Hilal & Gina #episode 6: Their Conversation
Gina sedang melihat arakan awan di luar jendela ketika merasa bungkus chips yang dipegangnya bergoyang tidak beraturan dan disitulah, Hilal dan tangan celamitannya. Gina melirik sinis.
"Celamitan" seloroh Gina tapi membiarkan saja tangan Hilal meraup banyak chips miliknya. Hilal cengengesan.
"Ya lu gak nawarin, gue inisiatif lah"
"Gue nggak nawarin aja lo udah inisiatif, apa kabar gue nawarin?" sinis Gina dan Hilal lagi-lagi nyengir.
"Berbagi itu kunci, Gin" kata Hilal tapi Gina sudah malas berdebat maka ia kembali melihat arakan awan di luar. Kereta terus melaju dan bunyi kraus-kraus dari Hilal mulai terdengar. Mungkin lelaki itu sudah bosan dengan game-nya atau mungkin mulai lapar, Gina enggan bertanya.
Agenda pulang bareng seperti ini, baik Hilal maupun Gina mungkin akan sama-sama menjawab tidak tahu bila ditanya sejak kapan. Yang mereka tahu, bila pengumuman libur semester atau libur lainnya yang sekiranya panjang keluar, ruang obrolan mereka akan otomatis terbuka. Mungkin, mungkin janjian-tapi-nggak-janjian itu adalah kebiasaan yang mereka bawa dari sekolah sebab dulu, waktu ada orientasi siswa, kemah pramuka atau kegiatan tambahan lainnya, pertanyaan seperti "dijemput siapa?" atau "bareng nggak?" adalah pertanyaan lumrah untuk mereka jadi bahkan saat kuliah pun, saat mereka literally sudah tidak bertetangga, hal seperti itu akan tetap begitu.
"Hiiillll" Gina berucap gemas ketika tangan Hilal lagi-lagi merangsek ke bungkus chips. Kali ini Hilal tidak mengambil banyak. Hanya dua tiga keping tapi wajah lempeng Hilal membuat Gina sukses menautkan alis. Apa ya, bukannya Gina pelit atau apa tapi Hilal dan kebiasaan seenaknya nggak pernah gagal bikin Gina bete.
"Ya bilang kan bisa?!" Gina memutar duduk menghadap Hilal. "Lo tuh kebiasaan deh seenaknya"
"Apa sih minta doang sensi? Ntar gue beliin se-indomaret indomaretnya" balas Hilal ofensif bikin Gina tambah kesal.
"Tau ah" pungkas Gina lalu memutar duduk. Menghadap jendela kembali setelah menyimpan chips di tatakan di bawah jendela. Sebodo deh mau dihabisin Hilal atau gimana, Gina sudah tidak peduli sebelum, setelah satu menit di posisi begitu, tangan Hilal tahu-tahu menjulur.
"Maaf," kata Hilal pendek bahkan intonasinya terdengar malas. Gina cuma melirik. Hal lumrah lain diantara Gina dan Hilal, Hilal akan selalu menjulurkan tangan, mencari maafâentah itu ikhlas atau tidakâketika mood Gina dirasa Hilal berubah.
"Dimaafin nggak nih?" tanya Hilal demanding sambil menggoyang tangan. Gina menghembus nafas jengah.
"Gue colok ya, Hil, mata lo" kesal Gina karena Hilal literally menggodanya. Si lelaki tertawa.
"Gin, Gin... hiiiihhhh" tangan Hilal meremas udara membuat Gina beringsut. "Kenapa sih?"
"Lo tuh yang kenapa? Dari dulu kayaknya sensiiiii banget sama gue. Gue ketekin juga nih" seloroh Hilal dengan gesture tengilnya.
