[JALAN apa??] Dulunya ini hanyalah jalan setapak yang digunakan sebagai jalan menuju kebun karet milik penduduk. Benar-benar hanya jalan setapak yang hanya bisa dilewati dengan jalan kaki. Dulunya ketika harga karet berjaya, tak hilang semangat untuk menyadap getah karet meski harus berangkat menuju kebun sejak sholat subuh usai ditunaikan. Kini, meski telah ada jalan seperti ini, perjalanan menuju kebun karet dapat ditempuh dengan sepeda motor sehingga waktunya lebih singkat. Semangat itu seperti hilang ketika harga karet jatuh menghantam. Tujuan dibukanya jalan ini barangkali memang bukan untuk memudahkan akses untuk penduduk menyadap getah karet. Pada awalnya, jalan ini dibuka untuk proyek transmigrasi, katanya begitu. Menuju 3 tahun sejak jalan ini mulai dibuka, proyek transmigrasi itu seperti tenggelam, tak ada kabar beritanya. Sekitar 40 rumah yang dulunya dibangun, kini bahkan mungkin telah lapuk di tengah hutan. Yang tampak justru pohon kayu yang ditebang, bukan, bukan pembalakan liar. Hutan kami ditebang oleh orang-orang yang membawa alat berat untuk mencabut akarnya. Katanya mereka para pengambil pohon yang mempunyai izin legal yang dapat mengeluarkan ratusan bahkan ribuan kubik kayu mungkin setiap minggunya. Ya, mereka mempunyai alat berat bahkan mobil bak untuk mengangkut pohon-pohon kayu utuh yang katanya langsung diekspor ke luar negeri sana. #ceritapadang #sijunjungrancak (at Sijunjung, Sumatera Barat, Indonesia)