Final Gemastik 10 (Bagian 3 - Habis)
Setelah menuntaskan masa magang saya pada 6 Oktober lalu, saya menunggu seminggu untuk pengumuman finalis Gemastik. Sesuai jadwal yg tertera, pengumuman akan diunggah pada tanggal 13 Oktober. Seminggu selama menunggu, saya menyamankan diri setelah sebulan disiksa dengan rutinitas “8 to 4”. Pokoknya, nyantai dulu, bray! wkwk.
Feeling saya pengumumannya pasti mundur. Dan ternyata, memang demikian haha. Gak tanggung-tanggung, mundurnya 4 hari, jeh. Padahal jarak pengumuman dan jadwal final kurang dari 3 minggu jika merujuk pada jadwal yang tertera sebelumnya. Gemastik dan saya benar-benar punya kemiripan, sukanya nunda-nunda hehe.
Bahkan setelah kalender menunjukkan tanggal 17 Oktober. Pengumuman belum juga diunggah. Warbiasah sekali, handai tolan. Untung saja, malam itu saya ditraktir nonton Blade Runner 2049 (terima kasih, Rossy hehe) jadinya gak terlalu _kzl-kzl _amat. Visual filmnya ajib banget, bener-bener memanjakan mata. Sound-nya juga puas banget. Sayangnya, alur cerita yang lambat membuat saya ngantuk. Dan untuk pertama kalinya tertidur di bioskop. Gak lama sih, cuma 10 menit hehe. Durasi filmnya juga panjang, hampir 3 jam. Wajar kan, ketiduran? (Lah, ini kok malah bahas _review _film)
Besoknya, rasa penasaran benar-benar menjangkiti saya. Saya sampai _stalk _di _fanspage _facebook dan twitter Gemastik. Ternyata memang bukan cerita baru jika pengumumannya telat, tapi tahun ini lebih parah. Semoga saja tahun depan kejadian seperti ini gak terjadi lagi. Persiapan finalis jadi mepet.
Sekitar sebelum sholat Ashar, akhirnya pengumuman diunggah. Tanpa ba bi bu, saya langsung tombol do__wnload. Namun, f_ile_-nya gak bisa di-download. Wasu tenan. Tak lama, teman saya memberi file yang berisi daftar tim finalis. Saya gak tahu dan gak mau tanya dia dapat darimana, yang saya inginkan cuma satu. Mengetahui tim saya lolos atau enggak. Cukup. Kalau gak lolos, enak, gak susah payah mengerjakan prototype aplikasinya. Kalau lolos, ya lebih enak lagi, bisa jalan-jalan ke UI wkwk.
Tak lama, saya membaca kata yg familiar, “JOMAT” berada diantara nama-nama tim yang lolos. Dag dig dug, saya baca sekali lagi. Saya gak salah, tim Jomat berada diantara nama-nama tim yg lolos. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Pertama kali yang saya rasakan, jantung berdegup dengan sangat kencang. Entah berapa _beats per minute, _saya sedang tidak memakai Mi Band kala itu. Tentu, saya langsung mengabari rekan saya, Rudy dan dosen pembimbing kami, Pak Suryawinata. Wohoooooooooo!
“Lalu, setelah lolos ngapain?”, pertanyaan tersebut mulai terbayang-terbayang di kepala saya. “Ya, bikin _prototype _aplikasinya, bego!” Lalu terdengar jawaban yg lagi-lagi berada dalam kepala saya. Bego.
Ketika itu, saya terlalu naif jika ingin mebuat purwarupa berupa aplikasi _real. _Naif dan ambisius lebih tepatnya. Mana bisa bikin dalam waktu kurang dari 10 hari. Kemampuan coding Android saja saya tidak mampu. Mau tidak mau, saya meminta tolong teman saya, Fadli, yg jago dalam dunia per-coding-an. Namun, teman saya ini juga sedang sibuk bantu tim teman saya yg jadi finalis lomba IoT di Telkom University. Jadi, opsi untuk membuat aplikasi _real _saya hapus dalam rencana tim kami.
Sudah lama saya menaruh ketertarikan pada UI/UX _design. _Saya membaca perihal UI/UX _design _di Medium dan malah sangat tertarik dibuatnya. Baiklah, saatnya menguji diri saya untuk praktek UI/UX _design _dalam waktu seminggu. Hap, hap, semangat.
