Bercerai
Setelah menikah, kemudian melihat bagaimana realita di lapangan. Perspektif saya terhadap perceraian juga berubah. Dulu, saya melihat bahwa perceraian itu adalah sebuah aib besar, sebuah bentuk kegagalan hebat dalam rumah tangga. Tapi, sekarang tidak. Saya bisa memahami mengapa “cerai” itu ada dan boleh, bahkan dalam agama yang saya imani, perceraian itu sama sekali tidak dilarang meski dibenci.
Cerai hadir sebagai solusi terakhir jika sebuah rumah tangga memang tidak bisa diselamatkan, terjadi hal-hal yang memang membuat sebuah rumah tangga kalau tetap dilanjutkan justru terjadi keburukan yang lebih besar. Misal KDRT, perselingkuhan, salah satu berubah akidah, dll.
Kemudian, setiap kali ada kata cerai. Dalam sudut pandangku, yang salah adalah selalu laki-laki. Entah karena laki-lakinya melakukan KDRT, selingkuh, atau hal-hal lainnya. Tapi ternyata hal itu tidak benar, setelah saya membaca banyak sekali data terkait putusan perceraian. Ada juga laki-laki yang menjadi korban KDRT, istrinya yang berselingkuh, dll. Ternyata, seluas itu pemahaman yang kudapatkan dan sebesar itu juga perubahan pemahaman yang kudapatkan dalam beberapa tahun terakhir.
Bahkan, ketika semua itu terjadi begitu dekat. Pada teman-teman seusiaku, bahkan saya hadir dalam hari pernikahan mereka. Tidak sampai dua tahun, rumah tangganya sudah tidak berlanjut. Bahkan beberapa di antara mereka sempat mengumbar kebahagiaan dan romantismenya di awal menikah, semua unggahan itu sudah hilang. Ada yang sesama aktivis, kami sempat bertemu selang beberapa hari mereka menikah, hari ini sudah berpisah. Bahkan saya hampir saja harus ikut turun tangan dalam rumah tangga yang benar-benar akan hancur, untung tidak jadi. Tidak jadi turun tangan. Tapi rumah tangganya sudah diputuskan bubar oleh pengadilan. Saya juga menjadi lebih terbuka dan realistis, sering berpesan kepada teman yang bertanya tentang pernikahan. Nasihat yang mungkin jarang didapatkan ditempat lain olehnya. Yang intinya, kalau rumah tangganya nanti ada di tahap ekstrem tidak bisa diselamatkan karena ada kekerasan, dan hal-hal yang benar-benar tidak bisa ditolerir dan setelah berbagai upaya tidak bisa diselamatkan. Jangan takut untuk memilih pilihan terakhir, cerai. Dengan segala risikonya. Tuhan hadirkan solusi itu bukan tanpa alasan, meski Dia sendiri membencinya. Tapi, Tuhan tahu bahwa ada hal-hal yang memang tidak bisa dipecahkan dengan solusi lainnya, selain bercerai. Pun perceraian itu tidak berarti kemudian kamu gagal menjalani rumah tangga. Kamu tetap memiliki kesempatan yang sama seperti orang lain, untuk membangun kembali rumah tangga dengan pasangan yang baru nanti. Dan kita, jangan pernah memandang sebelah mata atas rumah tangga orang yang berpisah. Kita mungkin tidak tahu siapa yang salah, apakah dia atau pasangannya. Kalau kita kebetulan tahu, siapa yang salah. Bantulah korbannya dengan menguatkannya.
Kalau rumah tangga kita, terjaga, harmonis, dan bisa utuh hingga saat ini. Bersyukurlah. Karena apa yang dimiliki ini, menjadi sesuatu yang mungkin sulit diperjuangkan oleh rumah tangga lainnya. Kalau kamu belum menikah dan mungkin nanti bertemu dengan seseorang yang kamu cintai dan ternyata “pernah menikah” terlebih dia pernah menjadi korban dalam pernikahan sebelumnya. Harapanku, kamu tidak melihat masa lalunya sebagai sebuah kecacatan yang mengerikan, dia pun tentu tidak menghendaki itu terjadi dalam hidupnya kan? Dan dia berhak memiliki kehidupan yang baik di kesempatan berikutnya. Kalau kemudian kamu mundur karena dia “pernah menikah”, jangan sakiti hatinya dengan menjadikan itu sebagai alasan utama kenapa kamu menghindarinya. Semakin dewasa, semakin banyak realita yang kutemukan. Pemahaman hidup ini semakin meluas, dan aku menjadi paham bahwa keutuhan rumah tangga itu memang perlu diperjuangkan oleh kedua belah pihak dalam rumah tangga tersebut, suami dan istri, tidak hanya salah satu. Dan kita perlu bantuan dari orang-orang terdekat kita, untuk membantu menjaga rumah tangga kita tetap dalam jalurnya. Semoga, anugerah berupa rumah tangga yang berjalan dengan baik tersebut tidak membuat kita merasa lebih tinggi dari teman-teman kita yang lain, yang mungkin tidak beruntung karena rumah tangga mereka ternyata harus karam di usia semuda ini. Semoga, kita menjadi semakin bijak dalam hidup. Aamiin. 6 April 2021 | ©kurniawangunadi









