Thanks, @PORTALKBR @HaloKBR sudah bantu siarkan #PapuaDaruratEmbunBeku. Semoga semakin banyak yang tergerak untuk menghangatkan saudara2 kita di Lanny Jaya, Puncak, dan Nduga. ☺ – View on Path.
The Bowery Presents
todays bird
Cosimo Galluzzi

Jimmy Eat World
Sade Olutola

Product Placement

Love Begins

roma★
hello vonnie

❣ Chile in a Photography ❣
untitled

Kiana Khansmith
𓃗

ellievsbear
The Bright Sessions
Cookie Run:Kingdom Official!
One Nice Bug Per Day
d e v o n

blake kathryn
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

seen from Singapore
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from Russia

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from Bangladesh

seen from Germany
seen from Türkiye

seen from United States
seen from Brazil

seen from Türkiye

seen from Pakistan

seen from Bangladesh
seen from Netherlands

seen from United States
seen from India
seen from Ecuador
@someoneorange
Thanks, @PORTALKBR @HaloKBR sudah bantu siarkan #PapuaDaruratEmbunBeku. Semoga semakin banyak yang tergerak untuk menghangatkan saudara2 kita di Lanny Jaya, Puncak, dan Nduga. ☺ – View on Path.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Why do you like the colour Orange? I dislike it a lot. Can I become Indonesian and you Dutch, because I like red and white.
Wow. Why do you dislike orange? Orange is bright, inspiring.. sunrise and sunset are orange, even sun chooses this color to start every morning and say good bye every afternoon. Orange is about spirit. Orange is freedom.Wah, you like red and white, yes it is so Indonesia! Yes you can love this country as well as I like Netherlands because I love orange. Hehe.
E-mail Penuh Arti
Tadinya saya berencana untuk menghitung tanggal sampai tanggal 14, kemudian pura-pura lupa kalau setelah itu adalah tanggal 15, lalu pura-pura cuek dan baru akan membuka e-mail pada malam harinya -- setelah seharian berusaha tak acuh dan mendatarkan ekspektasi.
Kemudian dengan perasaan datar dan tanpa ekspektasi tersebut, saya akan membaca e-mail pengumuman seperti layaknya membaca pengumuman milis yang berlalu lalang di e-mail setiap harinya. Tanpa kepentingan. Tanpa harapan. Tanpa kekecewaan terhadap apapun isinya.
Tapi semua rencana itu tak pernah berjalan, bersama dengan rencana lainnya yang juga tak sempat berjalan, seperti menetapkan nazar yang akan saya lakukan jika saya lolos seleksi beasiswa ini. Sore itu, tanggal 10, saat sedang di ruang tamu menunggu Dhinda turun ke bawah membawa buku pelajarannya, saya melihat notifikasi e-mail di layar ponsel saya. Dari LPDP Beasiswa.
Saya tidak merasakan apa-apa saat melihatnya. Saya pikir ini hanya semacam newsletter tentang beasiswa LPDP, maklum, sudah setahun belakangan ini saya memang berlangganan beberapa newsletter tentang beasiswa dan perkuliahan, seperti IDP dan British Council. Saya pun menyentuh notifikasi itu tanpa perasaan apa-apa, dan membaca isi e-mail tersebut dengan sekilas.
“
Berdasarkan Keputusan... Kami beritahukan bahwa Anda telah dinyatakan
LULUS
seleksi substansi (informasi status kelulusan dapat dilihat pada akun online pendaftaran masing-masing), untuk proses selanjutnya...
“
Saya berhenti sejenak, kemudian mengulang membacanya dengan scrolling lebih lambat. Masih tidak paham dengan kata “seleksi substansi”, kemudian saya meng-screencapture halaman itu dan menanyakannya pada Halimah via WhatsApp.
Dari Halimah barulah saya tahu, pengumuman memang sudah maju 5 hari dari yang tertulis di informasi jadwal di website. Saya speechless.
