Inanews -Â Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Syafruddin menilai masyarakat tidak perlu Khawatir terhadap kemungkinan ceramah yang bermuatan politis di masjid-masjid di tahun politik mendatang. Sebab, Syafruddin yakin para khatib memiliki kapasitas dalam menyaring informasi yang harus disampaikan.
âAhli bisa tahu mana yang harus disampaikan, mana yang benar, mana yang tidak,â kata Syafruddin dalam acara âHalaqah Nasional Meneguhkan Peran Khatib Dalam Melestarikan Dakwah Rahmatan LilâAlaminâ di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu (22/12/2018).
Mantan Wakapolri ini menekankan, politik bukan momok yang harus ditakuti. âPolitik adalah sebuah aspek untuk menata kehidupan berbangsa dan bernegara enggak usah ditakuti kalau politik itu, hanya 4 bulan selesai ,â ungkap Menpan RB.
Ia juga yakin situasi akan kembali seperti semula setelah Pilpres ini selesai. âTidak terlalu tegang lah 2019 ini, hanya empat bulan saja. Begitu selesai konstelasi politik bulan 4 sudah selesai, Indonesia akan rukun, umat Islam akan rukun,â kata Syafruddin lagi.
Juru Bicara Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Purwanto menyatakan, ada sejumlah penceramah yang diduga terpapar radikalisme di 41 masjid lingkungan kantor pemerintah. Data tersebut diambil dari kesimpulan survei Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M).
âMasjidnya sih enggak ada yang radikal,â kata Wawan di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, pada Sabtu (22/12/2018).
Wawan mengklaim, BIN tidak menyimpulkan 41 masjid tersebut terpapar radikalisme. Namun, hanya mengidentifikasi penceramah pada masjid-masjid itu masuk dalam kategori radikal.
âSekitar 50-an penceramah. Untuk membuka , memang ini kategori yang rahasia,â lanjut dia.
Read the full article