Syalom! Dalam tulisan pertama di blog ini saya ingin menceritakan bagaimana kami orang muda Katolik (OMK) Paroki Santo Yosef Cirebon saat mengikuti lomba koor BDYD 2015 di Bandung tanggal 9 Agustus kemarin.
Hari-hari Persiapan
Latihan pertama dimulai tanggal 17 Juni 2015. Saat itu yang hadir ada sekitar 25 orang, terdiri dari murid SMA Santa Maria Cirebon dan OMK dewasa. Pembagian suara dilakukan oleh Pak Rum sebagai pelatih kami dan dilanjutkan dengan latihan dasar. Saya sendiri masuk dalam suara alto yang menurut Pak Rum adalah kelompok yang sering salah, di mana pun. Seharusnya kami bikin single untuk cover lagunya Raisa ‘Serba Salah’ atau Geisha ‘Selalu Salah’. Karena mungkin kami lebih bisa menghayati liriknya ketimbang mbak Raisa, pun Momo.
Latihan kedua dan ketiga masih dalam tahap latihan vokal sembari menunggu aransemen lagu selesai. Lagu wajibnya berjudul ‘Joyful Joyful We Adore Thee’ dan lagu pilihannya adalah official soundtrack film Annie, ‘Tomorrow’. Jangan ditanya, pasti hampir semua dari kami belum pernah menonton filmnya. Lagu Joyful terbilang lumayan sulit saat pertama kali latihan. Aransemen nada awalnya keren, bernuansa irama Sunda. “Harus tetap menonjolkan khas daerah Jawa Barat-nya,” jelas Pak Rum. Kreatif! Siapa tahu ada di antara kami yang ternyata berbakat jadi sinden selepas lomba nanti, kan? Sebenarnya sempat punya ide, bagaimana kalau lagu ‘Tomorrow’ diganti judulnya jadi ‘Isukan’? Biar Sunda bingits.
Hal yang lumayan sulit dipelajari adalah ‘keprok-keprok’ tangan yang harus dilakukan oleh kelompok Tenor dan Bass di bagian tengah lagu. Awalnya para lelaki tersebut sulit untuk mengompakkan diri sesuai tempo lagu. Lain waktu, mungkin kita bisa mengundang Pak Tarno untuk khusus melatih kami dalam hal itu. “Tolong dibantu ya…”
Latihan yang seharusnya seminggu bisa tiga kali terpaksa dipending sampai selesai libur lebaran. Sebenarnya gemezh juga sih, karena jarak antara waktu latihan dan lomba tinggal sebulan kurang, lagu kedua belum dipelajari dan latihan masih kurang oke. Tapi yasyudah…daripada kzl mending ikut liburan aja (lah?).
Hal lain yang tak kalah penting dari latihan vokal adalah…..kostum lomba! Ya, karena kostum itu salah satu penilaian dari penampilan kami nantinya. Lalu jadilah mz Sugie, dek Tanti, dan saya jadi turis dadakan di kota Cirebon untuk berburu batik di Kampung Batik daerah Trusmi, Plered, Cirebon. Kenapa kami memilih pakai batik? Karena kami sebagai generasi muda tetap ingin menunjukkan kearifan lokal daerah kami dan mempromosikan Cirebon sebagai kota yang kaya dengan kreasi batiknya *cailah*. Kalau bukan kita orang muda, siapa lagi yang akan melestarikan warisan daerahnya? Fyi, Trusmi memang daerah pengrajin batik khas Cirebon yang sudah terkenal skala nasional maupun internesyenel, terutama corak mega mendungnya. Jadi jangan sungkan untuk mampir ke Cirebon buat belanja batik ya! (oke stop dulu promosinya).
Kami sudah sepakat untuk mencari kain dengan motif mega mendung namun kami masih belum bisa menentukan model baju seperti apa yang akan dibuat. Kalau untuk kaum lelaki pilihannya ada dua, kemeja lengan pendek atau lengan panjang. Karena kalau dibuat dress, kami kaum wanita tidak akan terima seandainya nanti mereka terlihat lebih menarik daripada kami. Demi alasan kenyamanan, akhirnya untuk pria kami tentukan model kemeja lengan pendek. Sedangkan untuk wanita, kami memilih model setelan kebaya kutubaru. Untuk penjahitan baju pria kami pesan langsung di toko Trusmi Batik Center tempat kami membeli bahannya, karena menurut perhitungan Ibu Sri Mulyani jatuhnya jadi lebih murah. Sedangkan menurut perhitungan Prof. Yohanes Surya, kostum wanita lebih ekonomis nan manis jika dijahit oleh Tante Wawa (daerah Perumnas). Dan hasilnya memang cantik! Thank you Tante ({})
Selepas libur lebaran, latihan mulai intens walau beberapa kali sempat tersendat karena Pak Rum sakit. Namun terharu sekali saat suatu malam Pak Rum membela-belakan diri datang ke gereja untuk melatih kami, padahal kami sudah diumumkan bahwa tidak ada latihan ({}). Walau sempat pesimis bakal maksimal, tapi puji Tuhan kami diberi bimbingan yang luar biasa untuk dapat latihan dengan serius dan cepat bisa menurut Pak Rum. “Kelompok ini adalah kelompok yang paling cepat belajar,” kata beliau. Kami makin semangat untuk latihan dan tetap optimis. Sayangnya, kami tidak sempat membuat koreografi karena beberapa di antara kami tidak dapat hadir saat latihan-latihan terakhir.
