Sebelum tulisan ini dimulai aku mau bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat sehat dan kesempatan untuk melakukan suatu hal yang luar dari kebiasaan aku ini. Yang kedua aku mau berterima kasih kepada keluarga yang selalu mendukung aku, kepada All in Adventure selaku fasilitator, fans aku yang selalu support aku dalam keadaan apapun *udah mulai error*
Oke, jadi gini guys, 9 hari yang lalu aku iseng buka instagram dan search hastag opentrip. Itu pure iseng doang, but hey siapa yang tau, ternyata keisengan itu adalah cikal bakal dari dicoretnya satu dari “999 mimpi tami”. Oh yeay!
Singkatnya aku ajak beberapa temen untuk ikut opentrip terebut. Dari beberapa temen yang aku ajak, yang beruntung menghabiskan waktunya secara sia-sia bersama aku adalah Bibeh. Haha. Dan jadilah aku dan bibeh join ke dalam opentrip yang dilaksanakan tgl 14-16 Agustus 2015 di Gunung Papandayan. Trip tersebut sebenernya ngga dari Bandung sih, tapi kita ngotot pengen ikutan wkwk. Finally dengan baik hati dan tidak sombong si kakak fasilitator bersedia untuk jemput kita di Pasteur, Bandung.
Sebelum keberangkatan aku nge-list beberapa barang yang harus di bawa saat trip nanti. Di sini aku mau share beberapa barang yang aku bawa dalam trip selama 3 malam 2 hari itu. And these are they:
1. Sandal gunung
2. Kaos kaki tebal
3. Celana ganti
4. Kaos ganti
5. Kerudung instan
6. Topi
7. Sarung tangan. Penting banget supaya kalau kamu pegang ranting tanganmu aman sentosa.
8. Kantong kresek (buat sampah). Wajib! Ga pake kompromi.
9. Air 1,5 lt. Untuk 2 hari 1 malam di Papandayan sih segini cukup, kalaupun ga cukup bisa beli kok di pondok Saladah hehe.
10. Salep anti kram
11. Tissue basah
12. Tissue kering
13. Hand sanitizer
14. Sikat gigi + odol
15. Sabun
16. Sunblock. Kecuali sedang ingin memiliki warna kulit eksotis.
17. Lip balm. Urgent karena angin berdebu di Papandayan bikin bibir petjah-petjah.
18. Piring plastik
19. Cangkir plastik
20. Betadine
21. Minyak Aromatherapy
22. Senter
23. Sleeping bag
24. Energen
25. Cemilan manis
26. Sosis siap makan
27. Power bank
28. Kupluk
29. Syal
30. Mukena. Untuk perempuan muslim wajib ya, kalau laki-laki mah opsional.
31. Underwear. I wear a once weared underwear, it helps me a lot.
32. Masker. Ini super duper urgent, beberapa detik aja ga pakai masker di perjalanan ke/dari Papandayan, maka upilmu akan berwarna coklat, yang berarti debunya banyak bingits.
33. Tolak angin. Kalau mau tolak mantan juga boleh, uuuh cup cup cayaaang #sian
34. Kacamata
Segitu aja sih, ga banyak. Tapi pas di pack di ransel ternyata leh uga beratnya wkwk. Nah, aku pack semua barang-barang di atas menggunakan sebuah ransel berkapasitas 30 lt hasil pinjem dari Fahrul haha. Btw, thanks ya! I don’t know how much money that I have to spent without you wkwk. Berikut penampakan ranselnya:
Sebelum keberangkatan ke TKP, kami para peserta trip dibagi ke dalam 3 kelompok, aku berenam sama Bibeh, Dina, Dira, Eva, dan Fia. Kelompok ciwi-ciwi kici ini difasiitatori oleh Kak Pitoy yang sampai sekarang belum sempat ngobrol sepatah kata pun dengan aku haha. Selain dibagi kelompok juga kita dikasih itinerary nya sama Piyan.
