cari mati memang Tappei itu.
“Cepat sekali?” kata Tappei, meneleng.
“Sudah Tappei, nanti kau terlambat! Aku juga masih mau menulis artikel dan kasihan Yamato sudah menunggumu di mobil,” alasan Miiko panjang lebar, menghindari mata jahil Tappei.
Tappei tertawa, “iya-iya aku hanya bercanda.” Lalu ia melepaskan tangannya dari istrinya dan mulai beranjak.
Istrinya menghampirinya lagi. Lalu mengancing kemeja kotak-kotak bagian paling atas suaminya yang memperlihatkan kaos hitam pendek di dalamnya. “Ey, kau tidak boleh jadi terlalu tampan begitu, Pak Eguchi. Jangan lupa mengancing bajumu,” kata Miiko.
“Hahaha, sengaja. Biar kamu repot,” kata Tappei tertawa.
“Kau ini, tidak berubah sama sekali,” kata istrinya gemas.
“Baiklah........., sayang?” kata Tappei menyodorkan pipinya.
“Hati-hati di jalan,” sahut sang istri. Lalu mencium pipi laki-laki di depannya , “...sayang.”
Begitu kira-kira salah satu episode hari di rumah keluarga Eguchi. Bagi Tappei, menemukan manik mata cokelat Miiko setiap pagi adalah perayaan. Eguchi Miiko adalah festival, ia meledak, membuncah, menari, berbunga, jatuh, dan mencinta di dalam relung dadanya. Dan ia akan selalu mencintai tiap-tiap detik festival itu. Bagi Tappei, Miiko adalah kembang api. Dan ia akan selalu bersedia meledak bersamanya. Selamanya.
Jadi abis beli Hai Miiko volume 29 dan banyak banget Miiko-Tappei momentsnya:”) jadi baper! Padahal cuman cecintaan polos anak SD --yang bahkan kupikir belum bisa digolongkan ke ‘cinta-cintaan’. But still, they’re cute!
Dan akibatnya jadi mikir lucu juga kalo mereka nikah dan ya! Mikir mereka jadi dewasa dan jatuh cinta bikin aku ikutan jatuh cinta juga. Pasti lucu!
Dah, ah mau nugas lagi. Adios!