Forest: A Meditation. Manokwari, 2019.
Hutan Lindung Gunung Meja Ayambori Manokwari.
Catatan Tentang Hutan (Forest Notes)
Setiap kali aku berkunjung ke sebuah hutan, tak jarang aku dan Ben berakhir pada topik diskusi yang sama: Bagaimana ya jika suatu saat kami memutuskan untuk punya anak? Apakah kami bisa mengajarkan anak kami untuk memiliki sebuah kepedulian pada alam? Bagaimana caranya menunumbuhkembangkan sebuah kesadaran ekologis yang dalam, tidak antroposentris, namun juga kontekstual? Apakah kesadaran ini harus diturunkan, dituturkan, diajarkan, atau dialami sendiri oleh seorang anak? Aku merasa, kehidupan di kota besar seperti Jakarta hari ini sudah menggerus hubungan kasih antar kita dengan alam. Bahkan untuk menyempatkan sedikit waktu untuk mengalami alam sebagai sesuatu yang bernyawa dan kompleks dalam kesendirian saja sudah mustahi terjadi dalam keseharian kita yang banal ini. Sesederhana duduk dan menikmati detil lekuk akar beringin, megah warna-warni batang rainbow eucalyptus, atau silau-teduh di antara rimbunnya ketapang. Sesederhana menyadari bahwa kehidupan tidak melulu berputar di sekitar hidup manusia kota. Sesederhana menyadari bahwa kehidupan tidak melulu soal manusia dan keinginan-keinginannya saja.













