Kusambut sebagai delusi. Menghampiri perlahan menghasilkan sebuah kebohongan. lelah menjadi tradisi, pun dikejar lelah. tidak harap untuk tersenyum, saat ini semua kelu. tidak perlu banyak basa basi, aku tunjuk kamu untuk sebuah inti. pusat dari semua yang tidak pernah menanti hadir. Aku haram memberi sebuah putusan. Aku kambing hitam dalam mulut pencibir.
Kamu tergelincir dari jangkauanku. Kamu tak tahu bagaimana meraih tangan tangan yang menjulur di sekitar. yang kamu pikirkan hanya fana. nilai riil untuk sebuah kemunafikan, menjadi tabu terekam dalam nestapa. aku tidak pandai untuk menggambarkan bagiamana satu sepertimu tidak kurun menjadi ganjil jika aku enggan untuk bersaing, mengakui diri sebagai penoda. ini berkah dari perjalananku sepanjang jalan, segar dan originalitas.
Aku rela dibenam, aku rela melintasi berbagai macam delta lalui julur julur sungai bermuara, tanpa kamu aku tidak terus tertunduk menutup mata dengan dalih menghindari luasnya seluruh yang terberi. katamu, kamu tak apa, kataku, kita tak seberapa, namun kita tahu, kita terlalu malu untuk mengakui, terlalu gengsi mengangkat hal instan bereksposisi. Malah kita yang ngelantur, atau aku yang sebenarnya tertidur, terus mencari lain arah. tapi saat aku buta, yang ku tahu aku tidak pernah jelas tahu untuk menentu. dan kamu lebih berani ketika aku masih ingin disanjung penidur, aku salut, tapi aku kalut, melihatmu tak pernah tertidur. Â