Habis nikah. Bahagia? iya. Khawatir? iya. Stress? iya
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from Kazakhstan

seen from United States
seen from China
seen from Australia
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from T1

seen from Sweden
seen from China

seen from United States

seen from United States
Habis nikah. Bahagia? iya. Khawatir? iya. Stress? iya

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Allah Maha Baik. Selalu memberikan kejutan. Memang benar, kata Ali bin Abi Thalib "aku sudah pernah mengalami seluruh kepahitan hidup dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia." Diusia pernikahan yang belum menginjak satu tahun ini, kamu gak jarang juga jengkel karena sikap keteledoran, kecerewetan dan lupanya aku. Gak jarang juga kita masing-masing berharap lebih terhadap satu sama lain, tapi malah kecewa. Hanya saja, ketika kita menyerahkan semua hal kepadanya, karena Dia yang mengerti hati kita dan Dia pula yang menggerakan hati kita, Dia berikan keindahan kebahagiaan yang bisa dilihat dari masing-masing diri kita.
Aku selalu mendambakan kebaikan dari pasanganku, dan Allah perlihatkan itu. Aku selalu mendambakan harmoni dihubunganku dengan laki-laki, Allah juga memberi itu. Alhamdulillah.
Terima kasih telah bersabar. Pertanyaan kenapa aku pantas untuk kamu karena kita bisa saling melengkapi. Kamu bilang, "jangan menyerah ya, kalau kamu nyerah siapa lagi yang nolong dan ngingetin aku."
Semoga Allah tanamkan cinta dihati kita, mas. Semoga setiap perempuan berada di tangan laki-laki terbaik dengan sikap yang paling baik.
Kami tuh dulu tak begini~ Tapi kini ku tak kurus lagi~ Foto dibawah tahun lalu, Foto diatas tahuun kapan ya ini ??? 😁😆😄😂 . . #efekkamera #yangpentinghappy #eximerbcpwk #aftermarried #etaterangkanlah
Dokumen Kependudukan Bagi Pengantin Baru
Minggu, 1 Mei 2016
Halooo! Happy First May! Bahagia sekali sekarang usia kandungan saya sudah 27 minggu. Wuih, gak kerasa! Happy banget dengan tendangan demi tendangan yang diberikan si Dedek Utun. Hehehe..
Anyway, untung aja saya bisa tenang menikmati proses kehamilan saya tanpa harus diganggu sama urusan dokumen kependudukan! Ya! Bagi pengantin baru seperti kami, sangat disarankan untuk sesegera mungkin membuat dokumen kependudukan, yang pertama adalah Kartu Keluarga (KK). Mengapa? Karena untuk membuat KTP baru, harus ada Kartu Keluarga yang baru. Untuk urus BPJS Kesehatan (kalo make), harus pake KK. Nanti kalo anak lahir mau bikin Akta Kelahiran pun pake KK. Yah, KK itu the first of the first-lah dalam urusan kependudukan. Nah, KK ini bisa ditambahkan ke keluarga tempat kita tinggal sekarang, yang dalam kasus saya adalah menambahkan suami saya sebagai menantu di KK keluarga besar saya. Atau… membuat KK baru, yang berpisah dengan keluarga besar masing-masing. Saya sih memilih opsi kedua, biar kesannya gak nebeng ama orang tua lagi.
Jadi setelah menikah, saya dan suami memang berencana untuk langsung memiliki anak (maklum, faktor umur, hehehe…). Maka dari itu, kami harus menyiapkan segala dokumen kami sendiri untuk keperluan pemenuhan fasilitas kesehatan, baik yang diberikan oleh kampusnya suami, maupun dari asuransi kesehatan yang akan kami pilih. Asuransi yang kami pilih kali ini adalah BPJS Kesehatan. Nah, untuk memiliki Kartu BPJS, setiap peserta harus menyertakan KK, which is kami belum punya saat itu. Langsung saja besoknya, saya dan suami langsung browsing-browsing mengenai tata cara pembuatan KK baru.
Kalau Anda dan pasangan tinggal di satu wilayah yang sama (misalnya, sama-sama di wilayah Kotamadya Bandung), sebenarnya membuat KK itu sangat mudah. Langkah-langkahnya adalah:
1. Meminta Surat Pengantar Pembuatan Kartu Keluarga Baru dari RT masing-masing, kemudian dilanjutkan ke RW masing-masing untuk distempel dan ditandatangan oleh ketua RW masing-masing.
2. Mendatangi Kantor Keluarahan tempat tinggal yang baru untuk mengisi dan menandatangani formulir pembuatan Kartu Keluarga dengan membawa persyaratan:
Surat Pengantar dari RT/RW (yang di poin 1).
