Izinkan Aku Memanggilmu Bunda
Kau adalah wanita yang terbaik yang pernah ia miliki
Tak satu katapun cela tentangmu
Sikap, sifat, ia amat membanggakanmu dari siapapun di dunia ini
Katanya "Aku adalah anak Bunda, bukan Ayah."
Meski ia tak menjelaskannya, aku paham maksudnya
Ia dekat denganmu melebihi Ayah
Kau bisa menyaksikan sendiri
Ia rapuh serapuh - rapuhnya
Tapi iapun kehilangan dirinya
Luka yang amat dalam tertorehkan menusuk hingga dalam lubuk hatinya
Mungkin orang lain tak melihatnya
Sepasang mata yang mengisahkan perihnya hidupnya
Sorot mata yang memancarkan kegelisahannya
Aku tahu setiap saat ia mencarimu
Layaknya seorang anak yang kesasar di tengah keramaian
Meneriakkan keberadaan ibunya
Tapi aku cukup tahu tentangmu
Untuk pertama kalinya aku berusaha berdamainya dengan ibuku sendiri
Itu karenanya, yang selalu mengisahkan tentangmu
Kuharap ia tak akan pernah tahu
Kadang sesuatu lebih indah jika tak pernah terungkap
Entah mengapa, aku percaya itu
Dulu, aku pernah sepertinya
Menjadi sosok yang begitu menghamba pada sosok ibu
Dulu, ibuku bagiku adalah isi dunia yang ketiga setelah Tuhan dan Muhammad
Saat ibuku lebih memilih ...
Aku tak ingin bersedih berkepanjangan lagi
Aku mulai mengagumimu sejak awal
Sejak ia selalu membawamu dalam tiap ceritanya
Saat ia merasa bahagia, kau ada
Begitupun di tengah lukanya
Ia masih membanggakanmu tanpa celah tanpa jeda
Kuharap tumpukan doanya dan juga doaku mendamaikanmu disana
Hingga Tuhan mempersatukanmu kembali dengannya
Untuk pertama kalinya aku ingin membalikkan waktu
Kembali pada saat nafasmu masih bertahta
Aku tak mampu melihat lukanya
Luka itu melukaiku amat dalam
Saat ia dihimpit oleh pilihan antara mereka dan aku
Akupun terluka dalam sama sepertinya
Aku sempat menyuruhnya untuk tidak memilihku
Karena aku ingin ia bahagia
Meski begitu doaku tak putus untuknya
Saat pertama kali aku menyapamu di Pusara ?
Hatiku tiba - tiba tegerak dan berikrar lantang padamu
"Aku berjanji akan disisinya hingga akhir."
Aku tak tahu apa yang merasukiku
Tapi janji adalah janji, aku tahu tak mudah
Tapi aku percaya Tuhan lebih dari apapun
Mungkin aku bukan siapa - siapa
Aku hanya anak perempuan yang biasa
Tak punya apapun, bahkan materipun masih dari sisa mengemis
Mungkin juga terlalu dini untuk mengatakan ini padamu
Aku tahu, karena aku belum punya apapun untuk bisa ia banggakan dariku
Terlebih lagi untuk membanggakanmu
Sejak pertama kali aku menyapamu
Saat ia menolak untuk menemuimu
Rasanya aku terluka, entah itu apa
Terima kasihku untukmu yang membawa ia ke dunia ini
Hingga aku bertemu dengannya
Sekali - kali sapalah ia lagi
Aku minta maaf, karena selalu membuatnya gusar
Satu hal yang sangat ingin aku katakan
Izinkan aku memanggilmu "Bunda"
Sebagaimana ia memanggilmu
Dari Anak Perempuan yang Mencintainya
Makassar, 07 Desember 2017