Yg jadi hambatan saya dalam memulai mempraktekkan UI _design _adalah aplikasi design dan prototyping-nya. Rata-rata UI _designer _memakai aplikasi Sketch di Mac. Adakah alternatif lain selain menggunakan Mac? Ada. Di Windows bisa menggunakan Axure RP dan Adobe XD (sepengetahuan saya hanya dua). Sebenarnya jika hanya membuat desain, bisa menggunakan aplikasi seperti Adobe Illustrator, Adobe Photoshop, dan Corel Draw. Dan bisa juga menggunakan Invision dan Marvel App (berupa web app). Tapi saya lebih sreg membuat dengan Adobe XD setelah melihat video promosinya yang barusan rilis hehe. Dan karena kemudahan dalam mendesain serta bisa juga membuat _prototype-_nya. Masalahnya adalah, saya gak punya akun langganan Adobe CC untuk download dan nyoba Adobe XD haha.
Setelah baca-baca, ternyata menggunakan Adobe CC bisa _trial _selama seminggu. Ya mayan lah. Bisa dipake. Sambil cari cara _ngakali _hehe. Tahapan awal mendesain, saya buat sketsa di atas kertas. Kemudian membuat _low fidelity design _di Adobe XD. Lalu hasilnya saya share ke tim mengenai _User Experience-nya. Memudahkan atau tidak. Fungsional atau tidak. Setelah beberapa revisi, akhirnya jadi juga high fidelity design aplikasi _Angkot-O. Mungkin terlihat jelek. Jelek banget malah. Tapi seenggaknya, ini karya UI/UX _design _pertama saya hehe. Masih bisa meningkatkan skill. Tahun depan ikutan Gemastik kategori User Experience, ahh…
Total 3 hari saya membuat mockup tampilan web serta protoype dari aplikasi Angkot-O. Sisa-sisa hari saya isi dengan redesign logonya Angkot-O dan latihan presentasi. Karena tiap orang di tim sudah punya kerjaan masing-masing, termasuk dosen pembimbing kami yg sangat sangat baik, Pak Winata hehe. Beliau menawarkan diri untuk membuat desain X-Banner yg disyaratkan panitia untuk pameran. Rudy membuat slide presentasi yang kemudian di-finishing oleh Pak Winata.
Dalam setiap kompetisi, pasti akan selalu ada drama dan konflik yg terjadi. Termasuk dalam 10 hari persiapan ini. Sebelum saya mendesain hal-hal yg sudah saya jelaskan, ada sedikit masalah yg menghampiri. Jadwal praktikum yg dikeluarkan pihak kampus datang bersamaan dengan tugas _pre-test-_nya. Dateline-nya gak main-main, cuma dikasih 4 hari pengerjaan. Sontak, saya yg saat itu masih melakukan riset mengenai desain langsung ngamuk. Saya tanya ke Pak Winata apakah bagi tim saya pengumpulannya boleh diundur, beliau bilang biasanya gak bisa. Saya sempat mengancam jika lebih memilih mengerjakan tugas _pre-test _sialan tersebut dibanding berangkat final Gemastik wkwk. Lah ini ada prioritas yg lebih penting kok malah disuruh ngerjakan tugas yg ecek-ecek. Gak bisa minta dispensasi pula. Tapi Alhamdulillah trik ngambek tersebut berhasil haha. Malah juga ditraktir sama Pak Suya haha.
Apakah dramanya cuma itu aja? Tentu enggak. Masalah klasik, soal dana. Sudah _apply _proposal pengajuan dana bulan September, sampai hari itu masih belum ada perkembangan. Tau sendirilah gimana birokrasinya wkwk. Ruwet. Syukur, sebelum keberangkatan dananya sudah cair. Alhamdulillah.
Akhirnya, tiba pada tanggal 31 Oktober. Hari keberangkatan kami. Kami berangkat menuju Jakarta pada malam hari. Menyesuaikan jam tidur kami, biar sampai di Jakarta gak capek-capek banget. Saya yg biasa naik kereta ekonomi, enjoy aja dengan suasana dan kondisinya, Tapi Rudy yg baru pertama kali naik kereta ekonomi, ngeluh karena gak bisa tidur haha. Pak Winata yg duduk di sebelah Rudy, saya lihat biasa aja. Malam itu, Rudy yg paling tersiksa wkwk.