Gina bergidik. "Apa sih gak jelas"
"Tapi seriusan, lo tuh ada masalah apa sih sama gue? Kayaknya gak pernah suka gitu sama gue, herman, padahal separo hidup lu ada guenya"
"Ya lo duluan selalu cari gara-gara. Suka banget bikin gue nangis pas SD"
"Ya Allah pendendam banget lu, Giana, dari SD masih aja diinget-inget. Gue kan juga kalo abis bikin lo nangis selalu minta maaf"
"Apa gunanya minta maaf kalo dilakuin lagi?"
"Astaghfirullah" seloroh Hilal tapi entahlah, di akhirnya ia mengulum senyum. "Gue ketekin beneran lu" kata Hilal tapi lagi-lagi Gina sudah malas berdebat maka ia kembali melihat ke luar jendela. Gina membaca plang-plang random di jalanan yang bisa ia baca: padang sederhana, laundry kiloan, jual tanah tanpa perantara, dilarang kencing selain anjingâ
"Gue dulu iri tau, Gin, sama lo makanya gue suka ngisengin lo. Pas lo kesel gitu gue ngerasanya impas tapi kalo lo nangis gue juga ngerasa nggak enak, (haaahh) emang dasarnya gue orang baek siâ" celotehan Hilal menggantung seiring matanya tiba-tiba berserobok dengan mata Gina. Literally manik perempuan itu mengunci manik Hilal membuat Hilal keheranan.
"Apaan?", "Apa yang lo iriin dari gue?" tanya Hilal dan Gina hampir bersamaan membuat keduanya mengatupkan mulut. Gina masih mengunci manik Hilal sedangkan Hilal, entahlah, rautnya datar.
Hilal menghela nafas kasar. "Banyak, Gin. Banyak yang gue iriin dari lo pas kecil," jawab Hilal seraya bersender ke kursi. Menyilangkan tangan di dada sambil matanya menatap ke luar jendela. Gina ikut bersender seraya atensinya tidak lagi ke luar tapi pada Hilal. Tubuhnya menyerong.
"Poin pertama dan paling penting, lo itu anak tunggal," Hilal mengacungkan telunjuknya. "Pas kecil gue pengen banget jadi anak tunggal biar gue nggak perlu jagain adek-adek gue yang lo tau sendiri ada 3 biji. Mana Rifat waktu itu masih bayi, bikin gue kalo apa-apa tuh jadi kayak harus nanggungjawabin Danty Didi. Yang jajan-lah, nungguin balik, pernah juga cepirit di sekolah gue juga yang ngurusin. Belum lagi kalo pengen apa gitu pas Danty Didi sakit, 'itu adek-adeknya lagi sakit lho, Bang, kok malah mau jajan es?'," pandangan Hilal menerawang. "Gitu deh pokoknya. Gue ngerasa nggak suka aja punya adek pas itu. Beda sama lo yang anak tunggal. Yang kalo kemana-mana lo diajak, pengen main sepatu roda tinggal maen, maen skuter tinggal maen; nggak perlu takut diomelin bikin adeknya ikut-ikutan terus jatoh" Hilal memandang Gina yang nyatanya daritadi memandanginya. Manik mereka lagi-lagi berserobok sebelum Gina mengangguk samar lalu memutus kontak.
"Sekarang, masih iri?" tanya Gina lirih tapi cukup Hilal dengar dan seketika, Hilal kehilangan kata-kata. Orang bilang Hilal itu jago bicara, ngelesnya pinter tapi entahlah, untuk Gina dan case-nya, Hilal selalu kehilangan kata-kata.
Tentang keadaan Gina sekarangâpasca perpisahan orang tuanyaâ, Gina pernah menangis sekali di depan Hilal untuk setelahnya biasa saja. Mungkin benar Hilal menghabiskan separuh hidupnya dengan ada Gina tapi itu sama sekali tidak membuat Hilal benar-benar mengenal Gina. Menurut Hilal, Gina adalah manusia paling dinamis. Gina cepat sekali belajar: cepat sekali memahami emosi, cepat sekali menidakapa-apakan diri, cepat sekali terlihat baik-baik saja maka pertanyaan 'sekarang masih iri?' itu, Hilal bahkan tidak bisa mengidentifikasi jawaban seperti apa yang ingin Gina dengar.