***
Saya dapat jadwal seleksi substansi selama satu hari penuh, tanggal 11 November 2015. Itu adalah hari pertama seleksi substansi beasiswa LPDP di seluruh Indonesia periode itu, dan saya mendapatkan “rezeki” tersebut. Seharian full pula. Tak sempat lagi berbenah mental, belum ada pula yang bisa ditanya-tanya, terutama terkait bocoran topik essay dan LGD. Siap tidak siap, saya harus siap.
Tapi sebenarnya ada baiknya juga dapat jadwal hari pertama. Para interviewer itu pasti masih fresh-fresh, mereka baru mulai kembali mengeksplorasi setelah beberapa bulan yang lalu periode 3 dilangsungkan. Seharusnya ini sesuatu yang patut disyukuri, ya. *asumsi, menghibur diri :P
Jadwal pertama adalah verifikasi berkas. Jam 8 pagi. Aw. Saya berangkat dari rumah jam setengah 6, dan sampai di UNJ jam 6 lewat dikit. Sumpah kepagian.
Tapi mendingan kepagian deh daripada kesiangan. Kalau saya berangkat mundur sedikit, mungkin jalanan udah nggak lancar lagi kayak tadi, mungkin Pasar Minggu-Rawamangun nggak mungkin ditempuh dalam waktu 45 menitan.
Alhasil sampai di sana saya melanjutkan tidur kenalan sama pendaftar lain. Ada Mba Ciku Indonesia Mengajar mau mendaftar beasiswa S3. Wah, semakin sadarlah bahwa saat itu saya sedang berada di sebuah seleksi luar biasa.
Setelah verifikasi, jadwal selanjutnya adalah wawancara jam 11.
***
Saya memasuki sebuah ruangan besar dengan belasan meja di sekelilingnya, masing-masing dengan 3 orang interviewer. Saya dipanggil ke meja nomor 3. Wawancara pun dimulai.
Kebiasaan buruk saya kembali terjadi, saya gagal mengingat nama-nama interviewer tersebut. Tapi sesuatu membuat saya tidak mungkin melupakan salah satunya: salah satu interviewernya adalah dosen FKM UI. Beliau duduk di tengah.
Proses wawancara diawali dengan perkenalan, termasuk motivasi. Di sinilah sepertinya interviewer punya bahan untuk penggalian selanjutnya. Saya ditanya mau ke mana, apa keunggulan riset di kampus yang saya tuju (pertanian, soalnya banyak anak IPB ngincer kuliah di sana); dan mengapa memilih studi di luar negeri alih-alih di Indonesia. Jawaban saya untuk yang satu ini standard: memperluas jaringan, ditambah dengan merantau mumpung masih muda (duh, ini salah banget kayaknya. Kesannya pengen jalan-jalan banget, nggak, sih? :P), dan memahirkan Bahasa Inggris. Saya ngaku kalau Bahasa Inggris saya masih sangat pas-pasan, IELTS saya cuma 6,5. Interviewer pun berkomentar, “Dulu ada cerita begini, seseorang ditanya gimana bisa hidup kalau Bahasa Inggris pas-pasan. Dia jawab, ......... (ini saya gagal nangkep, makanya akhirnya cuma cengar-cengir aja denger cerita ini) aja bisa hidup meskipun Bahasa Inggrisnya pas-pasan.” Dan bengonglah saya, berusaha menangkap apa kaitannya dengan tantangan survival saya saat kuliah nanti. XD
Habis itu saya diwawancara Pak Budi. Di sinilah saya habis! Ada pertanyaan yang eksplorasinya sampai 3x pingpong. Pak Budi nanya, saya jelasin. Beliau nanya lagi, saya jelasin (yang hampir ngulang, dengan berusaha meyakinkan). Beliau tanya lagi (pertanyaan dan keraguannya sama. Beliau benar-benar masih nggak yakin), saya jawab lagi (dan ngulang lagi. Gagal meyakinkan, kayaknya).
Pertanyaan “mbulet” macam apakah itu?
Beliau nanya mau ngapain saya habis studi.
Ini pertanyaan yang saya antisipasi dari kemarin, tapi sebenarnya gagal saya temukan antisipasi-jawabannya. Saya nggak punya niat jadi PNS Kemenkes. Saya nggak punya niat jadi dosen atau guru besar. Saya cuma tau saya mau bermanfaat bagi masyarakat, khususnya yang kurang terdidik.
Naif.
Dan habislah saya di situ. Beliau bilang (disertai anggukan keras dari interviewer ketiga), “Kamu ini sebenernya berpotensi, lho. Tapi sayang belum jelas begini pengabdian pascakampusnya. Kamu tahu, kan, LPDP ngasih uang puluhan juta buat awardee-nya? Kan sayang kalo kita kasih ke kamu tapi ilmunya nggak bermanfaat nantinya karena berhenti sampai di kamu.”