Sekitar jam 10 pagi, kereta Kertajaya yg membawa kami tiba di stasiun Pasar Senen. “Kembali lagi disini.”, gumam saya dalam hati. Dari Stasiun Pasar Senen, kami melanjutkan perjalanan ke UI dengan naik KRL. Murah meriah, bosku. Perjalanan dari stasiun Pasar Senen dengan stasiun UI lumayan lama, sekitar 45 menit dan melewati sekitar 15 stasiun. Di stasiun Manggarai, saya benar-benar merasakan yg namanya manjadi pepes manusia dalam KRL. Desak-desan, bruh. Edan. Salut dengan orang Jakarta dan sekitarnya yg setiap hari menggunakan KRL di _peak hour. _Kalian manusia kuat, gak lemah seperti saya.
[caption id=“attachment_211” align=“aligncenter” width=“576”]
Banner Gemastik di depan Stasiun UI
Sesampainya di stasiun UI, kami menumpang bis kuning untuk menuju asrama mahasiswa, lokasi menginap yang disediakan panitia. Sesuai arahan dari LO kami, kami disuruh naik bikun. Bikun atau bis kuning adalah sarana tranportasi umum yg disediakan oleh UI. Karena UI luas banget, cuy. Lebih luas dari kampus saya sih hehe. Jadi wajar aja kalau nyediain bis. Sekalian ngurangi pemakaian kendaraan pribadi gitu, maksudnya.
[caption id=“attachment_212” align=“aligncenter” width=“576”]
Di depan area asrama, sudah ada pantia-panita yg bertugas untuk meregistrasi ulang para peserta. Sepertinya, kami salah satu dari sekian peserta yg tiba lebih awal. Masih sepi soalnya. Beres registrasi ulang, kami dipandu menuju asrama untuk menginap.
Kamar asrama yang disediakan panitia, fasilitasnya lumayan. 1 kamar berisi 3 orang. Karena idealnya memang 1 tim beranggotakan 3 orang. Karena tim kami hanya berdua, ada 1 orang dari tim lain yg menjadi _roommate _kami. Dia mahasiswa dari Universitas Brawijaya, Mas Fathir namanya. Kebetulan 1 cabang lomba dengan kami. Yang gak enak dari asrama ini adalah ketiadaan kipas angin. Depok gerah, bos. Podo koyo Ndarjo.
Yang menyenangkan dari tempat asrama kami adalah adanya kantin asrama yang harganya sangat ramah bagi mahasiswa. Cukup 11 ribu, bisa dapet nasi, ayam goreng, dan sayur. Juga bonus, segelas air putih hehe.
Selepas menaruh barang bawaan, kami bergegas menuju hotel tempat Pak Suryawinta menginap. Juga bermaksud untuk numpang istirahat sejenak di sana dan berdiskusi serta berlatih presentasi. Jarak hotel tempat menginap dengan kampus UI jauh banget, jika jalan kaki hehe. Oleh karena itu kami menggunakan layanan transportasi online. Gojek, Grab, Uber memang andalan bagi _traveler-traveler _seperti kami ini. Kalian memang penyelamat kami, love you all.
Tanggal 2 November 2017, acara _opening ceremony di Balairung UI. _Tiap perwakilan institusi diharuskan mengirimkan 2 wakilnya untuk mengikuti _defile. _Karena dari kampus kami hanya kami berdua perwakilannya, otomatis kami yang ikut _defile _tersebut. Mesakke banget. Peserta _defile _harus datang pukul 07.00 untuk mengikuti gladi resik. Acara _Opening Ceremony _sendiri dijadwalkan pukul 09.00 dan selesai pukul 12.00. Kalian bisa liat keseruan _opening ceremony _Gemastik 10 di bawah.
Pada Gemastik 10 kali ini, ada 110 tim finalis dari 38 kampus. 110 tim terpilih dari 2.307 tim pendaftar. Tim dari ujung barat Indonesia ada dari Universitas Syah Kuala Aceh. Sedangkan ujung timur Indonesia diwakili Universitas Haluoleo Kendari. Sepengamatan kami, ITS mengirimkan paling banyak tim, yaitu 13 tim. Tapi, banyak juga Universitas yg cuma diwakili 1 tim seperti kami hehe.
