PECINTA JANUARI PARADOKS
Bulannya harapan orang-orang berkirana Bulannya gaya hidup orang-orang beralih Bulannya resolusi orang-orang berhamburan Bulannya merayan orang-orang beranjak Bulannya tawaduk orang-orang berhijrah Penaka manifestasi kehidupannya semakin benderang
Kagum ? Tidak, Bangga ? Tidak, Hormat ? Tidak, Salut ? Tidak,
Tersenyum ? Iya, Sedih? Iya, Tertawa ? Iya, Hina? Apalagi,
Dari sebuah saung petani, kutatap bulan datang hingga pergi, Kulirik rerumputan menari hingga kelelahan, Kuraba bebatuan terdiam hingga lumutan Kuelus semut berjalan hingga berhenti. Kuperhatikan jejak kakiku hingga hilang tertutup hujan. Dan terakhir, kugigit jariku hingga berdarah.
Sakit ? Tidak, Perih ? Tidak, Memar ? Tidak, Lebam ? Tidak,
Kagum ? Iya, Bangga ? Iya, Hormat ? Iya, Salut ? Iya, Sadar ? Apalagi.
Ternyata aku telah berubah dan berbeda. Dan mereka ? Masih saja sama dengan hari kemarin. Tidak berubah dan tidak berbeda. Kusebutlah mereka sejak saat itu, “Pecinta Januari Paradoks”
Kingdom Pandiangan Jatinagor 17 Januari 2019