Saya menjawabnya bahwa saya tidak akan menyia-nyiakan ilmu dan PASTI akan berusaha untuk membaginya. Saya akan share ke mahasiswa di kampus saya seperti sekarang, di mana saya berkesempatan mengajar di kelas tapi ilmu saya terbatas (that’s why saya butuh menuntut ilmu lebih luas dan dalam lagi), saya akan terapkan, saya akan berkolaborasi sebanyak yang saya bisa.
Beliau jawab lagi, “Itu artinya kamu sendiri, dong? Nggak punya wadah, nggak punya lembaga. Susah kalo kamu sendiri.”
Dalem hati saya jawab, iya bener, Pak, SUSAH. >_<
Beliau juga menambahkan, “Kalau kamu bilang mau ngajar di kampus, belum tentu nanti kamu dapet tempat buat ngajar.”
Yah, Pak, kalo itu sih saya emang nggak bisa jamin. Saya berencana mau bekerja di mana pun, saya nggak akan bisa jamin saya bakal dapet tempat di tempat kerja itu. :(
Begitulah saya pingpong dengan Pak Budi. Sampai TIGA KALI, dan menurut saya nggak tuntas. Saya sampai pengen ngomong, beri saya kesempatan meyakinkan Bapak sekali lagi, tapi saya urungkan. Saya pasrah aja kalau itu jadi poin catatan yang bikin saya nggak layak menerima beasiswa ini.
Pak Budi mencukupkan, kemudian beralih ke interviewer ketiga, beliau seorang perempuan. Wajahnya agak galak, tapi ternyata justru lembut sekali. Ah, mungkin beliau kasian ngeliat saya sama Pak Budi barusan. XD
Saya duga beliau seorang psikolog. Bagian beliau adalah bertanya pertanyaan psikologis. Dan saya kena, sebuah pertanyaan yang nggak saya antisipasi sama sekali.
Apa masa terberat dalam hidup kamu?
Karena nggak mempersiapkan pertanyaan semacam ini, otak saya pun berputar cepat. Saya melirik alat perekam dan melihat angka 50:00 di sana. Wawancara sudah hampir satu jam!
Ada satu kejadian berat dalam hidup yang terlintas saat itu, yaitu saat saya skripsi. Perjuangan skripsi saya yang dimentahkan 3x sama dosen pembimbing (katanya ketinggian, buat S2 aja), nyusun sampe BAB 4 kemudian ditolak dengan satu kali pertemuan, bikin lagi sampe BAB 4 kemudian ditolak lagi, sampai H-2 minggu penutupan pendaftaran sidang skripsi. Sampai pas akhirnya berhasil sidang, sama dosen pembimbing TETAP disuruh ngulang lagi!
Tapi ya kali saya cerita yang itu? Bisa-bisa wawancara akan berlangsung pingpong 3 kali lagi dengan cecaran yang tak bisa dielakkan: kalau skripsi aja kamu kayak gitu gimana nanti pas tesis? Di luar negeri pula. Dengan bahasa asing pula. Jauh dari keluarga pula!
Nggak bisa, nggak bisa, saya nggak bisa cerita yang itu!
Tapi yang mana lagi? Masa yang... itu...?
(note: pergolakan batin ini berlangsung selama kurang dari 15 detik, slow motion aja ceritanya)
Nggak ada waktu lagi, mau nggak mau saya cerita “yang itu”.
Cerita ini sebenarnya nggak pengen saya ceritain, tapi meluncur begitu saja dari mulut saya (insting menyelamatkan waktu). Cerita itu adalah cerita waktu saya beranjak dewasa, ketika saya masih menjadi anak super pendiam dan super minder karena nggak punya apa yang dipunyai teman-teman saya yang kaya-kaya, sampai akhirnya prestasi saya menurun, dan saya masuk sekolah tidak unggulan karena nilai pas-pasan tersebut. Saking mindernya, saya sampai... *cukup, segitu aja dishare di sininya*
Saya nyaris nggak percaya, ternyata saya menceritakan cerita yang sudah saya kubur bertahun-tahun ini kepada mereka.
Ibu interviewer sampai bertanya, apakah itu adalah salah satu yang memotivasi kamu dalam menjadi “teman” bagi anak-anak kurang beruntung?
Saya berusaha, sangat berusaha untuk tidak menangis, tapi gagal. Mata saya akhirnya tetap berkaca-kaca.
Ibu ini berhasil menggali bagian terberat dalam hidup saya.
Beliau terus bertanya mengenai hidup dan motivasi hidup, mengenai panggilan hati saya, mengenai bagaimana konflik saat saya menjalankan amanah sebagai kadep kesma, mengenai pelajaran apa yang saya dapat saat menjadi pengajar muda, mengenai value dan prinsip hidup saya, mengenai tekad saya untuk Indonesia...