Selesai _opening ceremony, _peserta dipersilakan untuk ishoma. Lalu pukul 13.00 diharuskan datang kembali di Balairung UI untuk mengikuti sesi _technical meeting. _Acara _technical meeting _berlangsung sekitar 1,5 jam. Acara TM juga mengundi urutan peserta untuk presentasi. Tim kami mendapat urutan kedua untuk presentasi besok. Kemudian pada akhir acara, slide presentasi yang sudah dikerjakan tiap tim untuk dipresentasikan besoknya, dikumpulkan kepada PIC masing-masing cabang lomba.
Tak ada acara lagi setelah acara TM tadi. Jadi, kami putuskan untuk ke hotel tempat Pak Suryawinata menginap, berlatih intens dan mempersiapkan _prototype _aplikasi agar tidak ada hambatan sewaktu presentasi. Padahal niatnya memang ngadem dan tidur wkwk. Peduli setan dengan presentasi. Gak ding, canda.
Ada hal _kampret _saat saya tiba-tiba jadi _bad mood _dan males ngomong dengan tim saya. Saat itu, saya entah ketempelan setan mana, anjir, moody banget. Tiba-tiba males aja interaksi dengan mereka. Diem aja saat jalan. Bahkan saat sampe di hotel. Wkwk, bego banget. Entah kenapa ngerasa jadi sensi sama komentar-komentar teman dan dospem saya yg bilang saya paling buruk performanya dalam latihan presentasi yg udah dilakukan. Padahal kan… memang iya sih wkwk.
Tanggal 3 November 2017 pukul 07.30 kami sudah dikumpulkan panitia ke dalam bus untuk bergegas menuju _venue _lomba yakni Gedung Fakultas Ilmu Komputer, UI. Sekitar pukul 09.00, kami masuk ke ruang presentasi. Karena kategori lomba kami termasuk tertutup, jadi hanya 3 dewan juri dan beberapa orang PIC yang ada di ruangan. 3 orang yang menjadi dewan juri adalah Bapak Karyana Hutomo, S.T., M.M. dari Universitas Binus, Bapak Bob Hardian, Ph.D. dari Universitas Indonesia, dan Bapak Ir. Lukito Edi Nugroho, M.Sc., Ph.D. dari Universitas Gadjah Mada. Tiap tim disediakan waktu 20 menit, 10 menit untuk presentasi, 10 menit untuk sesi tanya jawab dengan dewan juri.
Harapan saya untuk lebih menstabilkan emosi sewaktu presentasi, Alhamdulillah kesampaian. Ketika masuk ke ruangan, ngeliat dewan juri dan beberapa orang PIC, merasa rileks. Gak ada ekspresi yg meledak-ledak dan kata-kata yg belibet karena ngomongnya terlalu cepet. Benar-benar sesuai harapan. Komentar dan saran dari dewan juri kami terima dengan sangat legowo, namun kadang juga adu argumen hehe. _So smoooooth, beibeh. _
Prosesi menegangkan pada hari Jumat ini hanya sejam setengah saja, gak perlu berlebih. Gak baik. Jadi setelah presentasi, kami mulai jalan-jalan di sekitar kampus UI. Tujuan utama tentu saja danau UI. Enak banget suasana di sekitar sana. Terlepas ada korban pembunuhan yg dibuang disana beberapa tahun lalu. Bahkan masih ada sisa _police line _di pinggir danau ketika kami kesana.
Perpustakaan UI adalah _spot _yg paling menarik di dekat danau, jadi kami putuskan untuk kesana. Masuk di gedung perpustakaan UI, kami merasa norak. Kami pikir ini lebih bisa disebut _mall _daripada perpustakaan. Tapi kami gak sempet masuk ke perpustakaannya sih, hanya berkeliling dalam gedungnya saja. Di dalam gedung ada gerai kopi starbak, toko buku, dan _food court. _Duh, Gusti, kalau saya masuk UI, saya yakin gak bisa ngimbangi gaya hidup anak-anak UI ini.
