LEPAS
Hari ini saat scroll-scroll instagram, nggak sengaja ketemu sebuah berita. Di sana ditulis, "telah ditemukan sebuah jasad perempuan di pinggir rel kereta tanggal 12 Januari 2023. Tidak jauh dari sana ditemukan ponsel yang sudah hancur, sepasang sendal jepit merah, tas tenun, kain bermotif bunga, serta secarik kertas bertuliskan nomor ponsel ayah dan kakak".
Seketika dada terasa sesak. Lalu aku beralih pada kolom komentar dan menemukan berbagai komen. Mulai dari yang berduka cita dan mendoakan, sampai yang menjudge dan memaki tindakannya. Hingga akhirnya fokus pada satu komentar yang mencantumkan nama orang tersebut.
Aku mulai dari foto terbawah. Semuanya tampak normal. Foto dengan pose tersenyum dan caption sederhana. Namun semakin ke atas, foto semakin buram meski masih terlihat wajah yang sedang tersenyum. Bedanya caption di bawahnya berubah sendu.
Semakin kulihat dan kubaca caption setiap foto, rasa sesak itu semakin banyak. Nampaknya dia benar-benar terluka tapi tidak punya tempat pulang dan tidak menemukan cara untuk sekedar berbagi ceritanya.
Perlahan luka-luka itu menenggelamkannya hingga ia merasa mati, walau raganya masih berusaha hidup. Dia berusaha untuk melawan hasratnya untuk mengakhiri semuanya dengan menjadi sibuk, mencari cara untuk memperpanjang kisahnya. Tapi akhirnya ia menyerah.
Satu foto sebelum postingan terakhir, tepat satu hari sebelum ia pergi, ia telah lebih dulu berpamitan dengan memposting foto kedua kakinya di rel kereta. Meyakinkan diri bahwa mati dapat mengakhiri penderitaannya. Tapi tidak ada yang peduli. Bahkan tidak ada yang menahannya hingga akhir.
Dan, pada hari itu, hari di mana ia ditemukan. Ia telah melepas lukanya. Dia tidak lagi merasa sakit setelah menghantamkan dirinya ke tubuh kereta yang melaju sangat cepat. Begitu cepat sampai ia tidak merasakan sakit sedikit pun. Meski itu salah, dia tidak menyesalinya. Karena dia telah begitu lama menanggungnya sendirian dan tidak satupun orang yang bisa menariknya dari jalan itu.
Namanya Widya. Dia lebih sering mengumpamakan dirinya sebagai Nona atau gadis rambut panjang. Dia seorang pemain teater di sekolahnya, dan dia juga suka menulis. Usianya baru 16 tahun, tapi beban pikiran yang ia pikul mungkin terlalu berat baginya.
Aku tidak tahu secara persis apa yang ada di kepalanya. Dan aku tidak bisa benar-benar berdiri di atas kakinya. Namun yang aku tahu ketika seseorang memutuskan untuk mati tanpa memperhitungkan hal lain lagi, berarti dia telah berusaha sampai akhir.
Mental seseorang tidak pernah sama. Tidak semua orang bisa bertahan dalam situasi yang mereka alami. Perasaan diabaikan, dikhianati, dikucilkan. Hal-hal yang bagi orang lain sepele, belum tentu sama di mata kita.
Mungkin benar, hidup adalah sebuah kutukan. Meski ada sedih dan bahagia, tetap saja luka tidak akan pernah sembuh semudah kita mendapatkannya.
Bandung, 26 Januari 2023
(Yue)











