Treat Your Career Like It’s Your Own Business
This JUBIR review is brought to you by our digital marketing intern, Riri:
Hari Jumat lalu sekitar pukul empat sore, seluruh penghuni kantor eFishery berbondong masuk ke ruangan meeting internal. Di sana sudah tersedia proyektor yang memancarkan tampilan slide pada tembok. Ada apakah gerangan?
Sore itu ternyata program JUBIR alias Jumat Berbagi Ilmu Rame-Rame kembali digelar. Kali ini, Dimas selaku Head of Special Project eFishery kebagian giliran untuk berbagi ilmu. Namun sebelum itu, Dimas meminta seluruh peserta Jubir kali ini untuk membentuk beberapa kelompok. “Kali ini, saya ingin memulai dengan memainkan sebuah game.” ujar Dimas.
(Bukan, ini bukan lagi les bimbel.)
Tak lama terbentuklah empat kelompok dan permainan pun dimulai. Permainan ini mengharuskan setiap kelompok untuk membayangkan dirinya sebagai divisi-divisi dalam sebuah perusahaan. Masing-masing divisi harus bisa memberi keuntungan yang sebesar-besarnya bagi perusahaan.
Aturan mainnya cukup mudah. Setiap kelompok memegang kertas yang bertuliskan huruf X di satu sisi dan Y di sisi lainnya. Lalu, di setiap ronde, masing-masing kelompok harus mengeluarkan salah satu huruf saja. Poin yang diperoleh tiap kelompok didasarkan oleh kombinasi huruf yang muncul. Kira-kira begini gambarannya:
Permainan berlangsung cukup seru karena beberapa kelompok berusaha untuk mengelabui kelompok yang lain. Beberapa kali ekspresi terkejut muncul ketika semua kelompok mengeluarkan huruf yang sama. Atau ketika satu kelompok tidak sengaja mengeluarkan satu huruf berbeda (yang berarti plus 500 poin!).
Tapi, ketika permainan berakhir dan kelompok pemenang sudah ancang-ancang pasang pose jumawa, Dimas lalu menceritakan analogi dibalik permainan tersebut yang lalu diikuti dengan penyesalan semua kelompok... termasuk kelompok pemenang.(Uh-oh!)
(Papan skor yang menjadi saksi bisu permainan yang cukup panas.)
Setelah dihitung, total poin semua kelompok—yang dianalogikan sebagai keuntungan perusahaan total—berjumlah 5200. Poin tersebut didapat dengan kondisi tidak ada komunikasi atau kerja sama antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Dimas lalu membuat skenario bagaimana jika seluruh kelompok bekerja sama yang berarti kombinasi yang terjadi akan didominasi kombinasi XXYY. Ternyata, poin total keseluruhan yang dihasilkan lebih besar dari 5200.
Selisih dari poin hasil skenario dengan poin asli bisa dianalogikan sebagai opportunity lost yaitu keuntungan perusahaan yang hilang. Ternyata, ketika tiap kelompok bekerja sendiri-sendiri apalagi dengan ambisi berusaha menjatuhkan kelompok lain, keuntungan total yang diraih tidak sebanyak keuntungan ketika tiap kelompok bekerja sama. Opportunity lost-nya pun menjadi lebih kecil.
“Game ini sebenarnya menunjukan apa yang akan terjadi ketika goal pribadi gak sesuai dengan goal perusahaan.” begitu kata Dimas. “Jadinya, sekeras apa pun kita bekerja ternyata malah gak berkontribusi banyak bagi keuntungan keseluruhan perusahaan.”
Tidak berhenti disitu, Dimas lalu menjelaskan mengenai suguhan utama dalam JUBIR kali ini yaitu Personal Business Model. Apa itu Personal Business Model?
Sebelum masuk ke materi, Dimas membawa kita merefleksi diri terlebih dahulu.
