Something beautiful is coming soon! ✨ Our Handblock Print Dupatta is crafted with love and tradition, bringing art to your wardrobe.
Excited? Drop a ❤️ in the comments!
seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands
seen from Ireland
seen from United States
seen from Germany

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Canada

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from India
seen from United States
Something beautiful is coming soon! ✨ Our Handblock Print Dupatta is crafted with love and tradition, bringing art to your wardrobe.
Excited? Drop a ❤️ in the comments!

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
American Pickers (TV Series 2010– ) ⭐ 7.0 | Documentary, Reality-TV
1h | TV-PG
ARUS LIAR BAHASA DAN JEJAK LOKALITAS YANG MENGGEMA DALAM KUMPULAN SAJAK BUHUL GAUNG LUBUK LESUNG KARYA ASTRAJINGGA ASMASUBRATA
Oleh Haikal Kurtubi
Dalam sebuah lanskap yang riuh oleh kata, di mana bahasa tak lagi sekadar medium komunikasi, tetapi medan perlawanan, ingatan, dan keterasingan, kumpulan sajak Buhul Gaung Lubuk Lesung karya Astrajingga Asmasubrata hadir sebagai tubuh yang bergetar oleh gaung masa lalu dan dentuman modernitas. Ini bukan sekadar kumpulan sajak, melainkan sebuah inskripsi atas ketegangan antara suara yang mengendap dalam lubuk sejarah dan dentang yang menggema dalam ruang-ruang kota yang terus berubah.
Membaca buku ini adalah memasuki sebuah labirin bahasa, tempat kata-kata tidak hanya diletakkan, tetapi juga dikuliti, disusun kembali, diulang hingga bergetar, berbelit seperti buhul yang tak mudah diurai. Di antara percakapan yang terputus dan asosiasi yang melompat-lompat, ada yang tetap terasa kukuh: lokalitas yang tidak hadir sebagai nostalgia, melainkan sebagai medan tarik-menarik antara ingatan dan dislokasi.
Sajak-sajak dalam buku ini tidak sekadar menyampaikan perasaan atau gagasan; mereka menciptakan peristiwa. Sebuah sajak bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dialami, untuk ditelusuri seperti lorong-lorong yang bercabang, tempat di mana suara-suara samar bisa terdengar, tempat di mana cahaya yang redup menyingkap jejak-jejak yang hampir terlupakan.
Di dalam sajak-sajak tertentu, ada sejenis keheningan yang justru lebih nyaring daripada kata-kata yang tertulis. Ruang kosong di antara baris-baris sajak terasa lebih hidup daripada teks itu sendiri, seperti jeda dalam musik yang justru memperkuat resonansi suara.
Ketika sebuah sajak hanya menyisakan serpihan kalimat yang terputus, ketika sebuah kata diulang hingga kehilangan bentuknya, ketika sebuah frasa yang seharusnya lugas tiba-tiba melompat ke dalam dimensi yang tak terduga—di situlah sajak-sajak ini mencapai puncaknya.
Buku ini tidak sekadar mengandalkan citraan yang kuat, tetapi juga permainan ruang dalam teks. Kata-kata disusun sedemikian rupa sehingga menciptakan ritme visual, membentuk lanskap yang tidak hanya terdengar, tetapi juga terlihat dan terasa.
Peristiwa Bahasa: Dari Ledakan ke Kesuwungan
Sajak-sajak Astrajingga Asmasubrata dalam buku ini tidak mengalir seperti sungai yang tenang; ia berhamburan, melawan sintaksis baku, dan sering kali menabrak dirinya sendiri. Kata-kata yang biasanya berfungsi sebagai penyusun makna kini meledak, berserak dalam fragmen-fragmen yang tidak menawarkan kejelasan tunggal.
Namun, di balik kekacauan itu, ada pola. Ada ritme yang mengatur benturan kata-kata itu, sebuah struktur yang lebih dekat dengan musik ketimbang narasi linear. Repetisi muncul bukan sebagai pengulangan yang stagnan, melainkan sebagai gema yang semakin menguat, seperti gaung di lubuk yang dalam.
Misalnya, dalam sebuah sajak yang tampaknya dipenuhi oleh kata-kata yang terpotong-potong, ada kesadaran penuh terhadap bagaimana bahasa bekerja. Kalimat-kalimat tidak sekadar diinjak-injak atau dibiarkan tercerai-berai, melainkan ditata ulang dengan irama yang nyaris ritualistik. Ini bukan sekadar permainan bahasa, tetapi usaha membongkar bahasa itu sendiri, memperlihatkan bahwa di dalamnya tersimpan jejak-jejak kekuasaan, represi, bahkan kekalahan.