dan di akhir beliau bertanya sesuatu yang tidak saya duga.
Apa yang kira-kira bisa menghentikan saya dari melakukan itu semua.
Saya sampai mengonfirmasi maksud pertanyaan tersebut dengan meminta beliau mengulang pertanyaan, dan beliau mengulangnya, “Apa yang bisa menghentikan kamu dari melakukan semua perjuangan dan tekad ini?”
Saya speechless. Saya sungguh tak menyangka beliau mengajak hati berbicara sedalam ini.
Meluncur begitu saja. Ajal.
Wawancara berakhir. Hampir satu setengah jam, dari 40 menit yang dijadwalkan. Semuana in Bahasa Indonesia, nggak ada sepatah kata pun yang in english.
***
Writing on the spot adalah bagian yang paling saya cemasi, karena jika saya kebetulan mendapat isu yang sayanya blank, habislah saya. Kebaca banget di essaynya, malu sebagai akademisi. Itu sebabnya seminggu sebelum ini saya membeli koran dan membaca isu terkini. Namun ternyata yang keluar adalah isu retoris umum: (1) hukuman mati bagi pengedar narkoba dan kejahatan berat; serta (2) dampak globalisasi.
Saya kurang paham opsi tema kedua, sementara untuk opsi tema pertama sebenarnya masih belum yakin, karena hukuman mati rasanya masih sulit saya bayangkan. Tapi tangan saya telah memulai baris pertama, saya menulis opsi tema pertama. Saya tak percaya, untuk pertama kalinya saya menyatakan secara tertulis bahwa saya setuju dengan hukuman mati! Mencabut nyawa orang! Menghentikan kesempatan bertaubatnya!
Saya menulis persis seperti struktur essay IELTS writing task 2: paragraf pertama pembuka yang terdiri dari 4 kalimat (background 1, background 2, thesis statement, outline), paragraf kedua berisi penjelasan outline 1, paragraf ketiga berisi penjelasan outline 2, paragraf keempat berisi penutupan yang terdiri dari 4 kalimat (conclusion, re-thesis statement, saran 1, saran 2).
Outline saya hanya 2: kejahatan pengedaran narkoba dan kejahatan berat (di sini saya ambil kejahatan seksual pada anak) sendiri melanggar HAM sehingga tidaklah relevan pendapat kita jika kita menolak hukuman mati demi menjaga HAM para pelaku yang perbuatannya melanggar HAM korbannya; dan yang kedua bahwa pengedaran narkoba dan kejahatan seksual pada anak merusak generasi penerus bangsa.
Itu saja. Mengalir. Terasa sekali Allah memudahkan otak saya bekerja saat itu. Outline pertama bahkan saya sendiri tidak menduganya bahwa saya akan “menemukannya” saat menulis.
Fabiayyi ‘alaa ‘irabbikumaa tukadzdzibaan..
***
LGD mepet sekali dengan essay, saya terpaksa menunda shalat ashar karena essay sendiri mulai sebelum adzan ashar, sementara LGD-nya bisa dikatakan nyaris langsung, meskipun cukup lama juga kami menunggu bersama di ruang tunggu. Ada 9 orang dalam kelompok saya. Saat di ruang tunggu, kami menyusun rencana siapa yang jadi moderator dan bagaimana alurnya. Ada seorang anggota kelompok yang ternyata sudah berpengalaman LGD periode sebelumnya. Beliau sharing tentang LGD, namun ketika diminta menjadi moderator beliau menolak (I see, mungkin beliau sudah lihat sendiri bahwa tugas moderator tidaklah enak). Akhirnya salah satu anggota yang dituakanlah yang jadi pengarah (beliau lebih suka disebut sebagai notulen). Alur pun disepakati berurutan pada putaran pertama, lalu alamiah pada putaran kedua dan ketiga.
LGD pun dimulai. Saya duduk di ujung. Orang pertama sudah memberi pendapat. Lalu orang kedua. Lalu orang ketiga. Saya menunggu giliran saya. Sampai sudah 8 orang bicara, saya pikir habis itu giliran saya, tapi ternyata ada yang menanggapi. Ah baiklah, tak apa alamiah dulu. Lalu ditanggapi lagi. Mereka pingpong, dan saya bengong.