Mungkin beberapa dari kita pernah merasakan hambatan dalam menjalani karir. Ada yang merasa jenuh. Ada yang masih berusaha beradaptasi dengan karir yang dijalani sekarang (karena mungkin tidak sesuai dengan passion). Ada juga yang merasa bahwa setelah sekian lama bekerja, nampaknya belum ada suatu hal besar pun yang dihasilkan.
“Gimana? Teman-teman pernah gak ngerasa kayak gitu?” mayoritas yang hadir pun lalu manggut-manggut mengiyakan pertanyaan Dimas (tentunya sembari mengunyah batagor yang datang sepiring demi sepiring).
Ternyata, Personal Business Model ini bisa menjawabnya. Kegalauan seperti yang disebutkan tadi bisa saja dikarenakan kesalahan seseorang dalam memaknai tiga hal: work (karir), value, dan money. Memberi makna lebih pada tiga hal tersebut ternyata bisa membantu menghilangan rasa galau.
Dalam hal karir, kita bisa mengubah mindset kita. Dari yang hanya menganggap pekerjaan sebagai rutinitas, menjadi sebuah misi untuk membantu orang lain.
Lalu dalam hal value (nilai), seringkali kita hidup tanpa memegang suatu nilai. Ada baiknya mulai sekarang tanamkan dalam diri bahwa kita punya value yang ingin kita sebarkan melalui pekerjaan kita.
Terakhir adalah money atau uang. Kita sering menganggap uang adalah segalanya. Namun seringkali, uang hanya bisa menghidupi kita tanpa memberikan kita suatu kepuasan. Kita bisa saja hidup berlimpah harta, memiliki gaji yang besar, tapi kita tidak bahagia. Untuk itu, anggapan bahwa uang adalah tujuan dan satu-satunya benefit yang karir kita berikan perlu diubah.
Lalu, bagaimana supaya kita tahu cara untuk merubah mindset kita terhadap karir kita sehingga kita lebih bisa menjalani karir dengan nyaman dan juga selaras dengan tujuan dari perusahaan kita? Caranya adalah dengan melakukan self-mapping menggunakan Personal Business Model canvas.
(Ini dia Personal Business Model canvasnya. Mau coba isi? Klik disini untuk detail bagannya!)
Merasa familiar dengan kanvas ini? Well, itu mungkin karena kanvas ini memodifikasi Business Model Canvas yang sudah lebih umum kita lihat. Yang berbeda adalah sudut pandang dalam mengisi setiap bagan-bagannya. Jika pada Business Model Canvas kita mengisi bagan dengan hal-hal yang berkaitan dengan perusahaan, pada model ini bagan diisi dengan hal-hal yang lebih personal. Dengan melakukan self-mapping seperti ini, kita belajar untuk treat ourselves and our career like it’s a business.
Setelah mapping menggunakan kanvas ini, harapannya kita tahu lebih dalam makna mengapa kita berada pada karir kita yang sekarang sehingga kegalauan dalam karir pun hilang.
Di akhir, Dimas meminta setiap orang untuk share pembelajaran apa yang didapat dari sesi JUBIR ini. Kira-kira beginilah hasil sharing dari beberapa teman:
“Hari ini saya belajar untuk lebih aware apakah saya sudah membantu atau malah menghambat teman-teman kerja saya.” – Ihsan, CFO eFishery
“Hari ini saya belajar bahwa sebenarnya apa yang ada pada Personal Business Model ini adalah hal yang sehari-hari sering kita pikirkan atau rasakan tapi tidak terkuantifikasi. Mungkin kalau dikuantifikasikan seperti ini, kita jadi tahu apa yang harus kita lakukan untuk solve masalah galau itu.” –Hawa, Content Manager eFishery
“Hari ini saya paham apa kira-kira alasan yang bikin saya ngerasa betah gak betah sama kerjaan yang sekarang.” –Zarah, Aquaculture Scientist eFishery
Melakukan refleksi diri ternyata memang penting untuk bisa me-refresh kejenuhan yang seringkali kita alami dalam hidup. Terima kasih, Dimas, untuk sesi JUBIR kali ini yang inspiring sekaligus refreshing!
Sampai jumpa di liputan JUBIR selanjutnya!