Di Negeri Tetangga 2
Prolog Tulisan ini dibuat dalam rangka membantu launching kisah 9 Rusa yang akan dibukukan (insya Allah) dengan pengarang utama Ucen/Necu/Khilda Husain Al Anamy. Mari kita tunggu realisasinya.
Intro
HMF âArs Praeparandiâ ITB, sebagai salah satu anggota IPSF (International Pharmaceutical Students Federation) di wilayah APRO (Asia Pasific Regional Office), setiap tahunnya rutin mengikuti acara yang diselenggarakan oleh organisasi international tersebut. Salah satunya APPS (Asia Pacific Pharmaceutical Sympossium) yang tahun 2014 lalu diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia. Saat itu, ada 14 delegasi dari HMF yang berangkat mengikuti acara ini.
Berniat untuk bersiap lebih awal dengan datang ke Bandara Husain Sastranegara Bandung sekitar pkl 3.30 WIB, ternyata salah prediksi. Ini terlalu pagi. Bahkan petugas bandara belum datang dan loket masih ditutup. Tak lama kemudian, teman-teman lain didampingi para orang tuanya berdatangan. Menjadi satu-satunya laki-laki di keberangkatan ini, saya âdititipiâ para bapak-ibu untuk menjagakan anak mereka. (Jadi saya direstui pak? #Loh)
Hari pertama serangkaian acara ini adalah hari Jumat. Alhamdulillah, hari penuh berkah. Ya, penuh berkah bagi siapa saja yang menginginkan dan mengharapkannya. Tidak terkecuali bagi saya. Setibanya di tempat peristirahatan, saya bergegas untuk menunaikan shalat Jumat. Tidak ada yang berbeda dengan pelaksanaan jumatan di negeri seberang (Ya iya lah sama-sama Islam), selain dari gaya bahasa penyampaian yang sedikit âlucuâ atau mungkin saya yang terlalu mendramatisasi khutbahnya. Oke. Masalah muncul setelah shalat jumat. Sepatu saya HILANG. Saya pikir pencurian sepatu hanya terjadi di ibu pertiwi saja. Ternyata di negeri orang pun terjadi. Alhamdulillah, setelah beberapa menit terlihat kebingungan mencari sepatu, ada bapak-bapak yang super baik yang memberikan sandal jepitnya kepada saya. Meskipun awalnya menolak (padahal kan butuh), setelah bapak tersebut (siapa namanya ya?) mengatakan kalau tempatnya dekat dari masjid, sayapun menerima sandal tersebut. Bisa dibayangkan jika kembali ke hotel tanpa alas kaki, mungkin saya akan dikira orang nyasar. Ya, Tuhan memberikan jalan keluar dengan cara yang tidak disangka.
Akan tetapi, pemberian sandal jepit yang sangat berarti itu belum menyelesaikan inti permasalahan. Sepatu yang hilang itu seharusnya dipakai saat Welcome Party dan beberapa aktivitas outdoor lainnya. Setelah mencari referensi tempat sepatu yang cukup âterjangkauâ, akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke daerah Chow Kit, 2 stasiun dari stasiun terdekat PWTC. Meskipun ukurannya lebih kecil, sepatu âbaruâ ini sepertinya dapat bertahan untuk dipakai sampai acara selesai.
Sebagai perwakilan asosiasi (HMF), saya beserta Erba dan Hanina bertindak sebagai Official Delegates (OD) sedangkan yang lainnya sebagai general participant. Jangan terlalu berbaik sangka, OD ini tidak se-WOW yang kalian pikirkan. Intinya, OD disini bertugas untuk menghadiri rapat-rapat (Regional Meeting) yang mengharuskan setiap asosiasi untuk datang (di saat peserta lain menghadiri seminar-seminar yang tidak kalah menariknya), dengan agenda pelaporan semacam LPJ kepengurusan. Hal yang menarik disini adalah karena sangat âmenyenangkanâ sekali dengan kondisi rapatnya, setiap OD dilarang untuk tidur, bahkan tertidur (jadi teringat sidang DPR). OD yang tertidur akan dikenakan denda sebesar RM5. Tidak perlu ditanya apakah OD dari HMF didenda atau tidak (karena disana ada saya). Akan tetapi, kita tidak sendiri karena ternate OD dari negara lain, seperti perwakilan dari negara sakura pun mendapatkan denda. Yes.
Saat International Night, setiap negara menampilkan performance khasnya. Delegasi Indonesia (OD dari ITB, UI, UGM, dll) saat itu tidak bisa tampil untuk masing-masing asosiasi tetapi harus keseluruhan satu negara. Special performance dari Indonesia memang berbeda dari negara lain. Jika delegasi Jepang menampilkan tarian lemah gemulai dengan pakaian Kimononya, delegasi Australia dengan kostum kanggurunya, maka delegasi Indonesia menampilkan goyang Oplosan. Silakan bayangkan, panggung yang hanya berukuran sekitar 4x6 m, dipenuhi delegasi Indonesia yang lebih dari 30 orang dengan penampilan yang cukup âgilaâ itu. Akhirnya, sebagian turun dan mengajak delegasi negara lain untuk ikut berdendang dan menari. Meskipun demikian, tim Indonesia menjadi juara 2 di perform International Night ini.
Kegiatan yang tidak kalah menarik adalah Public Health Campaign. Setiap kelompok ditugaskan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya tanda tangan sebagai petisi yang mendukung gerakan anti-rokok yang ada di Malaysia. Responnya beragam. Ada yang sangat mendukung, ada juga yang justru kontra karena yang bersangkutan merupakan perokok aktif. Selain itu, metode unik lainnya adalah dengan mengangkat properti kampanye yang meminta pengguna mobil untuk membunyikan klaksonnya sebagai bentuk dukungan juga terhadap aksi ini.
Selanjutnya, ada Pharmazing Race. Ini semacam pos-posan yang di setiap posnya akan ada clue ataupun tantangan yang harus dilakukan untuk menuju ke pos selanjutnya. Menariknya, semua peserta dalam setiap kelompoknya akan menjelajahi Kuala Lumpur dan sekitarnya. Batu Cave, Pasar Seni, Mesjid Negara, Bird Park, dll menjadi pos-pos yang harus dikunjungi.
Mengikuti acara-acara eksternal HMF menjadi sesuatu yang sayang untuk dilewatkan. Kesempatan untuk membuka wawasan lebih luas terbuka lebar, baik itu nasional ataupun internasional.














