Pujian: Kendaraan atau Magnet? Memahami Paradoks Hadirat Ilahi
Dalam ibadah, kita sering mendengar pernyataan, "Tuhan hadir dalam pujian umat-Nya." Di sisi lain, kita juga diajarkan, "Kita masuk ke dalam hadirat-Nya." Mana yang benar? Apakah Tuhan baru datang saat kita memuji, ataukah kita yang bergerak mendekat?
Jawabannya bukanlah "atau", melainkan "dan". Keduanya adalah dua sisi dari koin yang sama yang menjelaskan sebuah misteri rohani. Melalui pujian dan penyembahan, kita secara aktif masuk ke dalam hadirat-Nya yang selalu ada, dan sebagai respons, hadirat-Nya itu menjadi termanifestasi atau terasa nyata bagi kita.
1. "Tuhan Hadir dalam Pujian Umat-Nya"
Pandangan ini berakar pada Mazmur 22:4 (TB), yang berbunyi: "Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel."
Ayat ini tidak berarti Tuhan itu absen lalu baru muncul saat kita mulai bernyanyi. Tuhan itu Mahahadir (omnipresent). Ia ada di mana-mana dan tidak pernah meninggalkan kita. Namun, ada perbedaan krusial antara hadirat-Nya yang universal dan hadirat-Nya yang termanifestasi.
Analogi yang sederhana adalah matahari. Matahari selalu ada di langit, menyinari seluruh bumi (hadirat universal). Namun, saat kita membuka tirai kamar, sinar dan kehangatan matahari menjadi sangat nyata, terasa, dan memengaruhi ruangan itu (hadirat termanifestasi).
Pujian dan penyembahan adalah tindakan kita "membuka tirai" hati dan atmosfer rohani kita. Ketika kita mengarahkan fokus, hati, dan pikiran kita kepada-Nya, hadirat-Nya yang memang sudah ada menjadi sangat nyata, kuat, dan bisa kita rasakan secara pribadi maupun komunal.
2. "Kita Masuk ke Hadirat-Nya"
Perspektif ini didasarkan pada anugerah yang telah Yesus berikan kepada kita. Karena kematian dan kebangkitan-Nya, tabir Bait Suci yang memisahkan manusia dari hadirat kudus Allah telah terbelah (Matius 27:51). Kita tidak lagi terasing, melainkan memiliki akses langsung.
Ibrani 10:19 menegaskan, "Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus."
Pujian dan penyembahan adalah cara kita menggunakan akses ilahi ini. Ini adalah kendaraan rohani yang membawa kita secara sadar untuk mendekat kepada takhta-Nya. Mazmur 100:4 mengundang kita, "Masukilah gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian."
Jadi, saat kita memuji, kita secara aktif "berjalan" melewati gerbang dan pelataran rohani itu untuk menghampiri takhta kasih karunia yang selalu terbuka bagi kita (Ibrani 4:16).
Hadirat Tuhan Bukan Sekadar Perasaan
Sangat penting untuk membedakan antara hadirat Tuhan dan respons terhadap hadirat-Nya. Perasaan seperti sukacita, damai sejahtera, tubuh bergetar, atau bahkan menangis dan rebah dalam Roh bukanlah hadirat Tuhan itu sendiri. Itu adalah respons jiwa, roh, dan bahkan tubuh kita saat bersentuhan dengan Pribadi Allah yang Mahakudus dan Mahakuasa.
Hadirat Tuhan adalah Roh Kudus yang tinggal di dalam dan di antara kita.
Perasaan dan manifestasi fisik adalah dampak dari sentuhan Pribadi-Nya.
Respons setiap orang bisa berbeda, seperti yang tercatat di Alkitab: Daud menari dengan sukacita (2 Samuel 6:14), Yesaya merasa gentar (Yesaya 6:5), dan Rasul Yohanes tersungkur seperti orang mati (Wahyu 1:17).
Peringatan penting: Jangan pernah mengejar perasaannya. Kejar Pribadi-Nya. Perasaan dan pengalaman adalah bonus, hadiah dari perjumpaan dengan Tuhan. Tujuan utama kita adalah persekutuan yang intim dengan Bapa. Jika kita hanya mengejar sensasi, kita berisiko kehilangan esensi penyembahan yang sejati.
Kesimpulan
Jadi, saat kita secara aktif "masuk" melalui gerbang pujian, hadirat-Nya yang kudus "bersemayam" atau termanifestasi di tengah kita. Ini adalah paradoks yang indah: kita yang bergerak mendekat, sekaligus Dia yang membuat kehadiran-Nya terasa nyata.