Saya tak berani menyelak karena saya harus memperhatikan attitude. Tapi diskusi ini benar-benar berlangsung dengan “improvisasi” sampai tiba-tiba salah seorang mengambil kesimpulan.
Beliau adalah orang berpengalaman tadi, yang menolak menjadi moderator tadi.
Saya pasrah.
Untungnya di akhir ada yang ingat bahwa saya belum bicara. Namun bodohnya saya, saya menyambut tawaran bicara tersebut dengan berkata, “Boleh saya ikut bicara juga?”
Ya boleh, lah, dodooool! Pake nanya segala. Ketauan banget isi kepala lo dari tadi minta diizinin ikut bicara!
Kadung meluncur, saya melanjutkan dengan pendapat saya. Oh iya, soalnya adalah membuat usulan kepada pemerintah agar bencana asap tidak terulang lagi setiap tahunnya. Semua ide soal memperhatikan kontrak kepada perusahaan dan sebagainya sudah keluar, saya menambahkan agar pemerintah meninjau ulang kontrak yang sudah dibuat, bukan hanya berhati-hati terhadap kontrak baru.
Alhamdulillah. Nggak mati gaya-mati gaya amat. Allah menyelamatkan. Teman-temannya juga baik. >_<
***
Pulang dari sana sudah malam. Saya pasrah. Saya punya 3 alasan yang masuk akal jika saya tidak lulus. Di sesi wawancara saya “habis” di pengabdian pascakampus. Di sesi essay saya “sok tau” mendukung hukuman mati di negara mayoritas muslim. Di sesi LGD saya bengong dan mengatakan kalimat pembuka yang mungkin akan membuat psikolog menilai negatif diri saya.
Tapi Halimah mengingatkan, banyakin sedekah, Dha. Orang-orang juga mengingatkan, banyak-banyak shalat malam. Saya diingatkan bahwa saya masih punya Allah, yang Maha Menentukan.
Dan hari itu, e-mail itu membuktikan bahwa Allah memang Maha Kuasa, Maha Baik, Maha Pemurah. E-mail itu juga menegaskan bahwa berputus asa adalah sangat-sangat tidak layak untuk dilakukan, karena kita punya Allah, dan Allah bisa melakukan apapun yang Ia kehendaki.
Fabiayyi ‘alaa ‘irabbikumaa tukadzdzibaan..
😢 😭 with Wilis – View on Path.
Baper FIM
Sesi presentasi Bang Ivan Ahda tentang Forum Indonesia Muda di acara DD hari ini mendadak bikin gw baper. Tiba-tiba gw menyadari, betapa beruntungnya gw diterima jadi anggota FIM 10 tahun 2011 lalu. Kalau gw baru mau daftar sekarang, rasanya gw nggak bakalan lolos seleksi dari 7000-an pendaftar yang ajib-ajib itu. Udah jelas bahwa mereka yang berhasil lolos seleksi di FIM angkatan belasan ini pasti keren-keren banget. Seleksinya ketat dan mendalam sekali. 😓 Gw juga semacam baru (tambah) sadar bahwa di FIM gw ketemu banyak orang-orang hebat di bidangnya masing-masing. Well, nggak literally ketemu juga, sih. Tapi yang jelas satu keluarga sama mereka. Hebat dalam prestasi, hebat dalam etos kerja, hebat dalam inisiasi, hebat dalam mempertahankan integritas, hebat dalam mewujudkan jargon FIM: Aku untuk Bangsaku! Udah nggak heran lagi kalo lagi ikutan konferensi atau pelatihan atau seminar lalu ketemu alumni FIM. FIM juga mempertemukan (dan melatih) para anggotanya dengan value yang sama. Mungkin ini yang menjawab kenapa pelatihan FIM yang cuma 5 hari bisa bikin anggotanya kayak keluarga yang udah hidup bareng selama bertahun-tahun. Langkahin aja kaki ke mana pun di negeri ini, selama ada anak FIM di situ, nggak perlu khawatir bakal jadi gelandangan karena nggak tau mau nginep di mana. Helpful sekali. Mungkin sekali2nya itu nggak terjadi adalah saat gw ke Bandung bulan Juli lalu. Anak FIM Kece-nya lagi pada ke luar kota buat kondangan anak FIM. (Tuh, satu lagi. Ada anak FIM nikah di luar kota juga temen2 FIM-nya bela2in sama buat hadir.) Selain jadi panitia nikahan dan supporter bagi yang masih jomblo (salah satu komunitas yang menaungi ini adalah IKEJI), anak2 FIM juga selalu kongkow bareng dalam berbagai agenda yang mereka inisiasi sendiri. Mulai dari diskusi via Whatsapp (called as FIM Club or FC, sampai saat ini ada 14 