Di titik tertentu, sajak-sajak ini seperti menggumam dalam kesuwungan. Kata-kata menjadi lebih sedikit, tetapi resonansinya justru lebih dalam. Seakan setelah ledakan bahasa, yang tersisa hanya serpihan gema yang terus berdetak dalam ruang kosong.
Dalam pembacaan lebih dalam terhadap Buhul Gaung Lubuk Lesung, terasa bagaimana bahasa dalam sajak-sajaknya tidak hadir sebagai sesuatu yang mapan. Ia terus-menerus diretas, diguncang, ditabrakkan dengan bunyi, dengan ingatan, dengan tubuh yang limbung di antara lorong-lorong kota dan jalan-jalan yang hilang. Tidak ada kepastian dalam bahasa yang dipakai, hanya gelombang yang menderu, mendorong, dan akhirnya menenggelamkan makna yang konvensional.
Sebagai pembaca, kita tidak hanya menyusuri teks, tetapi juga terseret oleh arusnya. Kata-kata yang membentur satu sama lain menghasilkan riak makna yang sulit dikekang oleh sintaksis biasa. Kadang, sebuah frasa yang tampaknya sederhana menjadi pusat dari pusaran makna yang tak selesai. Kadang, sebuah baris yang terputus justru lebih nyaring gaungnya ketimbang bait yang utuh.
Dalam buku ini, bahasa tidak bisa dipisahkan dari materialnya. Ia lebih dari sekadar simbol atau representasi; ia adalah bahan mentah yang terus-menerus dipahat, dihancurkan, lalu disusun ulang dengan cara yang lebih kasar, lebih tak terduga. Kata-kata seperti pecahan kaca yang berserakan, berkilau sekaligus melukai.
Yang menarik adalah bagaimana keterputusan ini justru tidak membuat sajak-sajaknya kehilangan arah. Sebaliknya, kekacauan ini adalah bagian dari strategi untuk meretas kemapanan bahasa itu sendiri, untuk mengungkap bagaimana bahasa sering kali dipakai bukan untuk membuka kemungkinan, tetapi justru untuk menutupnya.
Ada upaya untuk menggali bahasa hingga ke akarnya, untuk mengingat kembali bagaimana kata-kata pernah digunakan dalam konteks yang lebih intim, lebih dekat dengan tanah, lebih merasuk ke dalam tubuh. Tetapi pada saat yang sama, ada kesadaran bahwa bahasa itu sendiri telah berubah, telah tergerus oleh waktu, telah dipaksa tunduk pada ritme kota yang cepat dan tak kenal ampun.
Lokalitas: Antara Ingatan dan Dislokasi
Jika dalam banyak sajak lain lokalitas sering kali hadir sebagai sesuatu yang statis—sebagai latar, sebagai simbol nostalgia—Astrajingga Asmasubrata dalam buku ini, lokalitas justru menjadi sesuatu yang cair, yang tidak pernah bisa benar-benar digenggam.
Tempat-tempat dalam sajak-sajak ini tidak sekadar disebutkan sebagai nama, tetapi dihidupkan sebagai entitas yang bergerak, yang berubah, yang memiliki ingatan sendiri. Sebuah desa bisa tiba-tiba menghilang dalam kabut bahasa. Sebuah kota bisa menjadi sesuatu yang asing dalam waktu semalam.
Di titik ini, sajak-sajak dalam Buhul Gaung Lubuk Lesung tidak sekadar merekam lokalitas, tetapi juga mempertanyakannya. Seberapa jauh seseorang bisa membawa serta tempat asalnya ketika segala sesuatu terus berubah? Apakah lokalitas hanya ada dalam ingatan, ataukah ia benar-benar bisa tetap hidup dalam bahasa yang terus bergerak?
Judul Buhul Gaung Lubuk Lesung sendiri sudah menjadi semacam mantra yang mencerminkan ketegangan utama dalam kumpulan sajak ini: buhul sebagai simpul, gaung sebagai gema yang tak pernah selesai, lubuk sebagai kedalaman yang menyimpan ingatan, dan lesung sebagai wadah di mana yang keras dihancurkan, digerus, diubah menjadi sesuatu yang lebih halus.
Lokalitas dalam buku ini bukan sekadar referensi geografis atau romantisme terhadap tanah asal. Ia adalah medan tarik-menarik antara yang ingin menetap dan yang harus pergi, antara yang mengakar dan yang tercerabut. Dalam sajak-sajak yang dipenuhi dengan nama tempat, fragmen sejarah, dan detail keseharian yang nyaris absurd, ada usaha untuk terus merangkai ulang makna tentang “tempat” dalam dunia yang semakin tidak pasti.
