Apa Jadinya Kalau Tidak Ada Saya?
Ini pengalaman saya saat meeting sore ini. Tiba-tiba saja sang manajer berteriak apa jadinya kalau tidak ada dirinya? Apa jadinya kalau dirinya mendadak meninggal? Perusahaan bisa “jatuh”. Bagaimana dengan nasib 400 orang pekerja? Bagaimana dengan nasib anak dan istri mereka?
Sejujurnya saya merasa tergelitik dengan pernyataan ini. Saya sendiri sebentar lagi akan mengundurkan diri, dan saat saya menyatakan niat ini kepada sang manajer, dua hari kemudian mendadak ada wawancara karyawan baru dan esoknya orang itu telah bekerja dan saya diminta membimbingnya. Ya begitulah yang namanya perusahaan, bahasa kerennya “coorporate life”. Tidak ada anda, ya cari orang baru. Yang namanya pencari kerja pasti ada.
Tetapi ini juga aneh, apabila kita tidak ada apakah perusahaan ini akan bangkrut? Well, masa depan ada tidak ada yang tahu. “Misteri Ilahi” bahasa bekennya. Kenapa tidak dikatakan kalau tidak ada kita, maka perusahaan menjadi lebih baik? Rasa ego itu rasanya sangat tercium aromanya bukan?
Setiap orang punya plus-minus nya. Setiap keputusan ada baik buruknya. Tidak perduli berapa kali kita menyelamatkan perusahaan ini ataupun “merasa” menyelamatkan, tetap saja tidak perlu khawatir, jika memang sudah saatnya, maka sudah saatnya. Hal ini juga pernah menjadi kekhawatiran saya ketika memutuskan untuk resign. Apa jadinya bila tidak ada saya, apakah mereka akan baik-baik saja? Dan saya memilih mendoakan mereka untuk baik-baik saja.












