14 februari telah menjadi salah satu hari yang bersejarah bagi teman kami, Fuadah dan Sahir. Di tanggal yang memiliki sejarah kelam (bagi umat Islam) ini menjadi hari pertunangan atau yang orang suku Bugis sebut mappettuada. Di acara mappettuada ini dibicarakan tentang uang panai, akad, mapparola, dan resepsi. Jika ada yang belum jelas maka di mappettuada ini semua harus diluruskan, pernikahan seperti apa yang mau dilaksnanakan. Uang panai nya berapa, akad-nya dimana, mapapparolanya dimana, dan resepsi diadakan satu kali atau dua kali (maksudnya di tempat wanita saja atau di pihak pria juga). Seperti yang kita ketahui salah satu adat suku bugisyang membuat pernikahan suku bugis unik yaitu adanya uang panai. Saya sendiri masih belum dapat asal usul uang panai ini, namun sepemahaman saya yang tidak seberapa ini, Uang panai adalah uang atau harta yang diberikan oleh pihak pria kepada pihak wanita diluar mas kawin sebagai syarat untuk meminang mempelai perempuan. Uang panai ini jumlahnya berfariasi, tergantung garis keturunan mempelai wanita, daerah asal, status pendidikan, sudah naik haji atau belum, dll. Semakin tinggi status pendidikan mempelai wanita maka semakin tinggi pula uang panai nya. Menurut kisah-kisah yang sudah ada, uang panai ini tidak bisa dianggap sepele. Pernah kejadian ada spesang kekasih yang gagal melanjutkan ke akad nikah alias batal kawin karena gagal mencapai mufakat, berapa uang panai yang harus diberikan oleh pihak mempelai pria. Bagaimana dengan teman saya? Kebetulan teman saya, kalau dilihat dari semua-semuanya (maafkan bahasa Indonesia saya). Uang panai nya lumayan tinggi, keluarga baik-baik, pendidikannya tinggi, sudah ke Tanah suci. Sudah pastilah uang panainya akan SUPER SEKALI. Tapi ternyata, dari awal acara mappettuada ini, tidak pernah kami mendengar pembahasan tentang uang panai, setelah kita (saya n akbar) Tanya ke mempelai wanita, memang tidak disyaratkan ada nya uang panai. Cinta dan mahar yang nanti akan disebutkan di ijab qabul ternyata sudah cukup bagi keluarga mempelai wanita. Jujur, saya pribadi tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini. Padahal dari mempelai pria pun, bibit bebet dan bobot nya tidak bisa dianggap remeh(tapi cukup kami saja yang tau, seberapa WOW nya mempelai pria ini hehe). Dalam tulisan ini, saya sekali lagi ingin mengucapkan selamat kepada sistercuu fudex dan brodercuu Sahir atas mappetuadanya. Semoga lancer samapi hari H, dan langgeng sampai ajal. Jangan lupa kalo sudah halal nanti, cepat bikinkan Habibi(anak ku) teman main ya..
(baru sempat nulis lagi, maaf ya :) )
04 Maret 2016 Salam sayang, Dwi Atmaji n keluarga kecil ku