Di beberapa bagian, sajak-sajak ini menampilkan fragmen percakapan yang terasa seperti berasal dari dapur sebuah rumah tua, dari warung kopi di pinggir jalan, atau dari surau yang telah lama ditinggalkan. Tetapi di bagian lain, suara-suara itu bergema dalam lanskap yang lebih urban, di mana kata-kata kehilangan konteksnya dan berubah menjadi sekadar noise dalam ruang kota yang dipenuhi tanda-tanda asing.
Yang menarik adalah bagaimana lokalitas dalam buku ini tidak pernah hadir sebagai sesuatu yang utuh. Ia selalu retak, berlapis, dan berkonflik. Sebuah nama tempat tidak pernah hanya sekadar nama; ia membawa serta sejarahnya, mitosnya, dan bahkan luka-lukanya. Ada desa yang tak lagi ditemukan di peta, ada jalan yang tak lagi mengarah ke mana-mana, ada rumah yang hanya tersisa dalam ingatan.
Antara Tubuh, Kota, dan Ingatan
Jika ada sesuatu yang membuhul seluruh sajak dalam buku ini (dengan penuh resiko saya katakan), maka itu adalah ketegangan antara tubuh, kota, dan ingatan. Tubuh hadir tidak hanya sebagai entitas fisik, tetapi sebagai arsip yang menyimpan jejak perjalanan, perpisahan, dan kehilangan. Kota muncul sebagai ruang yang tidak pernah benar-benar akrab, selalu berubah, selalu mengasingkan. Sementara ingatan adalah medan yang terus-menerus dirundingkan, ditafsir ulang, dipertanyakan.
Banyak sajak dalam buku ini yang menghadirkan tubuh yang terjebak dalam ruang yang terus bergerak, tubuh yang tidak pernah benar-benar memiliki tempatnya sendiri. Ada yang berusaha meraba kembali masa lalu, tetapi yang ditemukan hanyalah fragmen-fragmen yang tidak pernah benar-benar menyatu. Ada yang mencoba mencari keteguhan dalam identitas lokal, tetapi yang muncul justru perasaan keterasingan yang semakin dalam.
Dalam sajak-sajak tertentu, ada gambaran tubuh yang dirayakan sekaligus dihancurkan, tubuh yang bergerak di antara reruntuhan bahasa, tubuh yang menjadi pusat sekaligus batas dari seluruh kegelisahan ini.
Kota, dalam buku ini, bukan sekadar latar. Ia adalah entitas yang hidup, yang mengubah siapa pun yang melewatinya. Kota adalah tempat di mana kata-kata kehilangan maknanya, di mana ingatan terus dihapus dan ditulis ulang, di mana lokalitas menjadi sesuatu yang harus terus dinegosiasikan.
Salah satu benang merah yang paling mencolok dalam Buhul Gaung Lubuk Lesung adalah kehadiran tubuh yang berkelindan dengan bahasa. Tubuh bukan sekadar objek dalam sajak-sajaknya, tetapi juga medan di mana bahasa mengalami distorsi, kehilangan bentuk, lalu berubah menjadi sesuatu yang lebih mendalam, lebih visceral.
Dalam beberapa sajak, tubuh hadir sebagai sesuatu yang dirayakan sekaligus dipertanyakan. Ada tubuh yang berusaha melekat pada ruang yang terus berubah, tubuh yang terhimpit antara ingatan dan modernitas, tubuh yang menjadi saksi dari bahasa yang tak lagi sepenuhnya bisa dipahami.
Kadang, tubuh muncul sebagai pusat dari pengalaman bahasa itu sendiri. Kata-kata tidak hanya meluncur dari pikiran, tetapi juga dari daging, dari luka, dari denyut nadi yang tak teratur. Bahasa bukan lagi sekadar alat komunikasi, tetapi sesuatu yang lebih fisikal, lebih dekat dengan napas, dengan sentuhan, dengan letupan-letupan di bawah kulit.
Kekuatan utama dari Buhul Gaung Lubuk Lesung karya Astrajingga Asmasubrata adalah kemampuannya untuk menciptakan makna bukan melalui kejelasan, tetapi justru melalui gangguan, melalui gesekan antara kata-kata, melalui benturan antara bahasa dengan pengalaman yang tak selalu bisa dituliskan.
Di dalam sajak-sajaknya, ada semacam kebisingan yang disengaja—sebuah latar bunyi yang tidak pernah diam, sebuah ritme yang terus-menerus mengganggu ketenangan pembaca. Tetapi justru dalam kebisingan itulah kita dipaksa untuk mendengar lebih dalam, untuk mencari nada-nada yang tersembunyi di balik dentuman yang keras.