Fotokopi Buku Nikah atau Akta Perkawinan bagi yang sudah menikah
Surat Keterangan Pindah Datang bagi penduduk yang datang ke wilayah Kelurahan setempat (untuk surat yang satu ini, akan saya ceritakan lebih lanjut).
3. Resi dari Kelurahan, harus diserahkan kepada Kantor Kecamatan tempat tinggal baru. Nantinya KK baru kita akan diterbitkan di Kecamatan baru ini.
Prosesnya paling lama untuk yang ini kurang lebih 7 hari kerja.
Nah, berhubung suami saya berasal dari wilayah yang berbeda dari saya, yaitu dari Kabupaten Bandung, maka suami saya harus membuat Surat Keterangan Pindah Datang dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kotamadya Bandung. Caranya agak ribet dan lumayan makan waktu, karena letak Disdukcapil Kabupaten jauuuuh sekali. Berikut langkah-langkah untuk membuat Surat Keterangan Pindah:
Meminta Surat Keterangan pengajuan pembuatan KK baru (dan sekalian KTP baru, biar gak bolak-balik) dari RT dan RW tempat tinggal asal.
Ke kantor Kelurahan tempat tinggal asal untuk membuat resi pengajuan Surat Keterangan Pindah
Ke kantor Kecamatan tempat tinggal asal untuk membuat pengajuan Surat Keterangan Pindah, yang nantinya akan diserahkan ke…
Disdukcapil Kabupaten Bandung, untuk menerbitkan Surat Keterangan Pindah. Bahwa suami saya hendak berpindah domisili dari wilayah Kabupaten ke wilayah Kotamadya. Di proses ini, KTP lama suami saya dicabut. Jadi doi cuma berbekal fotokopinya saja.
Surat Keterangan Pindah dari Disdukcapil Kabupaten kemudian diserahkan ke Disdukcapil Kotamadya untuk memperoleh Surat Keterangan Pindah Datang (FINALLY!!). Finally, setelah memperoleh surat ini suami saya bisa dikatakan sudah menjadi penduduk Kota Bandung. Tinggal urus dokumennya saja untuk mensahkannya.
Setelah memperoleh Surat Keterangan Pindah Datang dari Disdukcapil Kotamadya, barulah kita bisa memeroses pembuatan KK baru yang sudah saya tulis di atas. Jadi lama waktu yang kami butuhkan untuk pembuatan KK baru ini kurang lebih adalah 1 bulan, karena lama di wilayah Kabupaten dulu.
*Yeayy! Akhirnya kami jadi keluarga mandiri!
Kalau KK sudah jadi, maka proses pembuatan KTP baru juga semakin mudah. Syarat-syarat pembuatan KTP baru adalah:
KTP asli (kalau suami saya sih Surat Pindah Datang dari Disdukcapil Kotamdya + fotokopi KTP yang lama)
Surat Pengantar dari RT dan RW yang baru untuk membuat KTP baru (Ini sudah sekalian saya buat waktu mau buat KK baru)
Pas Foto 3 x 4 masing-masing 3 buah (kalau saya yang ini di-skip)
Data yang berkaitan dengan KTP (untuk jaga-jaga, bawa aja fotokopi buku nikah, fotokopi paspor, fotokopi SIM, fotokopi Akte Kelahiran)
Setelah semuanya lengkap, barulah kita kantor Kelurahan baru untuk mengisi dan menandatangani semacam formulir data diri, yang nantinya akan diserahkan ke Kantor Kecamatan yang baru. Jangan lupa, di form itu yang kita contreng adalah ‘penggantian KTP’ bukan membuat baru. Kalau membuat baru, kemungkinan jadinya bakal lama. Dari Kantor Kecamatan nanti kita akan dikasih resi pengambilan KTP. Gak lama cuma 1 hari, kami mendapat SMS dari Kecamatan bahwa KTP kita sudah jadi.
Kita difoto lagi gak kalo ganti KTP? Enggak, karena kita kan cuma ganti data, gak membuat data yang baru. Jadi foto yang dipakai juga foto kita yang dulu waktu pertama bikin KTP (foto waktu masih gadis… heuu…). Fyi, untuk KTP yang sekarang masa berlakunya adalah seumur hidup! Yes, jadi gak usah bolak-balik Kecamatan untuk memperbarui KTP lagi!!
