Waktu: Penawar Rasa Sakit Bagi Penyintas
May membuka pintu kamarnya. Ia menggunakan dress berwarna biru dengan ikat pinggang coklat dan rambut panjang terurai. Perlahan melangkah keluar, memeluk seorang pria beruban dan berkata,Â
"Bukan salah Bapak."
Akhirnya sebuah kata pun terucap dari mulut May, si tokoh utama, sebagai penutup kisah panjang dalam film 27 Steps of May.
---
Wah.. Setelah sekian lama masuk dalam daftar tontonan, akhirnya kesempatan untuk menonton film ini kesampaian juga. Dari awal muncul dan liat promonya di beberapa acara televisi, saya sudah sangat exited nonton.
Emang perasaan, tuh, nggak pernah bo'ong ya. Pertama kali tahu, saya udah ngerasa, nih, film bagus banget. Bener aja pas kemarin nonton, ceritanya dalem banget. Gak ada ekspektasi apa-apa karena udah lupa juga sama trailer dan review-nya. Jadi pas kemarin nemu film ini langsung aja nonton.
Sebelumnya, saya peringatkan:
Tulisan ini mengandung isu sensitif bagi para penyintas korban kekerasan seksual.
Oke, langsung saja. SPOILER ALERT!!!
Sebuah cerita yang ditulis oleh Rayya Makarim dan disutradarai oleh Ravi Bharwani berjudul 27 Steps of May (2018) ini tayang perdana di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2018.
Dibuka dengan tawa ceria May (Raihaanun)Â di sebuah pasar malam. Masih mengenakan seragam SMP, May yang masih berusia 14 tahun menikmati berbagai macam wahana bermain di sana.
Hingga akhirnya, di perjalanan menuju pulang, sekelompok pria datang menghampiri dan merenggut keperawanan May. May dianiaya dan diperkosa.
Belum 24 jam kebahagiaan May rasakan, memori indah itu sudah terkubur dengan "mimpi buruk" yang menghantui May setiap saat.
Delapan tahun berlalu. May menjalani hari-hari dengan rutinitas yang terus berulang. Bangun tidur, lompat tali, menyetrika pakaian dengan sangat rapi, menggulung rambut, hingga membuat boneka. Semua rutinitas itu dijalani di kamarnya.
Seperti sudah terjadwal. May hanya keluar kamar untuk makan bersama Bapak (Lukman Sardi) di meja makan. Selain itu, May sama sekali tidak pernah meninggalkan ruangan pribadinya.
May hanya mau makan makanan berwana putih. Berpenampilan dan berpakaian rapi. Pakaian yang dikenakan selalu berwarna pastel dan tanpa motif apapun.
Di meja makan, tidak sedikit pun kata terucap dari mulut May. Meskipun terlihat di wajah Bapak yang ingin mengajak anaknya bicara, tapi ia mengurungkan dan membiarkan May menikmati makanannya dalam kesunyian.
Setiap malam Bapak bertarung tinju. Paginya, ia memberikan boneka yang sudah jadi dan menerima boneka baru, yang masih setengah jadi, dari seorang Kurir (Verdi Solaiman). Kurir ini sudah seperti sahabat bagi Bapak.Â
Suatu hari, tiba-tiba terjadi kebakaran tepat di belakang rumah May. Bapak pun bingung. Ia ingin menolong anaknya, tapi ia tahu apa yang akan terjadi setelahnya hanya akan membangkitkan luka lama. Namun, dengan terpaksa Bapak akhirnya membantu anaknya keluar rumah untuk menyelamatkan diri. May menolak, tapi Bapak terus memaksanya.
May pun marah dan berakhir mengunci diri di dalam kamar. Dia kembali melukai dirinya sendiri. Sedangkan Bapak kembali bertarung tinju dengan penuh "semangat."
Beberapa saat setelah kejadian tersebut, May akhirnya kembali menjalani rutinitasnya. Hingga suatu ketika, ia menemukan lubang kecil di dinding kamarnya. Sebuah keajaiban pun terjadi.