Setiap repetisi dalam buku ini bukan hanya pengulangan, tetapi sebuah upaya untuk menghidupkan kembali sesuatu yang hampir hilang. Setiap distorsi dalam bahasa bukan hanya permainan eksperimental, tetapi cara untuk menunjukkan bagaimana bahasa telah diubah, dipaksa, dan dalam beberapa hal, dirampas dari makna aslinya.
Gaung yang Tak Pernah Selesai
Pada akhirnya, Buhul Gaung Lubuk Lesung bukanlah sekadar kumpulan sajak, melainkan sebuah peristiwa bahasa yang menggetarkan. Ia menawarkan pengalaman membaca yang tidak mudah, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Buku ini menolak untuk memberikan makna yang sederhana, menolak untuk tunduk pada aturan bahasa yang baku, menolak untuk menjadi sekadar dokumentasi tentang lokalitas.
Sebaliknya, ia menghadirkan bahasa sebagai sesuatu yang terus bergerak, yang terus mencari bentuknya sendiri. Ia menjadikan lokalitas sebagai medan yang kompleks, penuh ketegangan antara ingatan dan keterasingan. Ia menggema dengan suara-suara yang pernah ada, yang mungkin telah dilupakan, tetapi terus berusaha untuk tetap terdengar.
Di dalam buku ini, sajak-sajak bukan hanya ditulis, tetapi juga dihidupkan, dihancurkan, dibangun kembali. Dan ketika halaman terakhir ditutup, yang tersisa bukan hanya kata-kata, tetapi juga denyut yang terus berdetak—seperti buhul yang belum terurai, seperti gaung yang belum selesai.
Membaca Buhul Gaung Lubuk Lesung karya Astrajingga Asmasubrata bukan buku yang bisa dinikmati dalam satu kali duduk; ia menuntut keterlibatan penuh, menuntut agar pembaca bersedia tenggelam dalam arus bahasa yang liar dan tak beraturan. Antara sajak yang panjang dan sajak yang pendek menyimpan gaung yang sama-sama suwung.
Tetapi di situlah letak kekuatannya. Buku ini bukan hanya sekadar kumpulan sajak, tetapi sebuah lanskap yang terus bergerak, sebuah getaran yang tak pernah berhenti. Ia menghadirkan bahasa sebagai sesuatu yang hidup, yang bernapas, yang tidak bisa dikekang oleh aturan-aturan baku.
Lokalitas dalam buku ini tidak hadir sebagai nostalgia, tetapi sebagai pertarungan yang tak pernah selesai—antara yang ingin tetap ada dan yang terus-menerus digerus oleh waktu. Bahasa dalam buku ini bukan sekadar alat, tetapi medan di mana makna terus dipertaruhkan.
Dan setelah halaman terakhir ditutup, gema dari buku ini masih akan terus terasa. Seperti buhul yang tak terurai, seperti gaung yang belum selesai, seperti lubuk yang terus menyimpan suara-suara yang tak mau hilang.
Akhirul kalam: Larik terakhir telah ditulis, tetapi suara Idris kadung membuhul gema purba (gaung suwung)—di antara ziggurat yang menjulur ke langit, mihrab yang basah oleh amis darah, dan pertanyaan paling tua dalam sejarah manusia yang diajukan oleh seorang bocah kepada Idris itu tak kunjung usai: mana yang lebih kultus—firman atau pedang?
2025
Haikal Kurtubi, Alumni Pondok Pesantren Darussalam Blokagung.
"Exciting news! Thanks to your incredible support, our business is growing. Today marks a new chapter, and we can't wait to take this journey with you!"
🎁Last Chance! Get your last-minute stocking fillers and holiday adventure fuel sorted! Orders need to be in by this Monday for delivery, within New Zealand, before Christmas. 𝐒𝐡𝐨𝐩 𝐚𝐧𝐲 𝐩𝐫𝐨𝐝𝐮𝐜𝐭𝐬 𝐚𝐧𝐝 𝐠𝐞𝐭 𝐔𝐩𝐭𝐨 𝟐𝟓% 𝐎𝐅𝐅. 𝗨𝘀𝗲 𝗖𝗼𝗱𝗲: 𝗠𝗘𝗥𝗥𝗬𝟮𝟱 𝗢𝗿𝗱𝗲𝗿 𝗡𝗼𝘄: https://rb.gy/tzei64

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
hehe little WIP's ^^
Follow @revolvver and get more of the good stuff by joining Tumblr today. Dive in!
Reposted from @moodlabsnc #disclaimer kids #coomingsoon da #AnniVerdiSusi https://www.instagram.com/p/Cng5_qys9sL/?igshid=NGJjMDIxMWI=