Sebenernya, saya juga punya janji, nadzar (bukan Nadzar yg dangdut itu, jeh) lebih tepatnya. Jika lolos final Gemastik, saya akan beli kopi starbak dan memangkas rambut saya gundul hehe. Janji untuk beli kopi starbak, memang _absurd _banget sih wkwk. Janji kok janji tuku kopi starbak, tapi sesekali hedon memanjakan diri, boleh kan? haha. Namun siang itu starbak antrinya naudzubillah, kami tunda dulu acara hedon tersebut. Karena hari itu Jumat, tentu saja kami harus sholat Jumat. Masjid UI ada di seberang danau. Jadi kami harus berjalan mengelilingi danau lagi untuk bisa ke masjid. Lumayan, olahraga hehe.
Kelar sholat Jumat ditambah leyeh-leyeh di serambi masjid, saya dan Rudy memutuskan untuk main kembali ke Filkom UI. Sebelumnya, kami berpisah dengan Pak Winata karena beliau mau ke Bogor mengunjungi temannya. Alasan kami kembali ke Filkom itu simpel, disana ada _free wifi _hehe. Tepat pukul 4 sore, saya ngajak Rudy untuk balik ke asrama, namun mampir dulu ke starbak untuk memenuhi janji. Awalnya Rudy males, tapi setelah saya merengek dan menunjukkan muka melas, akhirnya dia mau wkwk. Alasan saya ngajak Rudy adalah dia pernah ke starbak sebelumnya, saya sama sekali belum. Takut kagok saat sampe sana haha. Bener saja, sampai sana dan pesen di kasir, saya ditegur mbak-mbak kasirnya karena antrinya menyamping, bukan ke belakang. Untung antrinya agak panjang, jadi saya bisa bisa menentukan mau pesen apa. Sekalian mempelajari situasi dan suasana.
Saat antri, tiba-tiba di belakang saya muncul sosok yg saya kenal, Dimas Putra Permadi. Adik kelas saya sewaktu SD dan SMP. Sebenernya saya gak kenal-kenal banget dan gak akrab, tapi dulu waktu doyan liat DBL sewaktu SMK, kami sering interaksi. Di Twitter wkwk. Dia juga yg bikin saya punya janji untuk ke starbak jika lolos ke UI, karena liat postingan Instagram stories dia wkwk. Tanpa lama-lama, saya sapa dia dan ajak ngobrol. Agak _awkward _sih, tapi sering-sering aja kyk gini biar gak kikuk waktu kenalan dengan orang baru. Oh iya, dia itu sering banget juara di berbagai kompetisi debat. Kali aja kan, saya ketularan virus juaranya dia haha.
[caption id=“attachment_213” align=“aligncenter” width=“227”]
Jolang, mbak. Bukan, Jola. Yaelah…
Esoknya, tanggal 4 November 2017 ada acara Asanka Idea Rush. Kerja sama antara panitia Gemastik 10 dengan Kantor Staff Presiden. Acara tersebut bertujuan untuk mencari solusi dari beberapa permasalahan yg sedang terjadi di Indonesia. Nantinya akan dibentuk 5 kelompok yang terdiri dari masing-masing anggota tim dari beberapa cabang lomba. Jadi tiap anggota tim tersebut tidak akan saling mengenal. Ini penting karena dilatih untuk beradaptasi dengan rekan yg baru kenal. Barangkali jodoh saya ada diantara peserta Asanka Idea Rush ngarep.
Menurut kami, acara ini keren, menantang. Karena kami dilatih untuk bertukar pikiran dan bekerja sama dengan teman-teman mahasiswa dari berbagai kampus dan daerah. Jadi, mahasiswa tidak hanya bisa menuntut, tapi juga membantu memberi solusi atas masalah tersebut. Tiap tim diberi waktu 3 jam untuk berdiskusi. Diskusi dibantu oleh fasilitator dari Kantor Staff Presiden. Nanti, hasil diskusi tersebut akan dipresentasikan dihadapan juri dan kelompok yang lain. Rudy sempat nyeletuk karena rata-rata mas mbak fasilitator ini lulusan kampus top Indonesia, gak ada yg dari kampus kami, maka saja jawab, “kalau kita yg akan masuk sana nantinya jadi alumni kampus wkwk”.