FC kalo nggak salah) sampe bikin pelatihan ISUnite. Semuanya nggak pake dikomandoin sama pembinanya. Jalan aja, gitu. Cair aja. Beberapa FC udah sampe rilis tulisan hasil diskusi bahkan sampe bikin seminar. Ajib. Dan tiba-tiba gw menyadari, udah lama banget ternyata gw nggak involve sama mereka. Sejak gw ganti nomor hampir setahun yang lalu, gw belum masuk FC lagi. Gw juga baru masuk grup WA regional sekitar 2-3 bulanan ini. Dan gw udah lama sekali nggak kerja sama2 mereka. Sejak gw failed mengelola sesuatu yang gw inisiasi sendiri dan itu bawa2 nama FIM, gw mundur dan nggak berani lagi nampakin diri di depan mereka. Malu setengah mati. Gw merasa nggak kompeten lagi ikut2 berbagai hal yang diinisiasi FIM. Dan sejak saat itu, gw nggak update lagi soal FIM. Paling berani dateng pas malam penutupan pelatihan FIM. Lalu hari ini ke-baper-an gw membuat gw mem-baper ulang (apa, sih :P). Gw nggak tau gw siap atau enggak involve intens lagi sama orang2 hebat itu. Tapi yang pasti, rasanya gw butuh charge dari mereka. Mereka yang gw nge-fans-berat-in. … Pak Elmir yang penuh dengan nasihat2 terpendam. ☺ Bunda Tatty yang bijak dan mengayomi. (Salah satu kalimatnya yang paling gw inget adalah “Ridha nggak boleh nikah dulu selama masih menolak setiap pelukan." 😩) Bang Ivan Ahda yang skill manajemennya menakjubkan. 😮 Mbaleb yang jadi salah satu orang paling enak buat diajak ngobrol sedunia bagi gw. 😘 Kak Jet-C yang nggak ada habis2nya menggali keetnikan nusantara. 🙆 Mandira yang udah keliling dunia dan geliatnya luar biasa. Siapa berani jadi pangeran ke-3 Rawamangun? Berani taklukan anak ini? 😋 Rona Mentari calon ibu yang pandai mendongeng dan jadi inceran banyak cowok. 😚 Agus Taufiq yang menurut gw FIM beruntung banget bisa dapetin dia sebagai anak FIM. 🙉 Masgun artis tumblr yang nyeni dan terkenal duluan sebelum masuk FIM. 😚 Bening yang serius sebagai anak sains tapi ternyata orangnya lucu. 😁 Dhay yang jadi orang penting di balik Dejapu. 😙 Danar high quality jomblo dan pengetahuannya luas sekali tapi betah banget jadi anggota IKEJI. :P Ario yang emotional quotientnya tinggi sekali (sumpah, ini anak lucunya cerdas banget!). 😃 Andreas Senjaya yang bisnisnya membanggakan banget menurut gw. ☺ Ibam ketua angkatan kebanggan gw yang kayaknya kenal semua orang penting di Bandung. 🙋 Al Hafi yang mengelola ratusan niat2 baik orang Indonesia melalui Kreanovator. 😉 Timmy yang kitabisa-nya kayaknya udah dikenal hampir semua aktivis sosial di Indonesia (at least pernah denger). 😃 Ibnu pemuda kalem tapi diem2 analisis geopolitiknya tajam. 😏 Jali yang oke banget ngelola FIM Dejapunya. 😀 Danfer yang inisiatif Vol-D-nya inspiratif. 😄 Bang Adil yang – astaga, gaul tapi tetap di-tua-kan di antara kita. 😂 Scientia Afifah yang bikin introspeksi diri kalo melihat keshalihahannya. 🙈 Putri Novelia yang kayaknya udah banyak yang ngincer juga. 🙊 Nahla yang ketemu gw pas masih polos sebagai maba tapi sekarang pengalamannya udah jauh melampaui gw. 👧 Dadi yang suka diceng2in IKEJI tapi sebenernya berintegritas tinggi. 😌 Bang Sule yang bikin gw mikir dari banyak sisi kalo lagi mengkritik pemerintah atau fenomena sosial. 😉 Naimah yang sederhana dan nggak pernah ngerepotin orang. Nai, gw kangen ngerumbel sama loo. :* Kenny yang studi dan penelitiannya sampe ke Jepang dan bikin gw takjub. 😮 Mastio yang kocak dan cerdas, tinggal nunggu akhwat terbaiknya aja ini, mah. 😃 Tyas Nastiti yang bisnis klastiknya menginspirasi wanita Indonesia. 😉 Dan semua aktivis2 FIM lainnya yang nggak bisa gw sebutin satu per satu karena keterbatasan gw.* … Iya gw ngaku. Gw baper banget tentang kalian malam ini (lupakan jurnal2 ilmiah itu semalam saja). 🙈🙈🙈 … *mungkin akan gw edit atau gw tambahkan lain waktu ☺

