Menjadi bagian dari arsitek peradaban merupakan dambaan setiap insan. Ada begitu banyak harapan, mimpi, ekspetasi, dan asa yang ingin digapai dalam segenap keterlibatan menyambut peradaban tersebut di masa depan. Sekecil apapun sebuah usaha menunjukkan sebuah tindak nyata nan progresif atas proses pencapaian sebuah mimpi bersama yang telah dirangkai dengan begitu indah. Kunci membangun sebuah peradaban masyarakat yang berkeadilan tentunya dimulai dari sebuah usaha melahirkan generasi-generasi penggerak yang sarat akan kesadaran diri dan kemurnian intelektualitas. Pembinaan menjadi satu hal mutlak yang takkan pernah lepas dari rantai proses tersebut. Dan hal menarik yang selalu menjadi penting, bahkan tak terelakkan, dalam mencetak generasi, membangun peradaban, dan melakukan pembinaan adalah kau tidak akan pernah berhasil melakukannya tanpa cinta dan rasa humanis.
 Cerita ini merupakan akumulasi dari apa yang bergejolak dan berkecambah dalam diriku sejak aku mulai dibina secara intensif 5 tahun yang lalu hingga saat ini, meliputi berbagai perspektif baru yang timbul dalam pikiran dan imajinasiku mengenai pembinaan dan prosesnya yang takkan pernah lepas dari perasaan cinta. Awalnya, aku adalah seorang anak ingusan yang sok tahu, yang kadang meninggikan gengsi dan kalah dengan egoku sendiri. Aku hanyalah satu diantara anak lainnya yang mungkin tidak terlalu tertarik dengan kegiatan pembinaan keislaman yang ada di SMAku, aku lebih memilih pulang cepat dan bermain, pada dasarnya. Atau dengan senang riang mengikuti audisi ekstrakurikuler paduan suara. Tapi lingkunganku sejak SMP berkata lain; aku memutuskan bahwa secara moral aku âberhutangâ pada almamater SMPku yang bertitel -Islam Terpadu- untuk meneruskan perjuangan âberbauâ keislaman yang ada disekitarku, walalupun pada awalnya aku tak paham betul mengapa aku harus melakukan mentoring ini dan itu (dan belakangan aku baru tahu bahwa semuanya adalah rangkaian pembinaan) seperti yang diwajibkan SMAku. Aku membantu kakak mentoring-ku untuk mengumpulkan teman-teman sebatas karena aku menghormati beliau, bukan karena aku merindukan pembinaannya. Perasaan ini masih sarat terasa dihatiku pada tahun-tahun awal aku dibina. Pada akhirnya, aku sibuk âmengalahâkan diriku dan mengendorkan egoku dengan kewajiban-kewajiban tersebut. Aku merasa setengah hati.
 Beberapa waktu kemudian ketika segala intensitas pertemuan semakin tinggi satu sama lain, terutama dengan kakak-kakak yang membina, aku menyadari bahwa pembinaan ini pada akhirnya berhasil menjadi tempat diriku pulang. Ibarat aku sedang hanyut dalam sungai dengan arus deras perang pemikiran, aku bagaikan menemukan pinggiran sungai untuk berpegang agar tidak turut terbawa. Aku diberikan saudara seperjuangan, bekal, dan pengetahuan secara rutin untuk berpijak. Aku ditawarkan pada sebuah proses menuju kebaikan kolektif dan mimpi besar kejayaan islam dengan lingkungan yang sangat kondusif. Dan satu hal yang paling penting; aku dapat meraskaan betapa hangatnya forum ini dengan perasaan cinta. Aku tak pernah menyadarinya, namun perasaan ini selalu berhasil menyita waktu, jiwa, dan pikiranku, sekedar karena aku selalu berusaha meraihnya untuk memenuhi hasrat ukhuwah yang menggebu. Rasa itu, atau mungkin serpihan yang membentuknya, selalu bergejolak dalam hati dan pikiranku selama aku dibina karena aku tahu, tanpanya, tidak akan ada pembinaan yang berhasil menembus sanubari. Tanpanya, yang dilakukan dalam pembinaan itu hanyalah hal-hal formalitas semata yang menghabiskan keringat tanpa hasil. Dan tanpanya, hati akan menjadi kering dan terjerembab dalam jurang-jurang kesesatan rasa yang dibungkus dalam sebuah bentuk kegiatan rutin tanpa makna.
 Didalam cinta, terkandung sejuta kemauan, perhatian, inisiatif, pengorbanan, dan usaha bersama menuju perbaikan. Cinta yang sesungguhnya tidak akan pernah lepas dari terminologi memberi, yang pada akhirnya dapat membuat kita berbahagia karena dapat memberikan segala âyang hidupâ dalam diri kita kepada yang lain. Aku merasakannya. Dan bagiku, cinta menjadi âruhâ dan memberikan esensi pada sebuah eksistensi pembinaan.
