Alumni Angakatan ke-6 #sditnuruliman #akhirussanah2019 #angkatan6 (di SDIT Nurul Iman Purwantoro) https://www.instagram.com/p/Byq8IHPBsc6/?igshid=12k763ga3zv7a
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from India
seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from United States

seen from Ireland
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Russia

seen from United Kingdom
seen from Canada
seen from United States
seen from Argentina
seen from Russia
seen from United States
seen from United States
Alumni Angakatan ke-6 #sditnuruliman #akhirussanah2019 #angkatan6 (di SDIT Nurul Iman Purwantoro) https://www.instagram.com/p/Byq8IHPBsc6/?igshid=12k763ga3zv7a

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pidato Perpisahan dengan 4 bahasa #sditnuruliman #akhirussanah2019 #angkatan6 (di SDIT Nurul Iman Purwantoro) https://www.instagram.com/p/Byq7-tVh8Nq/?igshid=12f1jczfym2h1
#sditnuruliman #akhirussanah2019 #angkatan6 (di SDIT Nurul Iman Purwantoro) https://www.instagram.com/p/Byq7Kh5h4sn/?igshid=1gczvzq7ofvde
Unsur Instrinsik Puisi -TELINGA
TELINGA
“Masuklah ke telingaku,” bujuknya.
Gila:
ia digoda masuk ke telinganya sendiri
agar bisa mendengar apa pun
secara terperinci---setiap kata, setiap huruf,
bahkan letupan dan desis
yang menciptakan suara.
“Masuklah,” bujuknya.
Gila! Hanya agar bisa menafsirkan sebaik-
baiknya apa pun yang dibisikkannya
kepada diri sendiri.
Sapardi Djoko Damono, 1982
Berikut penjelasan unsur-unsur intrinsik dari puisi ini:
Tema
Tema puisi ini adalah kontemplasi, dimana penulis berusaha memahami isi hatinya sendiri yang diibaratkan dengan “menafsirkan sebaik-baiknya apa pun yang dibisikkannya kepada diri sendiri”.
Majas
Personifikasi pada “letupan dan desis yang menciptakan suara”.
Diksi
Diksi yang digunakan oleh Sapardi di puisi ini sangat sederhana, dimana bahasa yang digunakan adalah bahasa sehari-hari.
Citraan
Pencitraan pendengaran digunakan di puisi ini, sesuai dengan judulnya, Telinga. Puisi ini seakan mengajak pembaca untuk meresapi kata hatinya sendiri dengan indra pendengarannya.
Tipografi
Tipografi dalam puisi ini menarik, karena puisi ini hanya terdiri dari satu bait tetapi ada kalimat yang menjorok ke dalam sehingga tampak seperti berbait-bait. Ada awal kalimat yang menggunakan huruf kapital dan ada juga yang menggunakan huruf kecil. Satu kalimat dijelaskan dengan beberapa baris/larik.
Amanat
Puisi ini menggambarkan seseorang yang berusaha mendengarkan kata hatinya (nurani) sendiri agar bisa jujur terhadap diri sendiri.
Bekasi, 16 Juni 2016
cc: @kelaspuisi @katakakiku @menatapmu
Unsur Intrinsik dalam Puisi Surat Kopi (PR Kelas Puisi)
Surat Kopi
Lima menit menjelang minum kopi, aku ingat pesanmu: “Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi.”
Mungkin karena itu empat cangkir kopi sehari bisa menjauhkan kepala dari bunuh diri.
Kau punya bermacam-macam kopi dan kau pernah bertanya: “Kau mau pilih kopi yang mana?” Aku jawab: “Aku pilih kopimu.”
Di mataku telah lahir mata kopi. Di waktu kecil aku pernah diberi Ibu cium rasa kopi. Apakah puting susu juga mengandung kopi?
Kopi: nama yang tertera pada sebuah nama. Namaku.
Burung menumpahkan kicaunya ke dalam kopi. Matahari mencurahkan matanya ke hitam kopi. Dan kopi meruapkan harum darah dari lambungmu.