Begitulah pengalaman kami dalam membuat dokumen kependudukan. Meskipun keliatannya cemen, tapi ribet loh kalo kitanya gak siap. Apalagi sekarang kami sebentar lagi mau jadi orang tua, untuk bayar rumah sakit aja kan perlu data yang valid. Biar gak keteteran pas di akhir nanti.
Semoga bermanfaat! :D
Senin, 18 April 2016
Saya dan suami membiasakan diri untuk saling mengunjungi orang tua masing-masing, minimal sebulan sekali aja. Nah, karena saya dan suami masih tinggal di rumah orang tua saya (sambil menunggu rumah sedang direnovasi), akhirnya kemarin dari hari Sabtu sampai ke Minggu, saya menginap di rumah orang tua suami saya. Yang mana berarti itu adalah..............
.
LIBURAAAAANN!!! Hore LIBURAAAN!!
.
Lho, kenapa liburan??
Soalnya di rumah mertua saya banyak orang. Pembantunya banyak, adik-adik yang baiik, dan belum lagi Ibu, Bapa dan Nenek (kami memanggilnya ‘Mamah’) saya yang ngemanjaiiin banget kalo soal cucunya. Kalo pengen apa-apa tinggal minta, dibuatin apa-apa pasti dibikinin, terus ga dibolehin ngerjain yang susah-susah, dsb,dsb. Hihihi... Alhasil saya bisa bersenda gurau ama adik-adik saya, sama nenek, dan tentu sama suami saya.
Beda kalo di rumah sendiri. Ibaratnya kalo di rumah sendiri itu ‘sekolah’ yang waktu belajarnya terus-menerus. Walaupun saya sedang hamil, boro-boro bisa diem! Yang ada malah disuruh kemana-mana, ngerjain apa-apa, dan lagi di rumah saya mah gak ada Asisten Rumah Tangga, jadi apa-apa harus mandiri ngerjain sendiri. Ya enggak apa-apa sih, ibaratnya kalo rumah adalah ‘sekolah’ yang terus menerus, ya berarti waktu belajar apa-apanya juga terus menerus. Dan kalo ada salah apa-apa ya langsung diperbaiki di situ, saat itu juga. Toh, hanya keluarga kami yang tahu kesalahan kami. Saya tau juga itu tujuannya baik untuk saya, supaya saya yang sedang hamil ini enggak ‘statis’.
Tapi da tetep aja, aku kan pengen libuuuurr!! Hehehe...
Oke, sekian.
Naon sih...

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Educated Mom? Absolutely!!
Jika anak perempuan kita bilang, cita-citanya adalah: “Menjadi ibu rumah tangga.”. Maka mendesak sekali, sekolahkan dia tinggi-tinggi. Bila perlu S-3, dstnya, dstnya.
Untuk jadi akuntan, itu cukup S1+profesi, selesai. Untuk jadi dokter, itu cukup S1+koas+ukdi+dll, selesai. Tapi untuk jadi ibu rumah tangga, tidak cukup pendidikan apapun. Ilmunya luar biasa kompleks.
Didik anak perempuan kita sebaik mungkin, agar besok lusa dia bisa mendidik anak-anaknya lebih baik. -- Tere Liye
Kamis, 14 April 2016
Kadang banyak banget orang yang nanya, “Udah nikah mau kerja apa di rumah?” Ya, gak apa-apa sih. Itu hak mereka buat nanya. Namun pertanyaan ini menggelitik saya dari hati yang terdalam. Kenapa? Karena saya berbeda dengan mommy-mommy lain yang saya kenal (mungkin). Berbeda dengan mereka yang sanggup bekerja sambil mengurusi rumah tangga, atau hamil sembari kerja. Saya di sini tidak bekerja. Saya full mengurusi rumah, merawat anak di kandungan saya, mengurusi suami, dan bersenda-gurau dengan keluarga. Padahal, saya memegang titel Master, pengalaman kerja pun masih bisa diperhitungkan.
“Sayang, Nes, ilmunya jadi gak kepake?”
Banyak orang juga yang berkata begitu pada saya, tak terkecuali orang tua saya. Tapi dalam hati saya jawab, “Kata siapa??”
Kata siapa ilmu saya gak kepake di rumah?? Justru banyak sekali keuntungan yang saya rasakan sebagai (calon) educated mom selama saya menikah.
Kalo saya gak berpendidikan, saya gak bakalan ngerti tentang gimana sih cara jadi ibu yang baik, masak yang baik, menghargai yang baik, bergaul yang baik, dst. Karena saya sudah menguasai (atau minimal browsing) teknik-tekniknya sewaktu masa belajar dulu.