Tibalah saat yang dinanti-nanti, saatnya pelarian dari skripsi yang bikin pening pala belbi. Tanggal 14 agustus 2015. Di itinerary kita dijadwalkan akan dijemput jam 1, tapi apalah daya manusia yang hanya bisa berencana ini. Dikarenakan macet parah, maka aku dan bibeh pun dijemput jam 3 lebih. Aih abang, hayati lelah menunggu, Bang!Abis dijemput gitu kita pelor, nempel ke jok mobil dan langsung molor. Bangun-bangun kita udah ada di tempat sholat. Solat subuh beres dilakonin, abis itu aku melek, ga tidur lagi kaya di kosan. Anak-anak yang lain udah pada saling kenal, cuma aku ama Bibeh doang yang belom saling kenal, eh belom kenalan maksudnye, jadinya kita jadi agak canggung gitu. Udah mah canggung, ga nyampe nyampe deuih ke Papandayan teh, kita muter-muter terus sampai nyasar ke wilayah tak dikenal. Kebetulan di sana yang orang sunda aseli Cuma berbi yang gemes ini, maka dari itu aku berinisiatif buat nanya ke seorang ibu yang lagi nyabitin padinya.
“Bu, punten bade naros, upami bade ka Papandayan teras ka palih mana nya?”
“Oh, lurus we neng, ngkin belok kanan. Tos leres”
“Muhun bu, hatur nuhun!”
Seketika setelah percakapan selesai anak-anak yang tak dikenal itu riuh mengelu-elukan aku “Ih kakaknya kereen!”, “Hatur nuhun”, “Aih bahasa sundanya keluaaar”. Seketika itu juga aku ngerasa terharu wkwk. Dari situ suasana (dalam hati aku) mulai cair, meskipun sampai akhir masih teteup canggung.
Sekitar setengah jam keliling, akhirnya kita sampai ke palang bertuliskan “Selamat Datang di Papandayan”. Tanpa basa basi kita langsung masuk dan 30 menit kemudian mobil yang kita tumpangi udah parkir dan mengeluarkan muatannya. Abis itu kita nungguin fasilitator packing ulang sementara kita sarapan. Pendakian pun di mulai, kita mulai berjalan sambil bawa ransel masing-masing. Tempat pertama yang kita tuju adalah Camp David, di sanalah tempat kita mengadu pada bapak penjaga perihal jumlah pendaki dalam kelompok kita beserta penanggung jawab kelompoknya. Kalau udah kelar ga usah lama-lama curcol di situ, langsung aja cabut ke kawah papandayan. Sensasi indera penciuman di kawah Papandayan itu sama dengan sensasi penciuman saat kita setor di pagi hari, kira-kira seperti ituh. Dari Camp David ke Kawah Papandayan aja kita berkali-kali minta istirahat, ada kali 20 menit pertama mulai jalan kita udah minta istirahat dan setelah itu 5 menit sekali kita rutin istirahat hehe. Tempat selanjutnya yang akan kita tuju adalah Pondok Saladah, tempat di mana kita akan nge-camp. Jalan ke sana amat melelahkan, karena nanjak dan berdebu disertai panas matahari yang terik. Pokonya kalau di film in keren deh. 2 jam kemudian kita sampai di TKP. Lama yah? Iya kan kita abis dari Kawah mampir dulu ke warung yang sudah berdiri sejak entah kapan hehe. Di sana kita ngemil cantik sambil ngobrol-ngobrol. Dari obrolan aku sama Piyan barulah diketahui bahwa diantara peserta yang paling tua adalah aku dan Bibeh, bahkan ama Piyan aja tuaan kita. Tapi jiwa muda kami tetap berkibar, Nak! *eh*
Sampai di Pondok Saladah kita langsung serbu tanah kosong yang ada, karena ternyata yang camp di sana saat itu cukup banyak (mungkin karena efek 17 agustus ye). Setelah tenda berdiri kokoh kita pun masukin barang ke tenda masing-masing sesuai kelompok. And after that, kita menyambangi hutan mati. Oh God! Di sana suasananya peraduan antara indah, sendu, mencekam, dan eksotis. Ga kebayang? Liat aja nih gambarnya
Puas foto-foto centil di hutan mati, kita pun turun ke camp. Pas di camp kita langsung siap-siap buat solat maghrib. Guys, kalau di Pondok Saladah mah da ada toilet siah, Bodor yah? Jadi aja aku sama Bibeh wudlu di sana. Airnya? Brrrrrrrr mantep nusuk tulangnya! Dingin banget! Pas solat aja sampai menggigil gegara dinginnya awet gamau pergi-pergi, seawet kenangan sama mantan *duhile*. Di intinerary sih abis solat maghrib dan isya tuh kita dijadwalkan untuk kumpul bersama gitu, tapi Hayati lelah, jadi Hayati pilih tidur aja. Dua jam pertama tidur aman, ga ada problem, menginjak jam ketiga tidur Bibeh ngeluh sakit palanya, udah kaya Barbie aja. Berhubung aku teman yang baik dan benar, maka aku lapor dan minta obat ke fasilitator, dan ternyata mereka ga punya obat sakit kepala, agak mengecewakan sih, tapi Alhamdulillahnya Fia punya obatnya. Bibeh pun langsung minum itu obat dan tidur pulas.
