oktober kedua ini terasa berbeda. waktunya berlalu seperti biasa, anginnya masih membawa aroma yang sama, dan orangnya pun masih seperti sosok yang kukenal. namun entah, aku merasa semua datang dengan arti yang jauh berbeda.
dulu aku sering berharap semesta mempertemukan pada angin muson timur, pada langit yang cerah dan cuaca yang selalu kusukai.tapi rupanya ada hal-hal yang hanya bisa dipahami saat pertemuan datang bersama angin muson barat.
aroma tanah setelah hujan mengingatkanku pada sosok yang hangat, seseorang yang mungkin justru akan semakin sulit kutemui.awan yang mendung mengingatkanku pada rapuhnya sisi emosinya, sisi yang saat itu mungkin hanya aku yang tahu.hujan mengingatkanku pada waktu yang terus berpihak kepada kami, membuat kami memiliki lebih banyak kesempatan untuk bertemu.
semesta memberi terlalu banyak kesempatan untuk bertemu, hingga aku lupa bahwa setiap pertemuan, diam-diam sedang menghitung jarak menuju perpisahannya sendiri.
mungkin suatu hari nanti aku akan lebih sering mengenangnya daripada menemuinya. mungkin suaranya akan lebih banyak hidup di ingatan daripada di hadapanku.
dan mungkin, itulah alasan mengapa oktober kali ini terasa begitu penuh. bukan karena aku berhasil memiliki hatinya. justru karena aku akhirnya mengerti bahwa ada seseorang yang kehadirannya begitu berarti, meski sejak awal tidak pernah ditakdirkan untuk tinggal.