Kurang tidur gak cuci muka, pas difoto ya beginilah. Mirip jeremy thomas 😎 #BelumDiedit (at Ritz Carlton)

seen from United States
seen from Canada
seen from China
seen from United States

seen from Netherlands
seen from China

seen from Germany
seen from South Korea

seen from Malaysia

seen from Germany
seen from Germany

seen from United States

seen from Germany

seen from Puerto Rico
seen from South Korea
seen from Türkiye
seen from Mexico

seen from Germany
seen from United States
seen from China
Kurang tidur gak cuci muka, pas difoto ya beginilah. Mirip jeremy thomas 😎 #BelumDiedit (at Ritz Carlton)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
#StoryAboutLove - 2. Langit
Fajar berjalan diikuti Arka di belakangnya membentuk sebuah barisan kecil di jalan yang berbatu. Menyusuri desa, melewati perkebunan kubis yang meninggalkan wangi embun. Sejenak memberi ketenangan bagi siapapun yang menghirupnya. Bahkan bagi Arka yang hidungnya tersumbat akibat produksi mukus yang berlebih, menghangatkan udara dingin yang menjalar ke seluruh rongga hidung.
Jalan menuju gunung batu cukup untuk dilalui dua buah sepeda motor yang saling berpapasan, atau hanya sebuah mobil. Tapi jarang mobil yang melewati jalan itu, selain karena aksesnya yang kurang memadai, jalan tersebut memapah orang ke tempat yang jauh dari keramaian dan peradaban kota bahkan tidak banyak yang menganggapnya menarik.
Pagi masih terlalu dini, purnama masih menggantung, tampak bersinar penuh kebijaksanaan. Menerangi tapakan jalan yang termakan gelap di hari muda sistem penanggalan qomariyah. Tak perlu lampu senter atau alat bantu penerangan lainnya, cahaya purnama sudah lebih dari cukup. Arka dan Fajar melewati jembatan yang di bawahnya terdapat sungai yang sedang surut, arusnya tidak terlalu deras. Suaranya kentara sekali, menguraikan sejuta kenangan di benak Fajar. Sungai itu laksana langit di bawah air, memantulkan gemerlap cahaya bintang-bintang, menambah romantisme alam pagi itu.
Satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di kaki gunung batu yang berdiri pongah dengan puncaknya yang berada di ketinggian 1500 mdpl. Dilihat dari sisi manapun, gunung batu lebih pantas disebut tebing. Partikel “gunung” itu sendiri sebetulnya hanya sebuah embel-embel yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur desa. Lebih tepatnya, gunung batu adalah bentuk patahan muka bumi yang membentang panjang sejauh lebih dari 20km.
“Ini namanya gunung batu Ka, terbentuk dari aktivitas lempeng bumi selama lebih dari setengah juta tahun, artinya patahan gunung batu ini masih aktif dan terus bergeser tiap tahun. Kalo sampai terjadi sesuatu, gempa atau apapun juga gara-gara patahan ini ngegeser, mungkin kota kita cuma tinggal sejarah”. Arka yang menelan informasi tersebut mentah-mentah ngeri membayangkan kemungkinan yang bisa terjadi kapan saja.
“Tapi tenang, sejak nenek moyang kita masih cicit sampe cicitnya sudah punya cicit, dan cicit cicitnya sudah menjadi buyut, belum pernah terjadi apapun kok... belum”, lanjut Fajar sambil tersenyum sinis melirik Arka yang berdiri di sebelahnya.
Misinya sukses.
Mereka berjalan hati-hati menyusuri jalan makadam menanjak yang hanya setapak, mendaki gunung batu. Di kanan kirinya rumput dan ilalang tumbuh subur, sudah panjang-panjang. Biasanya disambit warga untuk pakan ternak mereka. Semakin jauh jalan semakin terjal, memasuki area pepohonan bertipe gymnospermae yang sekonyong-konyong tumbuh sendiri tiap tahun. Hampir terlihat seperti hutan, hanya saja tampak lebih terbuka. Arka terengah-engah, Fajar tidak. Bagi Fajar, rute ini tidak lebih dari jalan setapak di desa. Mereka mengambil jalan memutar ke arah barat gunung batu. Beberapa kali Arka minta istirahat, mengambil nafas sebentar, lalu ditarik oleh kakaknya untuk terus mendaki, terus begitu berulang-ulang. “Napasnya dari idung ka” kata Fajar, “biar gak ngos-ngosan”.
