"Mother died today." Albert Camus membuka "The Stranger" dengan kalimat tersebut. Kalimat itu merupakan salah satu opening line terbaik dalam novel. Dan pada tanggal 22 Juni 2013 saya memakainya. "Mother died today, and may she rest in peace."Â Setahun terakhir ibu saya sakit sirosis kronis, dan memang sudah tidak bisa disembuhkan lagi. Saya selalu membayangkan akan menggunakan kalimat pembuka dari Albert Camus tersebut untuk mengumumkan berita kepulangannya ke rumah Tuhan.
Selama 82 tahun hidupnya, ibu saya selalu melewatinya dengan penuh semangat, kerja keras, dan cinta pada anak-anaknya. Kini saatnya beliau beristirahat dengan tenang, jauh dari sakit, dan damai di sisi-Nya. Mama meninggal dengan tenang dalam tidur tepat pada HUT Jakarta. Tanggal yang tepat untuk Mama karena setiap tahun kematiannya akan dirayakan dengan letupan kembang api di Jakarta, karena Mama dulu suka sekali Jakarta Fair.
Kepergian Mama bukan sesuatu yang mengejutkan. Bahkan seminggu sebelumnya, saya sudah browsing rumah duka, peti mati, Â juga pada bulan April saya sudah âmemprediksiâ bahwa Mama akan meninggal bulan Juni. Kenapa bisa seyakin itu? Karena bulan Juni 2013, saya sudah dapat cuti besar dari kantor. Mengenal Mama, dia pasti akan mengatur jadwal kematiannya untuk tidak merepotkan anak-anaknya. Karena itulah beliau, dia tak pernah mau bikin anaknya susah.
Banyak teman kantor 'mengenal' mama saya dari pempek dagangannya, telepon minta pulsanya, dan jawaban tentang mau dibawain apa kalau saya pulang tiap minggu. Kenangan tentang mama saya begitu dekat dengan teman-teman karena kelucuan beliau, yang walau tidak pernah mengenal langsung mama saya pasti sudah mengenal ceritanya. Setelah bertarung melawan sirosis yang membuatnya hanya bisa terkapar terbaring di ranjang selama setahun terakhir, akhirnya Mama bisa istirahat dalam damai, bisa berjalan lagi dengan langkahnya yg sigap.Â
Dari Mama saya belajar banyak tentang kebaikan, tentang apa yang kita beri akan selalu kembali ke kita. Bahwa apa pun yang diberikan Tuhan pada kita pasti ada alasannya. Menjelang akhir hidupnya, Mama bertemu dengan orang-orang baik yang menolongnya meringankan penderitaan beliau. Mama tak pernah berhitung dalam memberi sepanjang hidupnya, dia selalu bersyukur dalam kondisi apa pun. Dan karma baik Mama kembali dalam jumlah berlipat di masa-masa akhirnya, entah bagaimana dewa-dewa penolong selalu hadir di dekat kami.Â
Mama bisa pergi dengan tenang, tahu bahwa anak-anak dan cucu-cucunya sudah mandiri dan terjaga dengan baik. Beliau pergi dengan amat sangat damai dan bahagia. Sudah sebulan sejak Mama pergi. Kadang sesekali rasa kehilangan itu menyengat, membuat saya merasa oleng, sadar bahwa saya tidak lagi punya seseorang yang menyayangi saya tanpa pamrih. Saya tidak lagi memiliki orang yang saya rindukan keberadaannya, yang jadi tempat saya pulang. Saya tidak punya lagi orang yang selalu percaya bahwa saya bisa jadi apa pun yang saya mau, orang terbaik yang jadi panutan hidup saya.
Kesedihan dan kehilangan kadang terasa melumpuhkan. Saya ikhlas dengan kepergian Mama, Â karena saya tahu itulah yang terbaik untuknya. Tapi saya rindu padanya. Â Saya menyesal atas segala kata-kata buruk yang pernah saya lontarkan, kemarahan yang sesekali meledak di rumah, yang saya tahu pasti menggores hatinya. Tapi saya tahu Mama akan selalu memaafkan saya. Dia adalah satu-satunya orang di dunia ini yang menerima saya tanpa syarat.
Sesekali saya merasa gelisah, takut, dan resah, tanpa adanya Mama. Tapi satu kalimat darinya selalu membuat saya tenang. Dalam jatuh-bangun hidupnya, Mama sering berujar, âTenang saja, semua sudah ada yang atur.â Dan melihat apa yang terjadi setahun terakhir hidupnya, saya makin percaya bahwa semua memang sudah ada yang atur dan kebaikan akan selalu menang.
âSelamat tinggal, Mam. Mama juga tenang aja ya di sana, sekarang saya yang atur semuanya di sini.â
Seharusnya dukacita punya masa kedaluwarsa. Buku peraturan yang menyatakan tidak apa-apa jika kau terbangun dan menangis, tapi hanya dalam waktu satu bulan. -Jodi Picoult, My Sister's Keeper (Penyelamat Kakakku)