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Halal bihalal BEM UI 2010. See ya next time! 😉 with Hafizh, Avina, dadi, Arya, Ikhlasul, Rieka, Cyindi, Choky, Wilis, Sakti, MIX, Hadi, Imaduddin, Danar, and Januardi at Mix Diner & Florist – View on Path.
Akhir2 ini setidaknya ada 4 perbincangan tentang papua: 1. Kritik peduli Palestine vs peduli Papua 2. Surat dari gereja tentang larangan lebaran dan berjilbab 3. Berita pembakaran masjid di Tolikara saat idul fitri 4. Bencana darurat embun beku di Lanny Jaya: hujan salju, krisis air, dan gagal panen Tinggal pilihan kita mau menanggapi kabar yang mana. Saya cuma mau melakukan yang terbaik untuk keduanya di poin pertama. Saya cuma bisa khusnudzon sama poin kedua. Saya percayakan pada pihak berwewenang untuk poin ketiga. Saya siaga untuk poin keempat. Jangan sampai berita kelima, keenam, ketujuh, dan seterusnya yang muncul adalah tentang konflik beragama, kekerasan, kematian ribuan penduduk di Jayawijaya, sampai pelepasan papua dari Nusantara. – View on Path.
Udah lama nggak ngamen. 😃 with Sri Gusni – View on Path.
Setelah 3 jam mengapung di atas papan surfing dan berburu ombak tinggi di tengah laut. Salam dari senja di Nemberalla! 😄 at Nembrala Beach – View on Path.
11° Lintang Selatan, pantai paling selatan di pulau paling selatan di Indonesia.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kisah klasik. – View on Path.
Denasa dan Ryo, dua dari tantangan terbesar untuk ditaklukkan, sangat menguji kreativitas mengajar dan kemampuan penguasaan kelas. 😂
Rocio, kalem dan memperhatikan dengan seksama tiap pelajaran math, mengerjakan latihan dengan serius, menggeleng jujur ketika belum berhasil memahami penjelasan, tersenyum cerah sambil mengangguk penuh semangat saat akhirnya berhasil memahami konsepnya. Dan, ah ya, Rocio selalu meniru aneka huruf yang saya ukir di papan tulis, persis. Miss Ridha miss you, Rocio.
Nggak bisa nggak tersenyum pas liat gambar ini lagi. 🙆 Rasanya masa kecil bahagia sekali hanya dengan berimajinasi, meski sebenernya orang dan jalan ceritanya itu2 aja. 😂 (Source: Tika)
LoLs. – View on Path.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sebelum bel masuk berdering. 👭👬
Dasar anak-anak, sama mainan harta karun-harta karunan aja mereka bisa sampe sebahagia itu. 🙉 Mereka hanya butuh hal sederhana untuk bahagia. ☺