Tiga teguk yang akan datang aku bakal mencecap hangat darahmu di bibir cangkir kopiku.
(2013)
Penjelasan => 1. Majas Penggunaan majas dalam Surat Kopi milik Joko Pinurbo ini cukup apik, menurut saya. Komposisinya tidak terlalu manis dan juga tidak hambar. Istilahnya pas. Majas pertama digunakan pada larik kedua bait kedua, “Bisa menjauhkan kepala dari bunuh diri”. Yang mana majas hiperbola atau melebih-lebihkan sesuatu digunakan di sana. Kemudian kedua, di bait empat, seluruh larik diwarnai majas, yang menurut saya, majas personifikasi, yang mana kopi mempunyai hidupnya yang disandingkan dengan kata lainnya seperti “mata kopi”, “ciuman rasa kopi”, dan “puting susu mengandung kopi”. Setelah majas personifikasi, Joko Pinurbo juga menggunakan majas repetisi pada bait ke enam dengan mengulang-ulang penggunakaan kata “kopi”.
2. Diksi Kalo diksinya menurut saya sangat sederhana, melihat kata-kata yang digunakan oleh Joko Pinurbo adalah kata-kata yang sering kita ucapkam sehari-hari. Dan pengulangan kata “kopi” menjadi tidak menjenuhkan ketika penempatannya sangat sesuai dengan kondisi.
3. Citraan Bait pertama di dalam puisi ini, Joko Pinurbo menggunakan citraan ingatan atau citraan intelektual dengan kata “aku ingat pesanmu”. Lalu dalam bait empat, Joko menulis citraan pencecapan denva kalimat “di waktu kecil aku pernah diberi ibu ciuman rasa kopi” Dan dalam bait ke enam, ada citraan visual dalam larik satu dan dua serta citraan penciuman dalam larik terakhir.
4. Tipografi Dalam puisi di atas, tipografi penulis adalah mencampurkan seluruh unsur tipografi menjadi satu bangunan puisi. Diantaranya adalah penempatan huruf kapital begitupun huruf kecil di awal larik. Kemudian, Joko pun menempatkan tanda baca pada bagian-bagian kata yang diperlukan. Selebihnya, ia menuliskan puisinya dengan rata kiri dan tidak ada bait yang menjorok keluar atau ke dalam.
5. Amanat Amanat yang disampaikan Joko dalam puisinya adalah Kopi sebagai bagian dari hidup. Ia melihat, merasa, mendengar, mencium atas nama kopi. Ia menjadikan kopi sebagai jiwa yang menghidupi banyak bagian dari hidupnya.
6. Tema Tema yang diangkat dalam puisi tersebut adalah, “pencitraan kopi”.
Bandung, 24 Mei 2016
Cc. @kelaspuisi @katakakiku @menatapmu

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Unsur Intrinsik Puisi: Kecup Tak Sudah di Punggungmu
Kecup Tak Sudah di Punggungmu
Punggungmu: subuh, malam yang perlahan hilang warna lamat-lamat antara hitam-biru-kuning-tembaga aku mencari wajahmu, tak menemu juga yang ada pesan-pesan usang.
Bibirku: pembacaan berulang-ulang kata-kata seperti merambat dari abjad suku kata mengecupi punggungmu tanpa jeda mencari yang tak terbilang.
2013
Puisi Dedi Tri Riyadi
Tema: kehilangan - penantian - pencarian - religi
Majas: - /Punggungmu: subuh/ | dipersonifikasi - simile - simbolik [Punggungmu: /warna lamat-lamat antara hitam-biru-kuning-tembaga/] - /Bibirku: pembacaan berulang-ulang/ | dipersonifikasi - simile - simbolik - /kata-kata seperti merambat/ | dipersonifikasi - simile [ kata-kata /mengecupi punggugmu/] [ kata-kata /mencari yang tak terbilang/] - keseluruhan bait kedua | paradoks dipersonifikasi: kebalikan dari personifikasi, yaitu meletakkan sifat-sifat benda kepada manusia simile: perbandingan-perbandingan yang eksplisiti paradoks: pertentangan antara pernyataan dan fakta simbolik: melukiskan sesuatu dengan sesuatu lain
Diksi: Seawam apapun pembaca kepada puisi, tidak ada satu pun kata sulit di puisi ini. Diksi-diksi yang sederhana, lekat dengan keseharian dan pengalaman kita.
