Berjarak dari Perasaan dan Keadaan
Pernah dan akan ada masa dalam hidup, kita menjalani fase yang tak mudah. Beberapa, karena kelok dan terjalnya, kita merasa tak mungkin kondisi kita tetap baik di akhir fase ini. Kadang, kita merasa tak mungkin mampu menyelesaikan fase ini. Bahkan, terlintas untuk menyudahi semuanya di tengah fase, fase ini tak mungkin bisa dituntaskan.
Dalam masa-masa seperti ini, perasaan dan logika berebut tempat untuk menguasai diri kita. Sehingga, sesekali kita kesulitan menguasai diri. Jika sudah begitu, duduklah sejenak dan atur nafas. Tenangkanlah diri karena hanya diri yang tenang yang mampu memenangkan fase ini.
Dalam kondisi tersulit sekali pun, berusalah untuk berjarak dengan perasaan dan keadaan. Berjarak dari perasaan dan keadaan membuat kita mampu melihat segala hal dengan lebih jernih. Ambilah keputusan dalam keadaan tenang. Tidak akan bijak keputusan yang diambil dalam kondisi perasaan ekstrem: sangat marah, sangat sedih, sangat senang atau perasaan ekstrem lainnya. Ambilah keputusan dalam kondisi perasaan yang terkendali. Tak masalah jika keputusan yang nantinya kita ambil terwarnai dengan perasaan. Namun, pastikan bahwa bukan perasaan yang mengambil alih diri kita dalam mengambil keputusan.
Ketidakmampuan seseorang berjarak dengan perasaan dan keadaan dapat membuat keputusan menjadi jauh dari bijaksana. Orang tua menyayat anaknya yang melakukan kenakalan polos dengan tatapan, perkataan dan tindakan yang penuh ancaman. Tanpa disadari, sayatan itu membekas dan bernanah, tak pernah bisa terobati seumur hidupnya. Sebuah bahtera yang berlayar belasan tahun kandas begitu saja saat salah satu awak berekspektasi dan awak lainnya tak seperti ekspektasinya, mengedepankan ego masing-masing.
Sebelum mengambil keputusan, berjaraklah dengan perasaan dan keadaan. Gunakanlah akal sehat dan perasaan secara seimbang, agar keputusan menjadi bijaksana.
Sari A. Rahmawati Suatu sudut di perpus keren sebuah kampus Bandung, 25 Agustus 2015 Dalam tenang















