Pesan di Perjalanan
Perjalanan tiga jam dari Surabaya menuju rumah waktu itu sedikit beda. aku memilih duduk disebelah perempuan paruh baya, yang aku sapa “permisi, bangkunya kosong?” aku dipersilahkan duduk, dan obrolan basa-basi pun dimulai. kerja/ kuliah, mau kemana, dst.
dasar aku, tak tega mengabaikan pertanyaan. kami pun ngobrol banyak hal sepanjang perjalanan. tiga jam.
dimulai dari aku sedang kuliah dibidang apa serta berencana kerja dimana. rencana kerja dimana itu tergantung ridho Allah (juga ridho orang tua. ya kan?). lalu... selepas dunia perkuliahan yang sangat nyaman, kita akan berhadapan dengan dunia yang sebenarnya. bergabung dengan semua orang diluar sana. bermasyarakat, bersosialisasi dengan semua orang tanpa terkecuali. dan aku perempuan. sama seperti ibu paruh baya disebelahku.
perempuan boleh bermimpi setinggi langit, perempuan boleh bekerja, dan perempuan boleh berkarya.
pernyataan ini jebakan. selama janji suci belum diucap, pelajari dulu hak dan kewajiban perempuan dalam rumah tangga. pesan beliau, “kalau sudah punya suami itu mbak, keluar sama teman kerja itu ada batasnya. tapi ya kita harus tetap bisa ngguyubi. kalau misal ada acara makan-makan setelah pulang kerja gitu, saya tetap ikut, tapi nanti pulang duluan pake alasan apa kek gitu. yang penting tetap bisa ngguyubi “
bebas tapi berbatas
obrolan kami berkembang, ibu paruh baya itu bercerita tentang anaknya yang tahun depan akan kuliah. anaknya perempuan. karena beliau tinggal di Pandaan, jadi anaknya disarankan kuliah di Malang atau Surabaya. kemudian tentang tetangganya, “tetanggaku itu mbak, ada yang suka beli barang-barang nggak penting padahal suka ngutang. anaknya empat, yang sudah kerja satu. punya uang bukannya ditabung malah buat beli mobil. pokoknya kalo udah rumah tangga tuh yang dipikir banyak, jangan kebanyakan gaya” “iya bu..”
perjalanan kami se-tujuan. beliau dalam perjalanan pulang ke rumah ibunya. “saya tuh mau endang ke rumah ibuk. ibuk ku itu di rumah sama adik ku yang terakhir, cowok. tapi mau gimana pun ibu itu apa-apa ya tetep sama anak perempuannya. biarpun saya jauh, tapi kalo ada apa-apa ya saya cepet-cepet ke rumah ibu. lha wong kalo mau pinjam uang aja ke saya padahal adik saya itu serumah” *boom! seperti mendengar petuah dari ibuku sendiri. meskipun anak perempuan sering berantemnya kalo sama ibunya, tapi sebenernya ya saling butuh juga.
“saya itu tinggal sama suami, deket sama rumah mertua mbak. meskipun nggak serumah, tapi mertua saya itu apa-apa ya saya. kalo saya baru dari luar kota gini, yang saya kasih oleh-oleh pertama ya mertua saya. padahal dulu cerewetnya minta ampun. kalo sama mertua itu sabar dulu mbak, nanti kalo sudah akrab malah enak. kayak sama orang tua sendiri” wkwkwkwk dari banyak cerita tentang “mertua”, logikanya gini.. ibu itu pasti sayang banget sama anak laki-lakinya, terus tiba-tiba ada perempuan dateng dan anak laki-laki itu sayang sama perempuan itu. cemburu. jadi ya mau gimanapun surganya laki-laki itu di Ibunya. dan surganya perempuan setelah menikah itu di suaminya, jadi ya harus ngguyubi mertua. ya gitulah pokoknya, gatau prakteknya kayak apa. gue blm punya mertua wkwkwk.
lalu kami sampai di terminal dan berpisah. selalu ada orang-orang tidak terduga dengan pesan luar biasa di setiap perjalanan.