Di balik tembok itu terdapat seorang Pesulap yang diperankan oleh Ario Bayu. Ia selalu mengajak May berinteraksi. Lebih tepatnya komunikasi yang hanya menggunakan bahasa tubuh dan tulisan di secarik kertas.
Sejak saat itu perlahan May menunjukkan perubahan. Bapak yang tidak tahu apa yang terjadi di balik pintu kamar May pun keheranan. Ia tidak bisa menanyakannya secara langsung pada May, melainkan hanya menceritakannya pada si Kurir Boneka. Mendengar hal tersebut, satu kata keluar dari mulut Kurir Boneka, yang kemudian menjadi ciri khasnya, adalah "Progress."
Kata tersebut muncul setiap Bapak bercerita bahwa May melakukan suatu tindakan di luar biasanya. Perlahan Bapak mulai terbiasa dengan perubahan itu hingga kehilangan kekuatannya dalam bertarung tinju.
Namun, perubahan itu tidak bertahan lama. Seiring dengan May yang mulai berani masuk ke "dunia" si Pesulap, sebuah kejadian kembali mengingatkan May pada peristiwa 8 tahun lalu. May kembali marah dan memberontak. Si Pesulap yang tidak tahu apa-apa berusaha untuk menenangkannya, tapi May makin berteriak. Bapak yang mendengar itu pun langsung masuk ke kamar May dan berusaha melindungi putrinya.Â
May masih menyimpan trauma. Pun si Bapak masih terus menyalahkan dirinya karena merasa gagal.
Saya memang tidak memiliki pengalaman seperti yang diceritakan di film, tapi saya merasakan bagaimana perjuangan May dan Bapak melawan masa lalunya. Hanya saja, saya tidak bisa membayangkan bagaimana "sakitnya" masa lalu May (dan awkward-nya Bapak) di mana ia telah disakiti oleh sekelompok laki-laki dan di rumah dia hanya tinggal berdua dengan Bapaknya, yang tentu saja seorang pria juga.
Sebuah sajian film menarik yang mengangkat isu cukup sensitif. Akting Raihaanun, yang nyaris tanpa dialog sepanjang lebih dari 1,5 jam, sangat pas disandingkan dengan Lukman Sardi sebagai Bapak dan Anak.Â
Meskipun filmnya menceritakan sebuah rutinitas yang terus berulang, menurut saya pengulangan tersebut justru inti dari cerita. Di mana May dan Bapak berusaha untuk saling menjaga, berada di zona nyaman, serta melanjutkan kehidupan "baru".
Untuk scoring filmnya pun sangat menarik. Menyesuaikan scene yang ditampilkan. Dari mulai sunyi, hingga bising. Semuanya pas. Membuat saya ikutan gemas ketika melihat ekspresi bapak yang seolah ingin memecahkan keheningan antara May dan Bapak di meja makan.
Dari sini saya belajar betapa sebuah kejadian tidak hanya berdampak pada satu orang saja, melainkan semua pihak yang ada di belakangnya pun turut merasakan, baik secara langsung maupun tidak.
Terlebih tentang kisah pilu yang amat menyakitkan ini. Saya rasa film ini tidak dianjurkan untuk para penyintas. Cukuplah film ini dijadikan sebagai "pengingat" bahwa kekerasan seksual, bagaimana pun bentuknya, dapat "menghancurkan" masa depan korban. Setidaknya, memori kenangan masa lalunya.
Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menyembuhkan luka. Bahkan ketika luka itu sudah mengering, bekas lukanya masih dan akan terus terlihat.
Akhir kata, saya kasih 8.5/10 untuk film yang memunculkan banyak teori dari para penonton ini. Meskipun pada kenyataannya si penulis dan sutradara bilang bahwa tidak semua dimaksudkan demikian. Namun, jika memang itu hanya sebuah kebetulan, maka kebetulan yang diciptakan sungguh sangat terlihat natural.