Besok subuhnya kita ngantri ke toilet, lumayan panjang tuh antriannya kai ini, hal ini menyebabkan terlambatnya solat Subuh kami. Maafkan kami, Ya Allah. Abis itu kita packing dan siap-siap untuk berangkat ke Tegal Alun. I’m really excited! You know lah, aku udah jadi fans sejatinya bunga Edelweiss sejak SD dan belum pernah ketemu mereka secara langsung. Jadi ketika kesempatan meet and greet kayak gini aku seneng bangeeet. Aku kira jarak dari tempat camp ke Tegal alun itu sama dengan ke hutan mati, ternyata jauuuuh banget. Sepanjang perjalanan banyak pendaki yang bilang “Sebentar lagi kok Kak,” atau “5 menit lagi juga nyampe Kak”. Padahal itu semua semu, jaraknya masih jauh dan waktu tempuh yang sebenernya masih jauh dan lama. Entah emang itu adabnya atau apa, sejak awal mendaki dari camp David pun fasilitator maupun pendaki lain yang keliatan expert sering bilang “dikit lagi, semangat!” kalau ditanya masih jauh atau engganya tempat tujuan kita. Ambil positifnya, itu bikin semangat kita muncul lagi dan lagi, apalagi kalau akang-akang gondrong kece yang bilangnya , yang muncul bukan semangat doang tapi benih cinta juga *etdah*.
Trek yang kita lalui untuk bisa liat Padang Edelweiss di Tegal Alun luar biasa terjalnya. Emang bener ya, sesuatu yang indah itu sulit untuk didapatkan. Tapi cape lo, lelah lo, keringet lo kebayar dengan liat pemandangan kek gini:
Begitulah kiranya suasana meet and greet with Edelweiss. Mengharukan banget ih :’)
Setelah puas-puasin pandang-pandangan sama Edelweiss kita turun ke camp dan langsung beres-beres untuk pulang. Ah, sedih. Masih pengen lama-lama di Papandayan, tapi kehidupan nyata (red: skripsi) masih menunggu untuk aku rampungkan. Sambil nunggu yang lain selesai beberes aku sama Bibeh makan roti bakar pisang yang dibikin sama para pria kece (red: para fasilitator). Makanan apapun yang dimakan di saat nge camp kaya gitu tuh selalu terbaik rasanya :’)
30 menit kemudian beberes selesai dan kita langsung cabut ke camp David untuk curcol lagi. Setelah curhat ini itu ke bapak penjaga, maka kita pun langsung menuju ke tempat di mana mobil parkir. Sambil nunggu fasilitator packing aku sama Bibeh balik lagi ke camp David untuk mandi dan bersih-bersih diri karena saat itu kita berdua merasa hina dan kotor. Abis mandi kita langsung solat di jama’ dzuhur sama ashar. Meskipun lagi nge-camp gitu, ga boleh lupa solat, justru harusnya dengan tadabbur alam kaya gitu kita makin deket sama Pencipta kita. Ya kan?
Pas banget kita datang pas packing ulang selesai, jadi kita semua langsung masuk mobil dan pulang.
Demikian kiranya cerita first climbing gue. Tolong diabaikan ya muka-muka hinyay nan eksotis yang nampak di foto-foto yang terpampang nyata di atas.
Last but not least, satu kata buat mendaki gunung: NAGIH!

















