132.
Nyala mimpi itu terlihat semakin jauh dan mengabur dari pandangan. Aku merasa tidak pantas untuk menggenggamnya namun tidak mau pula aku melepasnya begitu saja. Sebegitu berpengaruhkah status sosial dalam sebuah mimpi besar?
Aku ingin mengusahakannya hingga titik akhir perjuangan tetapi belumlah sampai aku pada garis akhir, menyerah sudah merayuku saban waktu.
Aku sempat sepenuhnya yakin pada kemampuan diri. Sebelum akhirnya kini, setitik kecil pun tidak lagi ku temui kepercayaan diri bahwa aku masih layak untuk menghidupkan mimpi yang telah terlanjur redup tertutupi penghakiman diri.
Cukuplah derita yang ku rasa tak pernah habis menghampiri. Kenyataan kadang membuat terpaku mati suri.
Masih mampukah lentera kecil milikku menerangi? Agar nyalanya tetap ada meskipun hanya remang dan temaram yang didapati, setidaknya cahaya mimpiku tidak boleh mati.
Sebab ada banyak air mata dan tangan yang menengadah untuk aku dan mimpi-mimpi. Ada senyum merekah yang harus ku cipta. Ada tangis haru yang ingin ku lihat dan ada mereka yang harus ku bahagiakan di beranda rumah.
Mimpi, izinkan aku memperjuangkanmu sekali lagi meski harus tertatih-tatih!
Ujung Pintu, 18.51 | 17 Februari 2023.