 Permasalahannya adalah, aku menyadari bahwa tidak semua cinta yang diberikan bisa diejawantahkan pada proses pembinaan yang humanis. Ketika sebuah pembinaan rutin tidak berhasil membantumu menemukan siapa diri dan potensimu sesungguhnya sebagai seorang individu, atau sebagai manusia, pembinaan tersebut menurutku bermasalah. Ia menjagamu hanya ketika kau bersamanya, namun kau tidak mampu menjadi insan seutuhnya yang dapat berpikir sendiri. Ketika banyak ilmu yang kau dapatkan tanpa kau tahu sejauh apa keadaan atau potensi internal dirimu dalam memosisikan ilmu tersebut, kau pada akhirnya tidak dibiarkan berdiri atas dasar kesadaran diri, kemauan bebas, dan kreativitasmu untuk menentukan pilihan. Ketergantungan yang tidak beralasan, atau fanatisme terhadap pembinaan tanpa berhasil menangkap esensinya, akan membuat dirimu hilang arah ketika kau mau tidak mau berhadapan pada situasi yang mengharuskanmu berjauhan sejenak dengannya dan bertabrakan keras dengan perang pemikiran. Ditambah lagi, fanatisme tersebut bisa mematikan daya kritismu dan membuatmu menyerah pada segala sesuatu yang menurutmu tidak bisa diperdebatkan lagi hanya karena itu berasal dari satu sumber yang selalu dianggap paling benar.
 Saat ini aku meyakini, setiap detik kita dibina, kita harus pastikan pikiran dan hati kita terlibat secara sadar atas setiap pilihan. Kita harus bisa mandiri secara pikiran dan intelektual, serta bisa keluar dari penjara ego yang âmenidurkanâ kita. Kakak mentoring memiliki andil yang cukup besar dalam memberikan peluang atau porsi terhadap segala pikiran-pikiran âlainâ yang mungkin kita rasakan; apakah ia akan berkembang, dimatikan saat itu juga, atau kitalah yang akan dituntut untuk memutuskan harus bertindak apa terhadap pikiran-pikiran tersebut. Semakin keputusan itu melibatkan hati dan pikiran kita secara mandiri, menurutku akan lebih baik. Selain itu, hasil dari pembinaan yang humanis pada hakikatnya terlihat dari keseharian kita secara individu. Ketika kita menyadari potensi dan kewajiban kita sebagai seorang insan untuk selalu âmemberiâ, pola pikir kita akan selalu berorientasi pada kesejahteraan dan kebermanfaatan bagi masyarakat luas. Sering dibina tanpa membawa pengaruh bagi ummat sedikitpun, sama saja sia-sia. Kita layaknya menghabiskan waktu dua-tiga jam membicarakan suatu hal yang kita anggap penting, padahal realitanya keberadaan kita hampir sama dengan ketidakadaan kita.
 Aku yakin, pembinaan yang tidak menghasilkan generasi-generasi yang kritis dan siap bergerak untuk masyarakat berarti bermasalah dalam prosesnya. Sebaliknya, pembinaan yang bisa melibatkan hati, nalar, dan pikiran seorang individu untuk memutuskan hal yang dianggap benar adalah pembinaan yang bisa melecut diri kita untuk memaksimalkan potensi menuju cita-cita bersama. Rindu akan perasaan hangat ukhuwah islamiyah yang ada didalamnya juga menjadi satu hal yang kurasakan begitu dalam, tapi kita tidak boleh selalu terjebak dalam bahasa perasaan; kemandirian intelektual harus menjadi satu hal yang kita pegang dengan erat. Kekuatan cinta yang mengalir dalam pembinaan sudah seharusnya bisa memastikan kemandirian tersebut tertanam sebagai dasar. Jika tidak, bukan cinta namanya. Kenyamanannya semu dan mematikan, dan belum mampu membimbing kita hidup atas dasar kesadaran kita sendiri. Kita hanya terpenjara dalam sejarah pembinaan yang repetitif dan tuntutan masyarakat. Kita kehilangan esensi.
 Sejauh kita mampu menentukan porsi dan posisi pembinaan dengan tepat dalam diri, kita bisa mendapat manfaat berjuta luasnya dari pembinaan humanis yang mencerdaskan, yang membantu kita menemukan siapa dan apa potensi kita. Aku adalah satu dari berjuta orang yang merasakan indahnya dibina dengan cinta dan intelektualitas. Dan aku menemukan diriku ada pada jalan yang saat ini kuanggap benar. Siapa selanjutnya? **
Diantara heningnya pagi yang disambut adzan
Oleh Tadzkia Nurshafira - SMA Negeri 1 Depok