Foto Blur
Hai, Blr...
Entah berapa kian lama saya tidak menjamah tembok digital ini untuk sekedar menulis hal-hal remeh temeh.
Kemarin saya sekeluarga berfoto untuk syarat pendaftaran beasiswa adik saya yang tahun ini insya Allah lulus SMA.
Berkali-kali dijepret dengan bantuan timer karena --kami berfoto hanya di rumah mengandalkan kamera poket, yang entah mungkin sudah bosan dengan wajah saya (atau kami).
Sekali jepret, ulang. Jepret, ulang. Jepret, ulang. Hingga Bapak saya gondok –karena pada dasarnya tidak mudah merayu beliau untuk berfoto bersama. Mungkin sampai Bapak saya merasa bosan akhirnya terceletuk “Mbak Rizki kalau mau wajah nggak blur di foto pinjam wajah Mbak Didin aja lho.” Saya langsung speechless mendengarnya. Btw, Mbak Didin ini salah satu kembang desa di kampung saya yang kecantikan dan prestasi modelingnya masya Allah.
Kata Bapak, setiap perempuan itu terlahir cantik hatinya, yang kemudian memancar di segala tingkah laku dan wajahnya. Iri, dengki, suka marah-lah yang membuatnya tampak tidak cantik. Yang penting jangan suka cemberut. Begitu…
Akhirnya foto sekeluarga kami tetap berakhir blur. Bukan karena tidak jadi meminjam wajah Mbak Didin, namun karena kami yang suka bercanda ketika menunggu hitungan timer. Jadinya, mudah gerak lalu nge-blur. Tapi tetap dipakai kok, insya Allah :)









