Aku terlanjur mendapatimu kehilangan tegar, seperti burung kehabisan kicau di penghujung musim kemarau. Namun bisa saja itu kehendakmu. Pilihanmu sebagai pribadi yang mampu menutup mata dari bising dunia. Meski aku tetaplah kekasihmu yang bisa saja tak ku hiraukan seolah melati hilang wangi. Tak apa, asal tidak hatimu yang sirna arti. Dan itu ku tanamkan berulang di satu tanah masa yang sudah. Aku tak ingin ceriamu berlalu.
Aku terlanjur menemuimu tengah merajuk pada Tuhan, pada hari, pada semesta yang kau anggap juga tak peduli. Tentu itu sebelum luruh keangkuhanku yang bertanya muasal dibaliknya. Toh itu tidak penting sebab bukankah kita pernah berdoa “semoga tak ada sesal untuk hidup yang tak kunjung kita yakini mengarah kemana”. Tapi itu terlalu rumit. Untuk alasan yang tak ku pahami, kamu tetap saja merenungi dingin yang dulu sekali pernah kita temui. Menekuni senja yang hilang jingga. Menekuri jengkal sunyi dalam ruang yang berduka.
Sesaat kau nyatakan padaku “berjalanlah meski matahari tak pernah meluruskan bayang, berangkatlah meski bulir hujan menggenangkan aksara darah pada jalan”. Bagiku itu terlampau musykil, tapi kamu selalu beranggapan itu adalah niscaya. “Ini bukan untukku mengobati luka, ini bagiku mengukuhkan hidup tidaklah bercabang dua”, katamu.
Seperti prosa, aku ingin melihatmu kembali menuliskan lagu, meski dengan nada yang naik turun tak tentu yang kerap kita dendangkan sebelum lelap menyapa senyap. Kemudian bermimpi tentang sungai di barat yang sempat disinggahi Nuh atau berteduh di buritan sauh dari riuh dan terik yang membunuh.
Namun sayang, hidup kita kali ini haruslah kita mengerti bahwa semua bukanlah mimpi sekali lagi. Bukan.
Ada tujuan yang harus diikrarkan sebelum kita terkulai dalam pusaran. Ada janji yang harus dipenuhi agar aku dan kau terus tergoda untuk kembali. Di atas altar sana, di tempat seluruh ingat dengan rapi kita catat. Dan menghayatinya sebelum waktu membunuh kita berdua, cepat ataupun lambat.
Aku terlanjur menyuamu telah terlupa akan itu semua. Tidak jua kah kau bersedia mengibarkan kisah tegar kita dulu?
Malam ini, kau telah setia memurungkan paras; menggariskan batas yang tak lagi bisa dimasuki dengan tawa yang keras. Aku tak mengerti bagaimana caraku mengobati, membuka celah untuk mengakrabi hari-hari kita meski di hadapmu itu tak pernah mudah terucap.
Kekasihku, aku tak lagi mengerti beda diantaranya; aku hanya berharap lembaran ini sempat kau baca.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming