Kemarin ada yang datang. Dari Depok menerobos hujan. Pasti dingin. Pasti basah. Lalu oleh-oleh yang dibawanya dari pulau seberang tertinggal di masjid tempat ia salat Magrib sebelum ke rumah. Ia pun bergegas kembali ke masjid itu, padahal sudah sampai di gerbang dan mengucap salam. Aku menertawainya dari balik jendela. Ia kemudian benar-benar datang. Aku memang tidak menyambutnya. Hanya dari balik tembok, aku mempertajam pendengaran. Sambil menyiapkan dua cangkir teh hangat yang disertai dagdigdug tak terkendali, aku mencoba bersikap tenang. Aku pun muncul ke ruang tamu, membawa dua cangkir teh hangat dengan ekspresi asdfghjkl yang enggan senyum padahal rasanya ingin loncat-loncat a.k.a muka datar tanpa memandang si tamu padahal dia penyebab dagdigdug yang aneh ini. Satu hal yang menarik sekilas sudut mataku, baju kemeja biru. Haha sepertinya baru, ya. Sebab anehnya, aku pun mengenakan kardigan berwarna biru muda. Ya, sewarna senada. Rasanya ingin kuajak kau foto kemarin. Ah, tapi aku tak pernah seberani itu... Hingga larut, kau asyik sekali mengobrol dengan keluargaku. Justru aku yang berada di balik dinding ruang tamu sedang amat santai dan bahkan rebahan di sofa ruang keluarga :') *barangkali ini efek terlalu grogi jadi sudah dibawa nyantai aja* Ya, begitu. Kita ini lucu, kan? Bahkan aku tidak melihatmu pamit pulang. Hanya keluargaku yang menyalamimu sampai gerbang. Aku? Ya bagianku tentu mencuci cangkir dan piring selepas sajian di meja tamu. Haha... Ya, tapi aku sejujurnya sudah jauh banyak lebih lega kemarin. Terima kasih, ya! Mungkin karena oleh-oleh yang kaubawa ternyata benar enak. #eh Terima kasih. Terima kasih sudah menujuku dan membuktikan bahwa kau sedang memperjuangkan. Mari menjaga kita dalam doa, melangitkan harapan, sembari mempersiapkan bekal perjalanan kita ke depan. Hap hap! *** Rumah, Juli 2016