Hari Keberangkatan
Kami berangkat tanggal 8 Agustus malam setelah mengikuti misa Sabtu sore dan mohon berkat serta doa dari Romo Kris untuk diberi perlindungan dan kelancaran acara kami. Bus mulai bergerak pukul 7 malam dari halaman gereja menuju Bandung. Perjalanan memakan waktu 5 jam, karena harus berkali-kali berhenti di pom bensin demi mengeluarkan limbah pribadi. Kami tiba di DKP Keuskupan Bandung (tempat kami menginap) sekitar pukul 00.00 dan mulai beristirahat sekitar pukul 01.00 dini hari. Setibanya di sana kami disambut oleh kakak-kakak panitia beserta snack yang ena’-ena’, membuat kami tidak sungkan dan peduli kalau besok rok kami bisa agak kesempitan. Tempat istirahatnya juga sangat nyaman. “Terima kasih kakak!”, dari dedek-dedek gemesh Cirebon :3
Esok paginya kami bangun mulai pukul 5 pagi demi antri kamar mandi. Terutama buat cewek-cewek yang harus dimake-over biar keliatan ‘manglingi’ sedikit. Beruntung kami punya calon make up artist profesional, mbak Devy Bule. Dengan telaten dan sabar dia menata rambut kami satu per satu dan membantu make up kami. Sampai-sampai dia sendiri yang paling terakhir dan harus buru-buru :*
Sebelum berangkat ke lokasi lomba di sekolah Santa Angela Bandung, kami sarapan terlebih dahulu yang sudah disediakan oleh panitia dan sempat latihan bersama satu kali. Lumayan lah. Lumayan deg-degan maksudnya. Jam 10.00 kami sudah siap di aula St. Angela untuk melakukan technical meeting dan mengambil nomor undian. Sebenarnya kami ingin mendapat urutan ketiga atau keempat saja. Tapi Tuhan berkehendak lain, IA mengizinkan kami untuk tampil urutan……pertama! Nervous? Biasa aja ah *halah*. Buktinya sebelum tampil kami malah sibuk foto-foto sambil cengengesan tuh.
Performance and Result
Naini….saat performance kami, ada sedikit trouble. Kami sempat bingung saat di bagian tengah lagu Joyful dan membuat kami sempat down dan buyar. Untungnya juri tidak mengetahui masalah kami. *peluk Aza*. Di lagu kedua kami membawakan dengan cukup baik dan tenang. Kami Cuma bisa pasrah, berserah, keep smile, keep shining, stay cool, stay beautiful, and keep praying *lol*. Melihat performance peserta lainnya, beberapa banyak yang membuat kami menahan nafas. Bagus-baguussss! :’) *backsound: Nikita-Mujizat itu Nyata*
Hasilnya…
Juara 3 dimenangkan oleh Paroki Santa Maria Garut, juara 2 oleh Paroki Santo Martinus Bandung, dan juara 1 dimenangkan oleh Paroki Buah Batu, Bandung. Yup…kami belum menang dalam lomba ini :’)
*kita rapopo.*
*kita rapopo…*
*kita rapopo……*
*KITA OPO-OPO ASLINE…..*
Just kidding.
Ndak papa. No problem. Everything is okay. All is well. *sungkem Pak Rum*
Walau belum menang, kami sudah mendapatkan banyak hal dari event ini. Mendapat pengalaman seperti ini di usia muda adalah hal yang luar biasa, tidak semua orang muda bisa dan mau mendapatkannya. Saat teman-teman kami lebih memilih pulang ke rumah sepulang sekolah dan les untuk memulihkan tenaga, kami berhasil menekan ego kami untuk tetap disiplin datang latihan di gereja dan belajar mengelola waktu kami. Saat rekan-rekan kami lebih memilih jalan ke mall atau pulang ke rumah untuk istirahat usai bekerja, kami berhasil menepis keinginan kami bertemu tempat tidur lebih awal dan memberikan waktu serta diri kami demi kemuliaan Tuhan.
Kami tahu, kami akan merasa lelah. Kami tahu, waktu dan pengorbanan kami tidak dibayar. Kami tahu, perjuangan kami terlihat sia-sia saat mendapati kelompok kami tak mendapat juara. Tapi kami percaya, Tuhan sendiri yang memelihara kesehatan kami. Kami percaya, dengan sendirinya kami diberi kekuatan lebih untuk menjalani semua proses ini dengan sukacita. Kami percaya, melayani Tuhan tak akan sia-sia pada akhirnya. Karena jika Tuhan dapat mengubah malam menjadi siang, maka Ia juga akan mengubah lelah kami menjadi berkah.
Teman-teman, kami sudah berhasil menembus batas diri kami yang awalnya sering mengeluh karena lagu yang sulit dihafal dan dipelajari. Kami berhasil membuktikan bahwa ketakutan bisa ditaklukan jika kami mau belajar dan berusaha. Paling tidak, kami telah sama-sama berjuang, sama-sama lelah, sama-sama pernah salah, sama-sama belajar dan mengajarkan, saling mengenal dan menyemangati. Kami mendapat pengalaman baru, teman-teman baru, yang suatu saat bisa kami ceritakan pada adik-adik kami..bahkan pada anak-anak kami kelak. Suatu hal yang tak bisa kami dapatkan seandainya kami memilih hidup hanya sekolah-bekerja-pulang-dan berdiam diri di rumah.
Terima kasih Tuhan Yesus, terima kasih Pak Rum, terima kasih mas Felix, terima kasih romo-romo, dan terima kasih hey kalian! Semoga Tuhan menyertai setiap langkah dan karya kita, orang muda Katolik…
Let’s join us.. Yang muda, yang berkarya. 100% Katolik, 100% Indonesia!
Writer: Chatarina Dety Aprilia Just a food technologist.











