Kopi..sudut kota dan kamu..
Hai kamu yang nun jauh disana, yang jarak antara kita hanya sekitar 2 jam dengan pesawat tapi beribu kilometer jauhnya jika kutempuh dengan berjalan kaki..
Kamu yang kala itu menaruh perhatian kepadaku, ntahlah mungkin hanya aku yang merasa kalau perhatianmu padaku lebih tapi sejujurnya itu yang kurasa.
Pernah satu kali kita sibuk membahas tentang kedai kopi yang kau impikan. Saat ini kau tengah merintisnya dengan jerih payahmu, mengumpulkan bahannya satu persatu. Kala itu kita berbincang via whatsapp bahwa kelak kedai kopi itu berdiri dan aku akan menunggui pemiliknya dengan senyuman khas istri menanti suaminya pulang bekerja.
Mungkin kau sudah lupa tentang itu, tapi entah kenapa hal itu begitu membekas dibenakku bahkan ke lubuk hati terdalamku. Sejak hari kita menelusuri kota berdua, menjadi "gembel" katamu dan sejak saat itu aku menaruh kagum padamu. Pada sosokmu yang tangguh, jenaka, penuh perhatian dan cuek ya aku jatuh hati pada semua hal tentangmu.
Tapi kini ketika rasa itu membuncah, entah mengapa kamu terasa semakin jauh. Kau semakin tak tersentuh, bahkan kau tak menjawab rinduku lagi. Tak ada kau yang selalu menyambutku dengan hangat. Menyambut setiap pesanku dengan antusias, yang ada kini hanya kau yang semakin menjauh dan sulit kusentuh. Jarak dan waktu rupanya benar akan membuatmu semakin jauh dari pandanganku.
Teruntuk kamu, jika kelak kau membacanya kuharap masih ada kesempatan bagi kita untuk berjumpa. Masih ada waktu untuk kita membahas kedai kopimu dan masih ada ruang untukku dihatimu..