Citraan: - Bait pertama menggunakan citraan pengelihatan: warna - mencari - pesan-pesan. - Bait kedua menggunakan citraan pengelihatan - pedengaran: seluruh bait kedua. Tipografi: - Konsisten dengan huruf kapital di huruf pertama setiap bait. Setiap bait juga diakhiri dengan tanda titik (.) - Aku lirik konsisten menggunakan titik dua (:) sebelum menceritakan punggung dan bibir. - Terdapat sebuah sintaksis: hitam-biru-kuning-tembaga | untuk menjelaskan pergantian warna langit menuju pagi. Makna: Tafsir makna dari puisi ini menurut saya sebagai pembaca adalah: Ibadah Pagi (tanpa menyebut suatu agama). Punggung dalam puisi tersebut adalah waktu pagi (bisa dilihat pada penjelasan majas). Sedangkan bibir si aku lirik: mengucap doa-doa---mengecup punggungmu (subuh) untuk mencari yang tak terbilang.
cc: @kelaspuisi @katakakiku @menatapmu
Akor
duhai, denyar hujan, tanah keras, bangku taman, cukuplah kalian saja menyanyikan untukku lagu minor malam ini, yang lain jangan
Dikutip dari buku "Angsa-angsa Ketapang" oleh Bernard Batubara. TEMA - Kesepian dan kesedihan. MAJAS Personifikasi - Denyar hujan, tanah keras, dan bangku taman yang menyanyikan lagu minor. DIKSI - Kaitan antara unsur alam, benda, dan unsur musik. CITRAAN - Penglihatan (larik 1) --> /denyar hujan/ - Perabaan (larik 1) --> /tanah keras/ - Pendengaran (larik 3) --> /menyanyikan untukku lagu minor/ TIPOGRAFI - Larik tersusun sejajar dengan penggunaan huruf kecil di seluruh isi puisi. AMANAT - Rasa kesepian seseorang di malam hari yang tidak ingin dirasakan terlalu lama, yang ingin dihilangkan dengan nyanyian nada sendu.
Bandung, 22 Mei 2016
Cc: @rintikkecil @kelaspuisi @katakakiku, dan @menatapmu
Unsur Intrinsik
Sarangan Telaga itu masih seperti dahulu jalan melingkar, kabut, cemara-cemara yang berisik cipak ikan, kicau burung, dan angsa berenang ketenangan ombaknya sesekali dipecahkan gerak sampan Telaga itu masih seperti dahulu pasangan demi pasangan lenyap di balik awan ringkik kuda, dan pekik kagum para pengunjung kalau ada yang berubah, kedatangan tak lagi bersamamu Kusprihyanto Namma. Unsur Intrinsik puisi di atas: A. Majas:Repetisi B. Tema: Menelusuri kenangan C. Tipografi: Menggunakan huruf besar dan kecil, serta tanda baca (koma) di setiap penggalan kata yang perlu dipertegas dan terpisah. D. Diksi: Berkaitan dengan alam, hewan, dan kenangan E. Citraan: -Penglihatan (bait 1 di semua larik, bait 2 di larik 1 dan 2) -Pendengaran (bait 1 larik 2 dan 3, bait 2 larik 3) -Perasaan (bait 2 larik 4) F. Amanat: Tidak perlu menyesali yang sudah berlalu ataupun berubah. Tetap jalani dengan hati bahagia meski harus telusuri dengan tergopoh sendiri Kasihan, 22 Mei 2016. @rintikkecil @kelaspuisi @katakakiku @menatapmu