Saya lebih mudah berkomunikasi dengan suami. Kebayang gak sih, kalo suami saya ngomongin Teori Antarpribadi ini, tapi sayanya cuma blah-bloh? Wah, bisa-bisa suami saya malah kabur!
Saya bisa membantu suami, karena dia yakin saya tidak bodoh dan pasti bisa mengerjakan hal-hal sulit sekalipun. Kebayang kalo suami saya minta cariin materi kuliah yang bagus mengirimkannya lewat email, sedangkan saya gak ngerti apa-apa??
Saat saya mampu mengimbangi pengetahuan suami, otomatis akan membuat suami saya akan lebih menghargai saya. Siapa sih yang gak mau diperlakukan dengan setara? Bukan hanya sekedar orang di belakang punggung suami yang bergantung sepenuhnya padanya. Saya bisa mengimbangi pembicaraannya, bisa memberikan saran-saran yang membantu, bisa kreatif dalam rumah tangga biar gak bosen, dan lain-lain.
Tahukah Anda kalau kecerdasan anak akan menurun dari Ibunya sebanyak 48%? Jadi boleh dong kalo saya bilang gini: tujuan saya berpendidikan tinggi agar nanti dapat membesarkan anak yang memiliki kecerdasan yang tinggi pula.
Selain faktor genetik dari Ibu, yang menentukan kecerdasan anak juga bisa jadi dari lingkungan. Nah, siapa yang menciptakan lingkungan yang baik untuk anak? Ya Ibunya! Anak tidak akan malas kalau ibunya ngajarin supaya gak malas. Anak belajar menghargai kalau ibunya ngajarin bagaimana caranya bersopan santun. Anak akan belajar bergaul kalau ibunya juga pandai bergaul, dst,dst. Siapa yang bilang hal itu mudah? Hal yang seperti itu cuma ada di rumah! Gak ada sekolahnya!
Karena tau segala hal, saya jadi bisa “membaca” lingkungan kerja suami. Kebetulan lingkungan kerja suami adalah pendidikan, yang mana saya juga sudah melihat bagaimana lingkungan itu. Jadi kalo suami saya (amit-amit!) macem-macem di tempat kerjanya, saya bakal tau.
Seorang anak memiliki kemampuan duplikasi yang tinggi. Di tahap anak-anak,dia akan banyak meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Dengan memiliki pendidikan yang tinggi, secara gak langsung saya sudah memberikan pendidikan tingkat pertama sama anak saya nanti, salah satu fase palig penting sebelum anak mengenyam pendidikan di sekolah. Yaitu memberikan contoh yang baik bahwa anak itu wajib sekolah, kalau bisa yang tinggi!
Entar kalo anak saya nanya yang macem-macem, saya bisa menjawabnya dengan mudah dan kreatif. Misalnya nanya, “Mbu, kok bisa ada anak di perut Mbu sih?” Nah, saya udah punya jawabannya. Hehehe..
Karena masa depan gak bisa diprediksi. Kalau saya terbiasa menggantungkan sepenuhnya pada suami, nanti ketika suami gak ada, saya gak bisa apa-apa! Memang kita gak mau kejadian hal buruk terjadi. Tapi apa salahnya menyiapkan diri? Minimal dengan mengantongi gelar aja, saya gak perlu kaget atau gelagapan kalau disuruh kerja lagi atau apa. Bukankah sudah bukan rahasia jika hidup itu seperti roda yang berputar?
Begitulah sementara ini keuntungan yang saya rasakan sebagai educated mom selama saya menikah. Tentunya akan beda lagi jika si Dedek sudah lahir nanti. Saya bukan mencari pembenaran atas apa yang saya alami. Saya juga gak men-judge bahwa wanita karir itu jelek, malah saya juga dukung kalo wanita karir tapi bisa sembari mengurusi rumah tangga. Tetapi saya di sini hanya memberikan sedikit gambaran dan keuntungan yang saya dapat mengenai pentingnya pendidikan bagi perempuan, apalagi kalau mau jadi ibu rumah tangga.
Saya juga sudah mendiskusikan hal ini dengan suami sebelum kita menikah. Suami saya bilang. “Kamu jangan setengah-setengah. Kalo mau jadi ibu rumah tangga, sok jadilah yang terbaik! Kalo mau kerja, kerja aja yang terbaik, tapi harus merhatiin rumah juga!” Ah, saya pikir kerja jadi Ibu Rumah Tangga aja sulitnya minta ampun, kenapa saya harus nambah-nambahin jadi wanita karir? Kan itu gebloy!
Jadi apapun pilihanmu, jangan setengah-setengah dalam menjalaninya, Usahakan yang terbaik walaupun itu kerja yang secemen apapun.
:D