limit
Di hamparan rumput depan balairung, aku duduk merenung. *Tumben, biasanya jarang berpikir sedalam ini, hehe.
Tadi aku baru saja menyaksikan teman-temanku mengucap sumpah sebagai dokter. Ada perasaan bangga sekaligus kagum melihat mereka. Bagaimana bisa ada orang yang begitu gigih, begitu ambisius, hingga mampu menembus batas yang mungkin orang lain anggap tidak terjangkau? Mereka punya keyakinan kuat dan berjalan mantap menuju tujuan yang telah mereka impikan sejak lama. Mereka benar-benar bisa menjadi apa yang mereka mau.
Aku dulu pernah bermimpi jadi dokter. Tapi waktu itu, mimpiku terasa samar. Rasanya aku hanya sekadar ingin tanpa ada keyakinan yang kuat. Ragu-ragu, tak pernah sungguh-sungguh. "Pengen jadi dokter," begitu saja. Sesederhana itu, seolah-olah berharap suatu hari Avatar datang membantuku mengendalikan semua elemen atau mungkin Doraemon muncul dengan mesin waktu dan taraa! aku sudah menjadi dokter. Haha, khayalan kanak-kanak.
Namun, kenyataannya berbeda. Aku merasa tak mampu melewati batas kemampuanku sendiri. Ilmu pengetahuan alam, angka-angka, dan segala hitungan di dalamnya membuatku pusing, bahkan mual. Aku menyerah sebelum benar-benar berusaha. Otakku lemah, pikirku. Aku tak punya tekad sebesar mereka yang kini berseragam putih, bersumpah atas profesi mulia itu.
Di tengah kegundahan itu, seorang teman menghampiriku. "Kenapa kamu pengen jadi dokter?" tanyanya, dengan nada ingin tahu.
"Ya, karena tadi habis lihat sumpah dokter," jawabku sederhana.
Dia tersenyum kecil, lalu berkata, "Kamu juga bisa. Mungkin sekarang kamu belum menemukan jalannya saja."
Kata-katanya terus terngiang di kepalaku. Kalimat itu membuatku merenung lebih dalam. Apakah aku kurang bekerja keras selama ini? Kurang berusaha? Atau mungkin, aku belum cukup mendekatkan diri kepada Tuhan? Mungkin juga ada benarnya bahwa setiap manusia memang diciptakan dengan takdir dan porsi yang berbeda. Setiap orang punya jalannya masing-masing, kan?
Namun, satu hal yang aku pelajari dari perenungan ini adalah bahwa apa pun profesi atau tujuan kita, penting untuk punya clarity to vision—kejelasan dalam melihat impian kita. Cari tahu apa yang sebenarnya kita inginkan dalam hidup ini, dan percaya bahwa kita mampu mencapainya dengan cara kita sendiri. Mungkin bukan jalan yang diambil orang lain, tapi jalan yang memang untuk kita. Dan mungkin, apa yang kita anggap sebagai "limit" sebenarnya adalah awal dari peluang untuk melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas. Tidak ada yang salah dengan memiliki mimpi besar, tapi jangan lupa bahwa perjalanan untuk meraihnya membutuhkan ketekunan, kerja keras, dan yang terpenting, keyakinan pada diri sendiri.
Dan untuk saat ini, itulah yang harus pegang teguh.
Sampai jumpa lagi di perenungan berikutnya.
Sampai jumpa lagi, teman.










