π Pagi itu kala mentari enggan menyapa, langit kelabu Aku pikir, biasa saja tak akan turun hujan karena hari-hari sebelumnya pun mentari terasa terik menyinari Raina, gadis kecil yang sudah siap menikmati rutinitas dan hangatnya mentari Kini ia sedikit berkecil hati. Langit tak membiru, ia kelabu seperti memendung air matanya agar tak jatuh, membasahi baju Raina. "Ahhh sudahlah, mungkin ia sedang gelisah, menahan apa yang ia pendam" ucap Raina, menenangkan hatinya. Namun,Raina harus menerima, pagi itu seketika hujan turun deras. Bayangnya terhapus, ia kira hanya sekedar memendung air mata. Namun ia jatuh, dan bukan hanya Raina yang basah kuyup atasnya. Semua orang saling berlarian, mencari tempat berteduh Pagi ini langit tak sepihak dengannya, Ia kelabu, Ia sedih, Apa ada yang salah padaku, Apa ia marah terhadapku, Ataukah ia kecewa kepadaku ? "Raina menggerutu" Bukankah, dulu aku sering asyik, menikmati hujan dibalik jendela rumah Sambil mengadahkan tangan, terasa segar ketika tertimpa air yang jatuh Melihat aliran air yang melewati dinding-dinding tanah Rasa ingin tahu, ketika aliran itu akan bermuara sampai mana. (Raina berbisik dalam hatinya) Raina harus mengerti, bahwa apa yang ada bukan segala tentang egonya, mengiyakan apa maunya. Semesta memiliki ceritanya, dan kelapangan hati kitalah tempat saling menerima dan yang patut saling mengerti... . . . @30haribercerita #30hbc1729 Lok : St. Duri 28-01-2017 | 08:20