Ini harusku tegaskan!
Aku hanya hamba-Nya yang fakir ilmu, bedosa, dan adakalanya tak sebersahaja yang kau bayangkan.
Aku, dengan khilafku yang kadang menjalar, hingga meradang.
Aku, dengan kelabilan hati, yang mungkin saja kini iya dan besok atau bahkan beberapa detik kemudian menjadi tidak.
Aku tak bisa menjadi tujuan. Karena aku pun masih dan sedang banyak belajar.
Baikku masih sebagian, karena kadang niatku menyimpang.
Maka, untuk kita. Marilah kembalikan semua pada-Nya. Karena takkan ada yang lebih baik dan dahsyat dari Skenario-Nya.
Hingga kedepannya meskipun sakit itu takkan panjang, dan bahagia takkan menjadikan mabuk kepayang. Semua aman, dalam kesederhanaan porsi-Nya dan tak berlebih.
Memandangi sepasang yang tak mampu berbohong, dengan rasa empati yang hampir memenuhi sanubarinya, dan meredakan ketakutan akan pengalaman yang mungkin pula datang dengan coretan menasehati diri.
Vierzehn, Januar 2018 im Jelekong.














