Rahasia Rumah Tua #1
(Foto: Rumah Rinjani, Malang)
Kabar Baik(?) di rumah Marni dan Sapto
“Ah serius jeng?? Wah nanti coba bilang suami aku dulu deh yah jeng… Iya di sini agak gerah, kurang nyaman juga. Aku tuh ga betah kalau terus-terusan di sini… makasih yah jeng!”, Marni menutup teleponnya dengan bahagia.
“Bu, Ibuuu, tolong ambilin Bapak minum Buu..”, Sapto sang suami berteriak dari ruang tamu.
“Ndak usah teriak-teriak Bapak… Ibu denger kok.. lagian rumah ini kan kecil, ngomong pelan aja juga kedengaran sampe tetangga!”, Marni mengomel di dapur 3x4 m2 nya yang mungil.
Meski mengomel ia tetap membuatkan teh untuk sang suami.
Pagi itu masih sepi, hanya Marni dan Sapto yang sudah terbangun. Anak-anak mereka, Lila, Sarah, dan Ade masih terlelap di dalam kamar tidur anak.
“Ini tehnya Bapak…”, Marni menaruh secangkir teh buatannya di atas meja tepat di depan suaminya yang sedang duduk menonton tv.
“Ada apa Sayangku Marni? Kok wajahmu lesu begitu? Kamu lapar?”, tanya Sapto yang sejak tadi memperhatikan raut wajah sang istri yang berbeda dari biasanya.
“Pak…”, ucap Marni memelas.
“Iya Bu, bagaimana?”, tanya Sapto mencoba terlihat perhatian.
“Tadi Siska telfon Ibu, kata Siska dia mau jual rumah saudaranya di Bogor. Rumahnya besar deh Pak. Rumah model Belanda berlantai 2 dengan properti rumah masih lengkap, ditinggalkan pemilik lamanya, harganya miring lagi Pak!”, ucap Marni yang sudah menjadi bersemangat dan sumringah.
“Oalaah, Ibu mau Bapak lihat rumahnya? Kita rencana pindah ke sana gitu?”, akhirnya Sapto mengerti maksud istrinya.
“Lha iya tha Pak, harganya bagus banget! Sesuai sama tabungan kita untuk bangun rumah itu. Daripada kita nunggu lagi 10 tahun. Lha ini udah ada yang pas di kantong Pak harganya..”, Marni mengompori.
“Rumah sebesar itu, lantai dua dan sudah isian, kenapa harganya bisa murah Bu?”, tanya bapak menyelidik.
“Anu.. kata Siska, saudaranya yang dulu nempatin sudah meninggal Pak, Janda tua, ndak punya anak. Makanya sama keluarga rumah itu dijual. Karena keluarga Siska juga sudah mapan, harga rumahnya pun ya dikasih murah aja gitu Pak.. Ayo lah Pak kita lihat dulu!”, pinta Marni.
“Yaudah deh yaudah, kalau Ibu maunya begitu! Dekat juga sama kantor Bapak kalau di Bogor, yuk siap-siap.”, jawab Sapto menyenangkan hati istrinya.
Hari Kepindahan, di Rumah Baru
“Bu! Mainan Ade di taruh di kardus yang mana?”, teriak Ade yang sedang menaiki mobil pick up yang parkir di dekat pagar rumah, ia hendak mencari kardus miliknya.
Ibu tidak menjawab. Ia terlalu sibuk menata barang lainnya. Keluarga besar ini ternyata punya barang yang banyak juga. Butuh 1 truck dan 3 mobil pick up untuk membawa seluruh barang dari rumah lama ke rumah baru ini. Rumah baru ini rasanya memang pas untuk keluarga Marni.
Ade masih sibuk mencari kardusnya, tak terasa ada yang memperhatikannya.
“Hai Ade, baru pindah ke sini ya?”, sapa seseorang yang kini berdiri di pagar rumah Ade. Ia menyandar tubuhnya ke pagar dan kepalanya melongok ke arah Ade, seperti orang mengintip.
“Siapa??”, Ade terkejut. Spontan ia menoleh ke arah suara datang.
“Hei, ditanya kok balik tanya? Aku tetanggamu, namaku Mila, salam kenal ya..”, wanita itu terus tersenyum ketika berbicara. Kini sang wanita mendekati Ade untuk mencoba menyalami anak itu. Ia menunjukkan aura yang aneh, pakaiannya pun aneh, lusuh sekali!
“Eh, eh..”, Ade diselimuti rasa takut saat sang wanita mulai mendekat. Diremasnya kardus untuk menghilangkan rasa paniknya.
“Ade, kok di mobil terus sih? Ayo masuk udah mau maghrib!”, sang Ibu mendekati Ade yang sedang terdiam menghadap pagar.
“Loh Ibu? Itu… ada kak...”, Ade menoleh ke Ibunya lalu kembali menoleh ke seseorang yang menyapanya tadi. Namun, tidak ada siapa-siapa!
“Kak siapa? Wong kamu daritadi bengong aja sendirian nak, udah sini masuk, pamali!”, perintah sang Ibu.
“Loh Ibu! tadi siapa yang ajak aku bicara?” Ade mengejar ibunya yang berjalan masuk ke dalam rumah.
Lekas kedua ibu anak itu memasuki rumah dan memulai makan malam bersama. Semua khidmat menyantap hidangan buatan Marni. Sampai tiba-tiba……..
Sampai jumpa pekan depan :D
Catatan: Foto hanya bantuan visualisasi cerita, tidak ada kesamaan antara cerita ini dengan cerita asli foto.











