Gimana, udah pada nonton kan filmnya? Semoga sudah ya. Sebisa mungkin sih saya tidak akan terlalu memberi spoiler jalan ceritanya, toh narasinya udah banyak bisa dibaca di banyak website. Rasanya jadi harus menonton kalau sudah kadung penasaran tuh ya, yowis mari kita mulai.
Kesan pertama saya ketika menonton awalan film itu rasanya langsung akrab ke dark ambience yang dibangun oleh latar belakang dan plot ceritanya. Kalau kita sudah akrab dengan Marvel Cinematic Universe/DC Universe, menurut saya karakter Gundala ini lebih condong bau-baunya ke DC Universe yang nuansanya yang temaram, penuh konflik yang dalam, juga dibangun lewat serangkaian kisah pahit dan getir yang bahkan beberapa kali cenderung mengerikan bila benar terjadi di dunia nyata.Â
Kalau diibaratkan karakter DCU, Gundala, yang nama sehari-harinya adalah Sancaka (diperankan Abimana), sangat mirip Batman dari pengisahan tokoh keluarga yang mati tragis dan ditinggalkan sejak belia. Hanya saja, Batman besar menjadi superhero kaya, sedangkan Gundala ini miskin sejadi-jadinya. Pengisahan latar tempat cerita juga terasa sangat dekat dengan gambaran pabrik-pabrik tua dan area pembangkitan, yang menurut saya mirip seperti kawasan Cilegon, Kota Tua Jakarta, dan Bekasi digabungkan sekaligus. Latar waktu juga menunjukkan medio sekitar 80-an dengan banyak hal antik yang disajikan sepanjang cerita. Itâs bloody dark, yang mana membuat saya makin tertarik karena terkesan realis (tokoh akrab dengan penderitaan) juga sekaligus surealis (kepahlawanan yang âturun dari langitâ).
Saking dark-nya, yang saya sadari setelah menonton adalah Gundala ternyata tidak memiliki opening theme ala superhero yang membangkitkan gairah, misalnya seperti opening theme Pacific Rim. Bahkan, ketika Sancaka membuat dan memakai kostum Gundala pun tidak ada musik kepahlawanan yang mendukung. Ada sih musik di credit title-nya tetapi tidak membuat saya ngeh kalau itu bernuansa superhero. Beberapa jokes di dalam film lumayan membantu mencairkan suasana, tetapi karena kurang dieksplornya konflik asmara antara Sancaka dan Wulan (diperankan Tara Basro) membuatnya ceritanya jadi flat dan membuat Sancaka terkesan seperti lelaki kaku, misterius, dan minim emosi.Â
Tetapi kesan dari sisi akting, koreografi, dan CGI sungguh bisa diacungi jempol. Kalau menonton di bioskop akan sangat terasa feeling-nya. Beberapa pemilihan latar tempat dan suasana juga bisa dikatakan sangat klasik, membangun citra eksentrik yang rasanya pernah kita kenal. Mungkin beberapa plot hole sempat membuat bingung, misalnya muncul pertanyaan âkemana nih hilangnya ibu Sancaka? dia mati apa gimana?â , atau âLoh kok muncul Pevita Pearce, anjir?â yang saya baru tahu kalau dia jadi sosok Sri Asih yang mungkin nantinya jadi crossover dari series superhero selanjutnya.
Sancaka cilik hidup dari latar belakang keluarga buruh. Sang ayah, seorang komandan buruh yang begitu altruis serta sang ibu yang jadi ibu rumah tangga penyabar nan suportif sebenarnya bisa menjadi dasar pemagu moralitas yang bagus untuk Sancaka. Hanya saja, kehidupan mereka terlalu mengerikan untuk sekadar dihayati. Sang ayah mati ditusuk pisau dalam demo buruh demi memperjuangkan hak serikatnya, sedangkan sang ibu pergi terdesak dan tak kembali, sehingga membiarkan Sancaka harus hidup luntang-lantung sendiri dari kecil hingga dewasa.
Alur film ini bisa dikatakan mayoritas beralur maju, dengan hanya beberapa plot yang mundur. Sebelum Sancaka siap dianugerahi kekuatan, maka ia dilatih dulu oleh Awang (yang nantinya jadi hero bernama Godam). Secara keilmuan dan beladiri, Sancaka cilik cukup mahir namun masih berkonflik dengan dirinya sendiri terkait apatisme. Sancaka dewasa akhirnya terdorong untuk membantu orang lain meskipun belum menyadari sifat kepahlawanan, hingga suatu waktu mulai tersambar petir dan menyadari bahwa kekuatan itu harus digunakannya untuk melawan kejahatan. Kisah ini mirip seperti karakter DCU yaitu The Arrow yang sikap kepahlawanannya muncul seiring membela yang lemah, digabungkan dengan The Flash yang kekuatan superhero-nya datang secara âgiftedâ dari langit yang awalnya tak diinginkan namun jadi senjata pertahanan paling ampuh.Â
Sisanya, alur maju seperti layaknya film superhero yang menumpas satu persatu villains-nya. Banyak diadegankan hubungan antara anggota legislatif dengan para mafioso yang diatur oleh Pengkor, si villain utama. Dalam rangkaian cerita yang panjang, banyak konflik sosial-politik yang secara keras divisualisasikan, seperti oknum serikat buruh yang menjadi penjilat kekuasaan, jurang kemiskinan yang parah dan menganga, premanisme dimana-mana, juga anggota legislatif âkerah putihâ yang kerap diintimidasi oleh mafia. Rasanya, mirip benar dengan yang terjadi di Indonesia, kan? Adapun klimaksnya disini adalah perjuangan rakyat kecil yang dipromotori Gundala, sehingga mendapat atensi dari legislatif âkerah putihâ yang mencoba membantu lewat kekuasaan.Â
Sebagaimana cerita superhero, plot kisah dibangun dari perspektif âAnti-Tuhanâ, dimana kisah pahit getirnya penderitaan tidak dinaungkan pada Sang Pencipta, alih-alih malah pada sosok pahlawan yang kekuatannya turun dari langit. Tetapi, moral utamanya adalah kebenaran itu ada, walaupun tersembunyi. Pun meski kebenaran tersembunyi, maka nantinya ia akan datang dan akhirnya menang.Â
Gundala, adalah epos metakritik yang membuat kita jadi berpikir lebih kerasa dalam memahami moral ceritanya. Begitu banyak plot cerita yang membuat kebenaran dan kebiadaban seakan bercampur baur, yang menjadikan hidup terasa lebih âhidupâ, juga itu akrab betul di sekitar kita. Gundala, yang memiliki jargon ânegeri ini butuh patriotâ, juga menjadi katarsis bahwa negara kita memang butuh pahlawan (atau sifat kepahlawanan) agar kebenaran dapat menang. Meski, di kesekian kali, dalam kepala manusia tetap ada dua kecenderungan yaitu baik dan buruk. Keburukan, adalah hal lain dari kebaikan yang tidak disuarakan dan diambil tindakan. Maka, sadarkah kita berada di posisi yang mana?