Dua ratus meter lebih berjalan akhirnya mereka sampai persis di samping gunung batu. Terlihat tanjakan yang sudah tidak bisa lagi disebut tanjakan. Itu adalah batu-batu besar yang bertumpuk setinggi kurang lebih sepuluh meter. Rute terdekat paling aman yang menghantarkan mereka ke puncak gunung batu.
Sebetulnya ada tiga rute untuk menuju ke puncak. Pertama melewati jalan desa sebelah yang jaraknya paling jauh, sangat jauh, tapi rutenya tidak terjal, hanya jalan makadam yang panjang. Kedua, lewat kaki gunung yang vertikal, lurus 90 derajat. Biasanya rute ini digunakan oleh para rock climbers, sebagai ajang olahraga ekstrem panjat tebing. Untuk melewatinya harus menggunakan peralatan rock climbing yang lengkap berstandar keamanan tinggi. Ketiga melalui jalan memutar ke sebelah barat kaki gunung untuk selanjutnya bertemu dengan tumpukan batu yang untuk melewatinya, harus melakukan scrambling atau mendaki dengan sedikit memanjat. Jalan ini tidak terlalu jauh, juga tidak seberbahaya itu hingga perlu menggunakan peralatan lengkap rock climbing. Tapi bukan berarti rute ini sepenuhnya aman.
“Lewat sini Jar?” kata Arka, dia memang terbiasa memanggil kakaknya sendiri dengan menyebut nama. Fajar yang nyuruh, “biar luwes” katanya.
“Iya lah, mau manjat lewat depan?” jawab Fajar. Arka sedikit bergidik sambil melihat ke atas. Kelihatannya sangat tinggi. Cahaya purnama jadi temaram karena sedikit tertutup pepohonan, memaksa indra pengelihatan mereka untuk bekerja lebih keras. Arka yang memanjat duluan, sambil takut-takut meraih tumpukan batu. Fajar mengikutinya di belakang, berhati-hati menjaga adiknya.
Beberapa batu telah diraih, dilangkahi, dipijak, mendorong tubuhnya untuk naik ke atas. Nafas Arka berat, mungkin karena takut, mungkin juga lelah, atau mungkin keduanya. Sudah lebih dari setengah jalan mereka memanjat. Kedua kaki Fajar bertumpu pada sebuah batu yang permukaannya agak luas, lalu berdiri mengedarkan pandang ke sisi kiri. Ia melihat pemandangan kota yang gemerlap, kelap kelip, seperti gemintang di bawah langit. Menggoda Fajar untuk diam sesaat, hanyut dalam pikirannya yang kosong. Ia tersenyum. Masih terasa sama saat terakhir kali ia ke sini. Arka yang tidak berani melihat ke bawah, fokus untuk terus memanjat, tidak menyadari indahnya cahaya di bawah langit. Tangan Arka meraih batu terakhir. Kaki dan tangannya saling berkoordinasi mendorong tubuh kecil itu. Nafasnya semakin cepat, dadanya berdegup lebih cepat dari biasanya setelah memijak tumpukan batu terakhir.
Ia berada di puncak gunung batu.
Arka mengedarkan pandang ke sekelilingnya. Menatap hamparan luas pelataran gunung batu dengan takzim. Menatap horizon. Melihat gemintang di bawah langit. Lalu tertawa-tawa sendiri sambil berjalan cepat di atas tanah pelataran untuk selanjutnya berlari-lari kegirangan. Sama sekali lupa kalau tadi dia terus-terusan minta istirahat. Mengingat tujuannya datang ke tempat itu, kepalanya mendongak ke atas lalu terduduk di atas tanah.
Purnama masih menggantung. Arka baru menyadari pemandangan yang terlukis indah di depan kedua matanya. Pikirannya kosong, ia takjub. Langit hari itu sungguh megah dan terang oleh perpaduan cahaya yang kemilauan. Seakan mereka sedang asyik berbincang satu sama lainnya, mungkin tentang matahari yang akhir-akhir ini dipeluk awan, langit tampak murung. Tepat ketika Fajar menyingsing di balik tumpukan batu, tatapan Arka tertuju pada satu gugusan indah beberapa derajat di atas purnama, tak teralihkan.
“Itu namanya Bintang Kejora Ka” sahut Fajar yang ikut duduk di samping Adiknya.
Bersambung.