"Sebenernya ya, Hil, kemarin gue bohong bilang mau ke mami," Gina menabrak lagi manik Hilal dan untuk yang ini, Hilal menangkap sedikit sendu di sana. "Gue tuh sebenernya pengen liburan di Jogja aja. Ke Kanina apa kemarin gue sempet kepikiran ikut Nora balik ke Bali. Sebulan liburan gitu kan mayan tapi... kalo gue pikir-pikir, sebenarnya papa bakal nggak papa sih kalo gue nggak balik. Dia pasti juga nggak bakal nanya yang gimana-gimana asal gue perginya jelas, cuma ya gitu, bokap entar sendiri. Almost one year he'll spend his days alone, gue nggak tega... cuma bokap tuh juga jarang di rumah even gue di rumah dia nggak spare times buat kita. Bokap gue udah beda, Hil, dari yang lo liat dulu sering ngajakin gue keluar," Gina mengulum bibirnya.
"Terus kalo ke mami, nggak tau ya, sejak mami gue nikah lagi, gue ngerasa beda aja. Mami is still as lovely as she used to be, dia tetep Mami cuma... kayak dia udah punya keluarga baru, keluarga yang lain dan walaupun Mami sama suami barunya nge-treat gue well, gue ngerasa asing aja. That's not place I should go walaupun Mami di sana. Makanya nggak taulah, tiap liburan tuh gue sebenernya bingung mesti kemana. Gue kayak nggak punya rumah, Hil" cerita Gina seraya memilin-milin ujung sweatshirt-nya. Sweatshirt hijau yang Hilal tahu sering Gina pakai, mungkin favoritnya.
"Do I sound pathetic?" tanya Gina lirih, lebih seperti monolog tapi sayang Hilal masih bisa mendengar maka laki-laki itu enggan untuk tidak menjawab seperti tadi.
"Pulang ke rumah gue aja" jawab Hilal sambil menyorongkan sebungkus permen yupi yang sudah ia bukaâyang entah didapat darimanaâpada Gina. "Hari ini kata Danty mama bikin bolu pisang. Sekalian lo makan deh, suka kan lo sama bolu pisang emak gue?"
Gina menerima yupi dari Hilalâpermen favoritnyaâdengan kebingungan. "Ya masa gue tiba-tiba ke rumah lo? Gue udah lama nggak ke lo, Hil, udah kayak tamu nggak diundang aja gue"
"Yaelah, tamu apaan sih? Orang gue patah tulang kemarin yang dicari mama gue duluan tuh elu, tamu apaan coba? Udah berasa bestie mama gue tuh sama lo. Lagian kan yang anaknya elo, Gin, bukan gue" seloroh Hilal bikin Gina mengerut.
"Ya kan yang anak kandungnya mama elo. Orang yang ulang tahun siapa yang dibikinin bolu pisang siapa. Anak pungut gue mah" jawab Hilal dan Gina tertawa. Teringat kejadian waktu mereka kelas enam SD. Waktu itu Gina opname karena demam berdarah dan pas hari Gina boleh pulang, itu ulang tahun Hilal. Mama Hilal, daripada bikinin kue atau apapun untuk Hilal, justru bikinin Gina bolu pisang yang kata Gina dia suka banget. Ceritanya sambutan Gina pulang dan Hilal ngambek berat sampai Gina yang nggak tahu apa-apa disinisin tiga hari.
"Ketawa lu," sungut Hilal dan Gina justru makin tertawa. "The best emang mama lo, Hil" seloroh Gina.
"Thi bist iming mimi li, Hil" Hilal mencemooh. "Makanya jangan sok nggak punya rumah lo, Gin. Rumah gue itu, boleh lo anggep rumah lo juga. Home is about familiarity kan?" pungkas Hilal dan Gina cuma terdiam mendengarnya sebelum, saat Hilal membantunya menurunkan ransel, Gina bergumam samar.