Malamnya, acara puncak dari Gemastik 10, yaitu pengumuman juara dari tiap kategori dan pengumuman tuan rumah Gemastik untuk 2 tahun ke depan. Acara puncak di gelar di Graha Saba Widya, dekat dengan asrama mahasiswa, jadi kami hanya perlu berjalan kaki menuju kesana. Gak perlu ngebus lagi, bosque.
Kami memang dateng agak telat, makan dulu. Lagian banyak juga peserta lain yg masih makan. Jadi selow hehe. Sampai di _venue, _kursinya hampir penuh. Bukan hampir sih, emang udah penuh. Tapi, untung saja dospem kami yg baik hati dan suka nge-game tersebut sudah mem-_book-_ing tempat bagi kami. Enak, tinggal duduk doang.
Kebetulan malam itu kami duduk disebelah anak Tel-U, jadi jas almamaternya hampir mirip warnanya, merah maroon. Kali aja juga ketularan prestasinya hehe. Setelah 40 menit dihibur dari talenta-talenta kece mahasiswa UI dan sambutan-sambutan yg bikin ngantuk, akhirnya tiba juga giliran pengumuman juara.
Awal-awal, prosesi pembacaan juara dibuat sedramatis mungkin, dilama-lamain, ala-ala pembacaan _awarding. _Tapi lama kelamaan, jadi cepet. Kurang nikmat, kurang _deg deg ser. _Pembacaan juara untuk kategori kami ada di urutan ketiga. Enak nunggunya gak kelamaan. Ketika nama tim kami tidak disebut saat pengumuman juara dua dan tiga, saya khusnudzon jika setelah ini nama tim kami yg ada di depan layar. Optimis itu penting, bos.
Namun, Tuhan berkehendak lain. Nama tim dari Mas Fathir yang terpampang di _slide. _Ya sudahlah, kami memang tidak menargetkan juara. Menjadi finalis ajang ini saja sudah sangat amat senang. Ini kompetisi nasional pertama kami. Kami perlu banyak belajar jika ingin jadi juara. Saya belum punya mental juara, jadi wajar jika belum jadi juara. Lagian, kalau baru pertama kali jadi finalis kemudian jadi juara, gak enak. Terlalu _ndewo _rasanya haha.
Malam itu, saya tidur dengan perasaan amat lega. Rencana awal untuk packing dulu sebelum tidur, tidak terlaksana. Bodoh amat, packing bisa besok pagi. Ya gak? haha.
Ada sedikit drama yg terjadi saat perjalanan pulang. Karena kami keluar dari asrama agak kesiangan, pesan Grab Car nunggu lama, antri panjang top up kartu KRL, dan KRL yg sering berhenti lama, kami takut ketinggalan pesawat. Lah gimana, sudah hampir jam 9 dan kami masih ada di KRL. Sedangkan jam terakhir untuk check in, jam 11 siang. Belum perjalanan menuju Bandara Soetta. Mepet banget, bos. Akhirnya kami putuskan untuk turun dari KRL di Stasiun Manggarai. Sebenernya, kartu KRL bisa dikembalikan dan kami dapet duit 10k, tapi karena antrinya naudzubillah, kami bawa pulang saja. Hitung-hitung sebagai oleh-oleh jika ada yg tanya, “oleh-olehnya mana?”.
Keluar dari Stasiun Manggarai, kami menunggu sekitar 5 menit untuk pak sopir Grab menjemput kami. Untung saja hari itu hari minggu. Perjalanan menuju Bandara Soetta yg bagi banyak orang yg telah lama tinggal di Jakarta, laknat banget karena macet, tidak menimpa kami. Jalan tolnya lancar hehe. Alhamdulillah.
Jam 10.45 kami tiba di terminal 1A Banda Soetta. Yes, tepat waktu. Meskipun mepet. Yg saya paling benci ketika itu adalah _security check _yg harus melepas ikat pinggang saya. Kebetulan waktu itu saya pakai celana yg agak kebesaran, jadi tau sendirilah gimana caranya biar celana gak melorot namun tetap kelihatan elegan.
A post shared by Joko Langbuono (@langbuono) on Nov 22, 2017 at 4:59am PST